Kerjasama antara Yayasan Pembela Tanah Air dengan Universitas Indonesia
Auditorium Gedung I, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya,
Kampus UI Depok, Universitas Indonesia
Senin, 30 November 2009
Dasar Pemikiran
Tidak banyak bangsa di dunia yang dalam mendapatkan kemerdekaannya diperjuangkan dengan waktu lama dan dengan pengorbanan begitu besar, seperti Indonesia. Indonesia bukan sekedar atau istilah melainkan sebuah konsep yang sarat dengan nilai yang diyakini dapat diwujudkan menjadi rumah kehidupan bagi masyarakat di wilayah yang begitu luas dan dengan budayanya yang sangat beragam. Meskipun istilah Indonesia sebagai konsep politik baru muncul dalam awal abad ke-20, jiwanya menjadi semangat bagi penduduk di kepulauan untuk membebaskan diri dari penindasan imperialisme dan kolonialisme dalam abad-abad sebelumnya. Orang pribumi yang hidup di dalam masa tersebut diposisikan pada lapis sosial terendah, yang dalam UU pemerintah kolonial mereka disebut sebagai "inlandsche" atau "inheemse bevolking".
Kondisi seperti itulah yang mendorong kaum pergerakan untuk mula-mula mengangkat derajat kemanusiaan, dan kemudian disuarakan melalui gerakan politik untuk mendapatkan kemerdekaan. Partai-partai dan gerakan politik di awal abad ke-20 yang didirikan untuk tujuan itu mengambil dua strategi: di dalam dan di luar Volksraad. Institusi itu menjadi wadah kaum pergerakan nasional yang dianggap efektif untuk menyuarakan kepentingan nasib bangsanya. Berbeda bagi mereka yang berpendapat sebaiknya. Namun demikian keduanya tidak berbeda di dalam mewujudkan tujuan pergerakan yakni bangsa Indonesia bebas dari penindasan imperialisme dan kolonialisme.
Ketika Perang Dunia Pertama meletus, kaum pergerakan di Volksraad menyuarakan keinginan agar anak jajahan dilibatkan dalam usaha mempertahankan negerinya dari kemungkinan Hindia terseret ke dalam perang tersebut. Pada tahun 1918 Budi Oetomo menyuarakan di dalam Volksraad agar orang di tanah jajahan diberi hak untuk mempertahankan negerinya dengan usulan disebut Indie Werbaar artinya "Hindia Berketahanan". Ide untuk mempertahankan atau semangat membela tanah air, setidaknya sejak itu mulai bergulir. Di masa kolonial Belanda, pemerintah tidak memberi kesempatan bagi anak negeri untuk membela tanah airnya. Mengapa, tentu saja karena mereka bukanlah seperti waga dari sebuah Negara yang merdeka.
Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah militer memperlihatkan perubahan dalam kebijakan kepada bangsa Indonesia. Pemerintah Jepang memberikan "kesempatan" kepada bangsa Indonesia dalam mempersiapkan diri untuk "kemerdekaan"nya. Tentu saja hal itu karena ada kepentingan Jepang untuk mendapatkan dukungan dan bantuan dalam menghadapi pasukan sekutu dalam Perang Pasifik. Seperti diketahui setelah serangan Jepang di Pearl Harbour, tentara Sekutu secara bertahap terus menekan Jepang di berbagai medan pertempuran. Keterdesakan dan kekalahan di berbagai medan pertempuran, mendorong Jepang memberi konsesi lebih besar baik dalam bidang politik dan pertahanan kepada di daerah pendudukan. Dalam bidang politik, Jepang memberi janji "kemerdekaan" melalui ucapan Perdana Menteri Koiso pada tahun 1943. Di bidang militer, Jepang melatih orang-orang Indonesia mulai dari apa yang disebut Seinendan, Keibodan, Heiho (Pembantu Tentara Jepang) sampai Tentara Pembela Tanah Air (PETA) untuk para pemuda Indonesia.
