Indeks Berita


Promosi Doktor Darwin Rio Budi Syaka

Posted by admin on 2012-01-20 10:03:21

Darwin Rio Budi Syaka berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Karakteristik Campuran Karbon Dioksida dan Etana di Siklus Temperatur Rendah pada Sistem Refrigerasi Cascade” dihadapan sidang terbuka Promosi Doktor yang dipimpin Dekan FT UI, Prof. Dr. Ir. Bambang Sugiarto, M.Eng pada Kamis (19/01) di Kampus Depok. Bertindak sebagai Promotor, Dr. Ir. M. Idrus Alhamid; Ko-Promotor, Dr.-Ing. Ir. Nasruddin, M.Eng dan Dr. Ir. Budihardjo, Dipl.-Ing. Dewan penguji terdiri dari Prof. Dr. Raldi Artono Koestoer, Prof. Dr. Ir. Nandy Putra, Dr. Ir. Yuli Setyo Indartono, dan Dr. Ary Bachtiar Khrisna Putra, ST, MT.

Kegiatan pengobatan dan penelitian biomedis membutuhkan cold storage untuk menyimpan sampel biomedis yang mencapai temperatur hingga -80°C. Penggunaan sistem refrigerasi siklus tunggal hanya mampu mencapai suhu pendinginan efektif sekitar -40ºC, dan efisiensinya memburuk di bawah -35ºC karena turunnya tekanan evaporasi. Sehingga, untuk dapat menjangkau temperatur yang lebih rendah, digunakan sistem refrigerasi cascade. Sistem refrigerasi cascade minimal terdiri dari 2 sistem refrigerasi yang bekerja secara mandiri. Dua sistem refrigerasi ini dihubungkan penukar kalor cascade di mana kalor yang dilepaskan condenser di sirkuit temperatur rendah diserap evaporator sirkuit temperatur tinggi. Untuk mencapai suhu -80ºC, selama ini di sirkuit temperatur rendah digunakan refrigeran CFC seperti R13 atau R503 dimana di Indonesia telah ditetapkan komitmen untuk menghapus penggunaan bahan perusak lapisan ozon pada akhir tahun 2007. Sementara itu, refrigeran alternatif HFC seperti R23 walaupun tidak mengandung bahan perusak lapisan ozon, namun berpotensi dalam memanaskan permukaan bumi. Sehingga, dicari refrigeran alternatif yang diarahkan pada refrigeran alamiah dan salah satunya adalah karbon dioksida. Karbon dioksida memiliki keunggulan karena tidak beracun, tidak dapat terbakar (non-flammable), mudah didapat, tidak merusak ozon, dan sangat rendah potensinya dalam memanaskan permukaan bumi. Namun tingginya tekanan dan temperatur rangkap tiga (triple) membatasi penggunaan karbon dioksida digunakan di bawah temperatur -56,6ºC. Solusi untuk mengatasi kekurangan ini adalah dengan mencampurkan karbon dioksida dengan refrigeran yang lain. Sebagai refrigeran, hidrokarbon memiliki sifat termofisika yang baik. Walaupun tidak beracun dan ramah lingkungan, hidrokarbon dikenal sebagai bahan dapat terbakar. Oleh karena itu, diharapkan bila hidrokarbon dicampur dengan karbon dioksida akan mengurangi mampu bahan bakar tersebut dan temperatur triple karbon dioksida. Pengujian campuran karbon dioksida dan propane (hidrokarbon) diketahui memiliki efisiensi energi dan kapasitas pendinginan yang lebih tinggi dari pada R13, namun campuran karbon dioksida dan propana ini hanya mampu mencapai temperatur -72ºC. Oleh karena itu, untuk mencapai -80ºC, maka pada penelitian ini diusulkan campuran karbon dioksida dan etana.

Tujuan penelitian ini adalah menentukan komposisi refrigeran ramah lingkungan campuran CO2 dan etana yang mampu bekerja dibawah temperatur triple CO2 serta memiliki mampu bakar lebih rendah dari etana dalam sirkuit temperatur rendah pada sistem refrigerasi cascade. Berdasarkan simulasi analisa termodinamika, komposisi optimum untuk temperatur -85ºC yang menghasilkan COP terbaik terjadi pada komposisi campuran azeotropik dalam fraksi massa adalah karbon dioksida 0,63 dan etana 0,37. (Humas FT)