“… Ya Tuhan kami, kami berusaha untuk melakukan kebajikan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata ini Semoga Engkau berikan kami, Keluarga Besar Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia, dengan pahala yang berlimpah yang tak ada putus-putusnya baik di dunia maupun di akhirat…”
Sepenggal doa dari Sandi S.Sos, salah satu pendamping pembimbing Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia ( K2N UI), menutup Penyambutan Rombongan K2N UI yang berjumlah 116 mahasiswa pada hari Kamis (02/09) di Balai Sidang Kampus Depok. Acara Penyambutan Rombongan K2N UI dihadiri Sekretaris Universitas, Prof. Dr. I Ketut Surajaya, M.A, Aster Mabes TNI Kolonel Suwondo, Direktur Kemahasiswaan Dr. Kamarudin beserta staf Direktorat Kemahasiswaan UI, dan beberapa dosen pembimbing K2N UI.Penyambutan Rombongan K2N UI merupakan bentuk penghargaan terhadap dedikasi mahasiswa UI kepada bangsa dalam rangka menjaga keutuhan wilayah NKRI. Dalam kesempatan ini Prof. Ketut, mewakili Rektor UI, menyatakan terima kasih kepada mahasiswa, dosen pembimbing, dan panitia K2N UI yang telah berhasil melaksanakan tugas dengan baik. Prof. Ketut juga mengharapkan K2N ini dievaluasi dan dipertajam lagi sehingga bisa menjadi kegiatan akademik yang mengakar. Kolonel Suwondo selaku perwakilan dari Aster TNI juga turut memberikan penghargaannya kepada rombongan K2N UI. TNI sangat bangga terhadap rombongan K2N UI karena dedikasi mereka yang nyata terhadap bangsa Indonesia. Menurutnya, para peserta K2N UI harus bangga terhadap prestasi mereka yang bisa mencapai titik terdepan NKRI karena ternyata tidak semua anggota TNI bisa seperti itu.Keberhasilan K2N UI tahun ini tak lepas dari peran panitia dan berbagai pihak yang mendukung. Meskipun ini adalah kali kedua UI mengadakan kegiatan yang serupa, namun ternyata tantangan yang dihadapi sejak sebelum keberangkatan sampai kepulangan jauh lebih besar dari tahun sebelumnya.Mengambil tema “Pulau-Pulau Terdepan dan Perbatasan”, UI mengambil 10 titik terdepan di NKRI sebagai tempat K2N tahun ini, yakni Sabang, Subi Kecil, Tanjung Dato’, Entikong, Sebatik, Rote Ndao, Selaru, Morotai, Merauke, dan Meos Befondi. Perjalanan menuju 10 titik tersebut bukanlah perjalanan yang mudah, dibutuhkan banyak konsultasi dan koordinasi, tidak saja dengan Pemda setempat namun juga dengan Mabes TNI. “Kami butuh transportasi darat, laut, dan kemungkinan kalau dalam keadaan darurat kami membutuhkan transportasi udara. Dan itu adalah kepunyaan TNI.” ungkap Sri Murni Ketua Pelaksana K2N UI.
Mendapatkan bantuan transportasi dari Mabes TNI tidak serta merta menjadikan perjalanan K2N mudah dan tanpa halangan. Pada hari keberangkatan yang seharusnya dilaksanakan serempak pada tanggal 1 Juli, Tim Befondi ditunda keberangkatannya karena faktor cuaca yang kurang mendukung saat itu. Bahkan rencana keberangkatan ke Pulau Miangas untuk melakukan evaluasi dari K2N sebelumnya terpaksa dibatalakan. “Kalau kami paksakan naik KRI, itu akan membebani BBM AL yang begitu besar karena sekali berlayar ke Miangas, BBM KRI menghabiskan dana setara dengan harga 1 buah Kijang Innova, kami tidak tega. Dan akhirnya kami putuskan untuk membatalkan perjalanan ke Pulau Miangas pada tahun ini.” jelas Sri Murni ketika mengungkapkan alasan pembatalan perjalanan ke Pulau Miangas.