Terlepas dari kontroversi siapa yang mempunyai gagasan awal pembentukan tentara PETA, apakah dari pihak Indonesia atau Jepang, yang penting adalah bahwa peranan tentara PETA besar artinya bagi perjuangan kemerdekaan dan perkembangan bidang kemiliteran di Indonesia. Begitu pula dengan berbagai pendapat yang pada pokoknya berbeda mengenai apakah tentara PETA cikal bakal Tentara nasional Indonesia atau bukan. Apapun interpretasi mengenai PETA, peranannya tidak dapat dihapus dalam sejarah perjuangan kemerdekaan khususnya di bidang bersenjata dan pembentukan Tentara Nasional Indonesia.
Pada saat sekarang ini, sejumlah eskponen tentara PETA yang masih hidup ingin bertutur dan berkisah mengenai peranan mereka, tanpa bermaksud ingin mendapatkan pujian apalagi disebut sebagai pahlawan. Dan memang sebutan pahlawan hanya diberikan kepada mereka yang sudah tiada dan yang telah memenuhi persyaratan dalam perjuangan dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Peran PETA dalam proses nation-building pada umumnya dan pembentukan TNI pada khususnya perlu disosialisasikan melalui kurikulum pengajaran sejarah baik di perguruan tinggi maupun sekolah menengah atas. Oleh karena itu, UI selaku institusi pendidikan tinggi yang paling bergengsi di Indonesia patut dan harus mengambil peran sentral dalam diskusi akademik mengenai peran PETA di awal-awal pembentukan republik ini.
Diskusi akademik yang diadakan di UI merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dari UI untuk menumbuhkembangkan kesadaran sejarah dan rasa cinta tanah air yang kuat. Terlebih lagi, UI ternyata juga memiliki hubungan yang erat dengan lahirnya badan keamanan rakyat (BKR) yang kemudian menjelma menjadi tentara nasional Indonesia (TNI). Seorang mahasiswa Ikada Daikagu (Fakultas Kedokteran UI dulu) bernama Soebianto Djojohadikusumo adalah salah satu utusan yang menemui wakil presiden Hatta guna mengusulkan pembentukan angkatan perang republik Indonesia dari kurang lebih 480.000 tentara PETA.
Beberapa kali seminar mengenai peranan tentara PETA telah diselenggarakan. Kali ini kegiatan yang diselenggarakan bukan dalam bentuk seminar, untuk membicarakan hal-hal baru, melainkan "sarasehan". Sarasehan pada konteks ini adalah untuk mendengarkan pembicara para pakar mengenai suatu pokok bahasan tertentu. Lebih khusus tujuan sarasehan adalah untuk membicarakan topik dengan kerangka memperoleh pemahaman mengenai peranan tentara Pembela Tanah Air dalam sejarah Indonesia.
Sarasehan diselenggarakan: pada hari Senin, tanggal 30 November 2009 di Auditorium Gedung I, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Kampus Universitas Indonesia, Depok.
Pembicara:
1.Letjend (Pur) Purbo Suwondo (Mantan Shodancho) :"Pembentukan dan Peranan Tentara PETA dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia".
2.Bapak Oetarjo (Sesepuh YAPETA).
Pembahas:
1.Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum (Guru Besar Sejarah FIB UI).
2.Dr. Kol. (Purn.) Saleh As`ad Djamhari (Pusat Sejarah ABRI / Departemen Sejarah FIB UI).
3.Mona Lohanda, M.Phil. (Arsip Nasional Republik Indonesia).
4.Ki Utomo Darmadi (adik Supriyadi).
Tujuan:
1.Memperoleh pemahaman mengenai peranan Tentara Peta dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
2.Menumbuhkembangkan semangat dan nilai-nilai perjuangan bangsa kepada generasi muda.
3.Mengusulkan agar peranan tentara Peta secara proporsional dimasukkan di dalam buku pelajaran sejarah di sekolah.
Peserta: Dosen, mahasiswa, guru sejarah, siswa, masyarakat umum (seluruhnya kurang lebih 200 orang).