Mesjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kegiatan Shalat Hari Raya Idul Adha 1430 H di Kampus Depok Jum'at pagi (27/11), dihadiri oleh sekitar 6000 jamaah. Bertindak sebagai khotib yang memberikan khutbah Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Bambang Wispriyono,Ph.D. Judul Khutbah yang disampaikan "Hikmah Pengorbanan Nabi Ibrahim as.".
Berikut ini adalah ringkasan khutbah yang disampaikan oleh Bambang Wispriyono, Ph.D. Kita sering mendengar kisah Nabi Ibrahim as yang mendapat wahyu untuk menyembelih anaknya, Ismail yang sudah menjadi pengetahuan umum. Hikmah atau pelajaran apa yang dapat kita tarik dari peristiwa tersebut?
Pertama, sebagai seorang mukmin kita tidak akan dibiarkan mengaku beriman begitu saja tanpa diuji oleh Tuhan. Bahkan seorang Nabi pun tidak luput dari ujian itu. Suatu ujian yang amat berat. Adakah ujian yang lebih berat dari pada harus menyembelih anak sendiri. Terhadap kita ada dua macam ujian Tuhan, yaitu berupa nikmat dan berupa musibah.
Pelajaran kedua, dari pengorbanan Nabi Ibrahim AS menyangkut niat (motivasi) dalam beribadah. Para mubaligh mengajarkan agar kita ikhlas dalam beribadah, artinya semata-mata mengharapkan ridha Allah swt, tidak dicampuri motivasi lain. Niat yang ikhlas itulah yang mendorong Nabi Ibrahim as sampai tega menyembelih anak sendiri. Atas dasar niat yang ikhlas itu pulalah Tuhan mengembalikan kepada sang pemilik nikmat yang nyaris luput darinya itu.
Pelajaran ketiga berkaitan dengan hubungan antara bapak dan anak. Ketika Nabi Ibrahim as memberitahukan kepada Ismail tentang penyembelihan itu, sang anak pasrah, tanpa memperlihatkan sikap penolakan. Al Qur'an juga menyebutkan, kedua anak beranak itu kemudian bahu membahu membangun Ka'bah yang menjadi kiblat umat Islam. Ini terjadi karena sang anak memahami benar maksud ayat Al Qur'an yang artinya sebagai berikut: "Dan sembahlah Allah, jangan persekutukan Dia dengan sesuatu apa pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu."
Berbuat baik kepada orang tua disenafaskan penyebutannya dengan beribadah kepada Tuhan, suatu indikasi betapa Tuhan memandang tinggi posisi orang tua di dalam keluarga. Posisi yang tinggi itu mengharuskan orang tua membentuk anak-anak berkepribadian muslim, yaitu anak-anak yang bertaqwa kepada Tuhan dan sekaligus berbakti kepadaNya. Kita menyebutnya anak yang shaleh. Nabi Ibrahim as berhasil membentuk anak yang saleh itu, terbukti dengan kepasrahan anaknya untuk disembelih sebagai pemenuhan perintah Tuhan, serta kerelaan anaknya membantunya membangun Ka'bah.
Dewasa ini, oleh beberapa faktor, tidak sedikit orang tua yang gagal membentuk anak-anak yang saleh itu. Terdapat anak-anak yang kurang menghormati orang tua bahkan ada yang tega membunuhnya. Terdapat kaum remaja yang terlibat tindak pidana kejahatan, pencurian kendaraan bermotor, misalnya. Sekitar 10 tahun lalu, di Jakarta, 70% pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa. Kini obat terlarang itu sudah masuk ke desa-desa dan bahkan pesanten. Berita lain yang mengejutkan adalah berita mengenai 50.000 anak-anak perempuan di bawah usia 16 tahun yang terlibat dunia pelacuran.
Kita seharusnya tidak hanya menyalahkan perilaku mereka akan tetapi juga melakukan mawas diri oleh karena mereka pertama-tama adalah produk dari lingkungan keluarga, baru kemudian lingkungan sosialnya. Maka perlu dipertanyakan apakah ada upaya kita membentuk keluarga yang harmonis dimana masing- masing anggota saling menghargai dan memahami posisi masing-masing? Apakah kita melakukan komunikasi dengan anak-anak untuk mengetahui masalah mereka dan mendiskusikan solusinya?
Seperti tahun-tahun lalu Idul Adha kali ini dirayakan oleh sebagian kaum muslimin dalam suasana prihatin. Puluhan juta orang menganggur dan puluhan juta orang pula hidup di bawah garis kemiskinan. Tanpa pekerjaan dan perut lapar orang bisa terdorong melakukan tindakan kejahatan. Keamanan masyarakat terusik sementara rasa aman merupakan salah satu kebutuhan manusia.
Negeri kita baru saja mengalami dampak negatif akibat krisis ekonomi global yang bermula di Amerika Serikat. Pengangguran dan kemiskinan yang belum terentaskan, adalah contoh krisis ekonomi itu. Tidak ada jalan lain bagi kita kecuali menegakkan hukum secara berkeadilan dalam mengelola negara. Pengangguran akan berkurang bila diciptakan lapangan kerja. Lapangan kerja tercipta bila dilakukan investasi. Modal dalam negeri tidak mencukupi guna melakukan investasi itu. Kita harus mengundang investor asing. Mereka akan datang bila setidaknya terpenuhi tiga syarat utama: infrastruktur yang memadai, keamanan yang terjamin serta kepastian hukum. Kepastian hukum terjadi bila hukum ditegakkan secara konsisten, berkeadilan tanpa pilih kasih. Dengan penjelasan singkat ini dapat disimpulkan, penegakkan hukum yang berkeadilan menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan pembangunan. (mrr)