Indeks Berita


Reformasi Budaya di Universitas Indonesia

Posted by admin on 2005-04-26 09:54:35

Pada tanggal 2 Februari 2005 Universitas Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-55. Di usianya yang ke-55, UI tentunya bukan lagi sebuah universitas yang genit dan lincah bergerak.Sudah barang tentu UI juga telah berubah menjadi sebuah lembaga yang beberapa bagiannya mulai mengalami penyakit ketuaan. Beberapa bagian memang sudah cukup dinamis. Dan terkesan “muda”. UI juga masih sangat digemari pasar dan masih sangat dihormati. Tapi pesaing-pesaing baru terus berdatangan. Mereka bukan cuma membawa modal, teknologi dan berlokasi strategis. Melainkan juga membawa aliansi dari sekolah-sekolah unggulan internasional.

Sementara mengadopsi nilai-nilai baru dan teknologi baru, nilai-nilai lama belum dapat dihilangkan begitu saja. Nilai-nilai lama itu sebagian masih sangat cocok dengan kebutuhan jaman, tetapi sebagian lagi dapat menyulitkan. Kalau ini dibiarkan, UI tentu akan menghadapi banyak kesulitan. Dan pada akhirnya ia bisa saja ditinggalkan oleh benih-benih unggul yang dating dari seluruh negeri. Itulah sebabnya, Rektor UI Prof.dr.Usman Chatib Warsa, Sp.MK, Ph.D, akan mencanangkan tahun 2005 sebagai dimulainya reformasi budaya.

Mengapa reformasi budaya? “Kami sudah melakukan reformasi struktural sehingga secara organisasi UI telah berubah menjadi lebih dinamis. Tapi, untuk melakukan transformasi dari bureaucratic university menjadi corporate university perubahan structural saja tidak cukup. Itulah sebabnya kita harus masuk pada perubahan cultural, khususnya budaya korporat, agar seluruh sivitas akademika bekerja dengan nilai-nilai baru yang cocok dengan tuntutan jaman,” ujarnya. Maka itu perubahan ini harus cukup berani, bukan sekadar slogan belaka. “Kalau kita tak menghendaki terjadinya revolusi maka kita wajib mereformasi diri,” ujarnya lagi.

Secara struktural memang sudah banyak yang dilakukan oleh UI. Sejak diberlakukan sebagai BHMN (Badan Hukum Milik Negara) pada akhir tahun 2000, UI telah melakukan serangkaian perubahan. Menurut ketentuan BHMN, pada tahun 2010 tidak akan ada lagi dosen berstatus pegawainegeri sipil. Semuanya adalah pegawai universitas. Demikian pula, pada tahun 2010 UI akan menjadi universitas riset. Untuk menjadi rektor dan dekan pun ditekankan adanya jiwa kewirausahaan. Maka mekanisme pemilihan rektor dan dekan telah disempurnakan. Dekan-dekan tidak lagi dipilih melalui election melainkan melalui proses seleksi. Dibentuk pula lembaga-lembaga baru seperti Majelis Wali Amanat, yang memberikan arah masa depan UI secara non akademik. Organisasi-organisasi juga mulai dibenahi. Mulai dipisahkan antara commercial ventures dengan noncommercial ventures. Selanjutnya, sistem informasi keuangan mulai diintegrasikan. Setelah ini selesai, UI mulai membentuk budaya korporat baru.

Penggalian nilai-nilai itu dilakukan oleh Lembaga Psikologi terapan UI dengan arahan dari sejumlah ahli di Universitas Indonesia. Kelak nilai-nilai ini akan sangat mewarnai perilaku dan sikap para pengajar, peneliti, pengelola lembaga, karyawan dan tentu saja mahasiswa. Tentu saja dalam penanaman nilai-nilai baru diperlukan change management. Dan mudah-mudahan bisa segera terlihat UI yang baru, yang lebih kritis, profesional dan dinamis. (diambil dari buku Change).