Indeks Berita


Diskusi Publik Islam dan Bina Damai

Posted by admin on 0000-00-00 00:00:00

Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LAKIP) Jakarta bekerjasama dengan Program Studi Arab Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) menyelenggarakan diskusi publik dan bina damai di Gedung IV Ruang 4101 FIB UI pada Senin (28/02). Di Kampus Depok. Diskusi ini menyuguhkan pemaparan dari pembuat buku yang berjudul “Orang Jawa Jadi Teroris” oleh Prof. Dr. H. M Bambang Pranowo, serta buku berjudul “Syarah Konstitusi UUD 45 dalam Perspektif Islam” yang dikarang oleh K.H. Masdar Farid Mas’udi. Bertindak sebagai pengkritik kedua buku tersebut adalah Juhdi Syarif M. Hum.

Dalam pemaparan Bambang di bukunya, orang jawa yang menjadi teroris kebanyakan alumni jihad Afghanistan dimana kondisi disana sangat dipengaruhi oleh panasnya persekutuan Amerika dan Israel. Para alumni itu membawa suasana perang dan gejolak permusuhan dengan Amerika ke Indonesia. Imbasnya, ia akan melawan segala macam hal-hal yang berhubungan dengan Amerika. Selain itu, para teroris juga akan mendapat balasan berupa pahala syahid dan masuk surga. Bambang menjelaskan pula tentang karakter orang jawa yang cenderung mengikuti istilah tiga-nga. Yaitu ngalah atau mengalah, ngalih atau menghindar dan ngamuk atau marah. Orang jawa juga lebih suka harmonisasi atau menjauh dari masalah dan menghindari konflik. Namun, pada suatu ketika akan meledak seperti pada istilah ke tiga yaitu ngamuk atau marah. Setidaknya itu jadi bagian yang berpengaruh terhadap munculnya orang jawa yang kebanyakan menjadi teroris dewasa ini. Namun, buku ini tidak bermaksud mengeneralisir terkesan seluruh orang jawa adalah teroris.

Sedangkan K.H. Masdar yang juga menjadi Rohis Suriah Nahdlatul Ulama (NU) ini menjelaskan latar belakang dibuatnya buku “Syarah Konstitusi UUD 45 dalam Perspektif Islam”. Menurutnya, kegelisahan yang ia rasakan karena umat islam merasa menjadi orang asing di negeri sendiri. Semakin banyak penyangkalan terhadap UU 45 sehingga menyebabkan kehidupan bernegara menjadi setengah hati. Dampak buruknya akan muncul radikalisme dan terorisme yang agenda panjangnya untuk menciptakan Negara Islam. “Islam yang punya masa depan adalah Islam yang mengendap” tuturnya disela penjelasan. Maksudnya adalah, apabila kadar keislaman kita berbobot berat karena mengendapnya nilai dasar keislaman, maka akan semakin mantap kadar keislaman kita. Sedangkan Islam yang termaktub dalam UU 45 merupakan Islam yang berbobot, karenanya, sudah selayaknya kita bersama-sama menerima Indonesia dengan kebinekaannya sebagai Negara sejati dimana keislaman dapat tumbuh sepenuhnya. Jika hal tersebut tercapai maka akan mengakibatkan pembangunan Negara yang lebih baik pula.

Di akhir penjelasan. Masdar menambahkan bahwa Indonesia sangat berpeluang untuk menjadi jangkar peradaban Islam di dunia. Islam merupakan agama dan konsep peradaban yang paling muda dan hingga saat ini belum memiliki topangan Negara besar. Jika tidak, perdamaian dunia menjadi ancaman dan kekuatan peradaban Islam semakin rapuh. Oleh karena itu, membangun Indonesia sama dengan membangun perdamaian dunia. Untuk mewujudkan impian tersebut alangkah bijaknya jika kita tidak setengah hati lagi dalam menjalani keislaman. Tentu saja keislaman yang subtantif yaitu islam yang berbobot dan mengendap. Bukan keislaman yang formalistik dan ornamental yang cenderung mengarah ke eksklusifitas, akar adanya terorisme dan radikalisme. Juhdi memberikan kritik dan saran untuk perbaikan buku. Menurutnya, buku “Orang Jawa Jadi Teroris” tidak ditemukan esensi judulnya. Penulis langsung melakukan simplifikasi masalah, yaitu dengan langsung menjelaskan tentang kesempitan pikiran orang jawa dan karakter orang jawa sesuai dengan dunia pewayangan. Sedangkan untuk buku “Syarah Konstitusi UUD 45 dalam Perspektif Islam”. Jika dilihat dari judul, syarah dalam kamus-kamus bahasa diartikan dengan penjelasan atau pemaparan yang sejelas-jelasnya. Namun, beberapa hadis tidak memiliki sumber, apalagi untuk hadis yang masih lemah. Sangat riskan untuk memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Oleh karena itu, baiknya buku ini berjudul “Telaah kritis Konstitusi UUD 45 dalam Perspektif Islam”. Acara diakhiri dengan diskusi kritis bersama mahasiswa dan para hadirin yang datang. (Nanda)