Ketika sampai di 10 titik yang telah direncanakan, beberapa kendala juga masih ditemui oleh peserta, dosen pembimbing, dan panitia K2N UI. Masalah cuaca dan kondisi alam masih menjadi faktor utama dalam perjalanan K2N UI. Karena cuaca dan kondisi alam yang jauh berbeda dengan cuaca dan kondisi alam di tempat asal rombongan K2N UI, beberapa orang mahasiswa sempat mengalami panas, tidak enak badan, dan luka-luka yang cukup lama di daerah kaki. “Memang ada beberapa mahasiswa yang sakit, seperti panas dan tidak enak badan. Bahkan kaki saya sempat luka selama beberapa hari dan tidak sembuh, sepertinya sih, luka itu disebabkan oleh herpes, ” jelas Hardika Widi Satria, salah seorang peserta K2N UI 2010, ketika menjelaskan kondisi mahasiswa K2N UI. Pada saat itu Ia ditempatkan di Sebatik.Kendala lain yang dialami oleh rombongan K2N UI juga datang dari masyarakat sendiri, meskipun hal itu di luar dugaan. “Pernah suatu hari kami terpaksa membatalkan program yang seharusnya hari itu kami laksanakan, masalahnya bukan karena kami yang belum siap atau masyarakat yang tidak bisa diajak bekerja sama. Jadi pada saat itu ada seorang anak kecil di desa yang meninggal dunia, otomatis masyarakat ke rumah anak tersebut, dan seharian itu mereka seperti melakukan ritual pemakaman untuk anak tersebut.” Lanjut Hardika mengenai kondisi rombongan di Sebatik.Komunikasi pun sempat bermasalah karena kesepuluh titik K2N adalah tempat-tempat terujung di NKRI dan sebagian besar terletak di pedalaman, praktis handphone tidak bisa menangkap sinyal sama sekali. Sebenarnya panitia telah mengantisipasi masalah komunikasi dengan membawa telepon satelit, namun ternyata hal itu pun tidak membantu ketika hujan badai menerjang. Karena sinyal juga tidak bisa ditangkap telepon satelit.
Namun, ada satu hal yang sangat dikhawatirkan rombongan K2N UI yang justru tidak terjadi yaitu masalah keamanan batas negara. “Kalau kita lihat di berbagai media, perbatasan ini rawan konflik ini, pembunuhan ini. Tapi anehnya di setiap sepuluh titik yang kami ambil, tidak ada satupun mahasiswa kami yang diganggu dan tidak ada konflik apapun yang terjadi selama kami di sana. Dan ini adalah surprise buat kami!” ucap Sri Murni penuh rasa syukur dan kelegaan ketika mengingat 10 titik yang dipilih tahun ini adalah tempat-tempat yang memang berbatasan langsung dengan negara tetangga yang selalu dikabarkan rawan konfilk.Terlepas dari berbagai kendala yang dihadapi oleh rombongan K2N UI tahun 2010, kebahagiaan mengabdi, kebanggaan, pembelajaran, dan pengalaman berharga adalah berbagai hal yang banyak mereka dapatkan. Seluruh program kerja yang telah direncanakan sebelumnya berjalan dengan baik. “Bahkan di beberapa program, masyarakat sepertinya tahu lebih banyak daripada kami. Seperti ketika mengadakan penyuluhan hukum. Waktu kami menjelaskan, ternyata pengetahuan masyarakat jauh lebih mendalam daripada kami tentang hukum batas negara.” ungkap Hardika sambil tersenyum mengenang pengalaman mereka selama K2N.Kebahagiaan lain yang didapat adalah sambutan yang baik dan penuh semangat dari masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan K2N UI dengan baik dan penuh semangat. “Kami dapat masukan dari Pemda, dari Mabes TNI, dan juga dari warga sekitar yang menerima kami di sepuluh titik lokasi. Pemdanya meminta kami kembali untuk tahun depan kembali melaksanakan K2N di sini, walaupun memang berbeda desa. Karena mereka melihat kedatangan UI cukup banyak bermanfaat dan memotivasi warga untuk meningkatkan kualitas hidup sekaligus kualitas pendidikan, karena yang mereka lihat adalah mahasiswa. Dan mereka melihat bahwa program kerja yang diberikan begitu mendasar sekali dengan kebutuhan masyarakat setempat.” ujar Sri Murni. “Kami memiliki rencana untuk mengadakan kegiatan seperti ini di desa-desa baru, di pulau-pulau baru sehingga akhirnya nanti semua masyarakat Indonesia merasakan kehadiran UI dengan K2Nnya.” lanjutnya kemudian.Berdasarkan pengalaman dari 2 K2N UI, Sri Murni mengingatkan agar UI jauh lebih fokus jika ingin mengadakan program serupa di masa yang akan datang. “Perlu pemikiran yang serius, perlu waktu yang banyak untuk memikirkan ke depannya apa yang bisa UI lakukan untuk Indonesia. Hal ini harus diseriusi, tidak bisa hanya sebatas mata kuliah pilihan universitas yang secara sukarela dipilih oleh mahasiswa. UI harus bersikap serius melihat kiprah K2N bagi Negara ini. Karena dengan adanya kata Indonesia di belakang kata universitas, ini adalah beban berat, tanggung jawab yang besar bagi kita. ” ungkap Sri Murni.Semoga saja program seperti K2N UI 2009 dan 2010 bisa tetap dilaksanakan di tahun-tahun mendatang, di tempat-tempat yang baru. Sehingga semua wilayah di NKRI bisa merasakan kehadiran UI sebagai sebuah lembaga yang tidak hanya mencerdaskan warganya tapi juga negara. (Wnd)