Indeks Berita


Mardiyah Chamim: Cigarretes Is A Giant Pack of Lies

Posted by admin on 2012-06-21 11:42:40

Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia sekaligus sosialisasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Universitas Indonesia (KTR UI), Kantor Komunikasi UI bekerja sama dengan Departemen Kajian Aksi Strategis (Kastrat) BEM FKM UI, Tobacco Control and Support Centre (TCSC), Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), dan Penggerak Anggota Muda IAKMI (PAMI) menggelar acara bedah buku “A Giant Pack of Lies: Bongkah Raksasa Kebohongan Industri Rokok” dan Perusahaan Rokok Untung Besar: Jangan Tanya Kenapa di Balai Sidang UI, Kampus Depok, pada Rabu (30/5).

Hadir sebagai pembicara yaitu penulis buku A Giant Pack of Lies: Bongkah Raksasa Kebohongan Industri Rokok yaitu Mardiyah Chamim (Wartawan Tempo), penulis buku Perusahaan Rokok Untung Besar: Jangan Tanya Kenapa yaitu Eko Prasetyo, serta Drs. Irwan Julianto, M.Ph (wartawan senior Kompas). Bertindak sebagai moderator yaitu Dr. dra. Rita Damayanti MSPH (Dosen FKM UI).

Seperti yang kita ketahui bersama, dengen bahaya yang dihasilkan, rokok telah banyak dibatasi peredaran dan pemasarannya. Dalam bukunya, Mardiyah memaparkan bahwa perusahaan rokok melakukan 1001 cara agar industri rokok terus dapat berkembang, baik dengan cara yang kreatif sampai dengan cara yang manipulatif.

Kini, Indonesia jadi surga industri rokok dengan 65 juta pecandu rokok dan regulasi longgar yang menguntungkan perusahaan rokok. Indonesia sendiri dijadikan sebagai benteng terakhir bagi industri rokok dengan peningkatan jumlah pecandu anak-anak mencapai 500% terhitung sejak akhir 90-an sampai sekarang.

Untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan, potensi pasar tersebut, perusahaan rokok melakukan segala cara. Menurut Mardiyah, banyak sekali kampanye menyesatkan yang mengatakan bahwa kampanye anti tembakau merupakan konspirasi global yang disponsori industri farmasi, bahwa rokok aman, dan bahwa rokok kretek adalah budaya bangsa sehingga kampanye anti tembakau sama dengan membunuh budaya bangsa.

Irwan Julianto juga menyatakan hal senada. Perusahaan rokok acap kali menuduh yang tidak-tidak, padahal ia sendiri yang melakukan hal yang tida-tidak. Irwan mengungkapkan bahwa terdapat satu buku berjudul Rokok Sehat yang pembuatannya didanai uang ratusan juta oleh perusahaan rokok untuk mempertahankan digdayanya. Irwan juga mengatakan bahwa perusahaan rokok pengaruhi Pemerintah RI untuk tidak meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) yang digarap WHO. Belum lagi, penghilangan ayat tembakau dalam UU Kesehatan seperti yang dijelaskan Mardiyah.

Eko Prasetyo melanjutkan dengan membeberkan fakta mengenai orang yang dijadikan target pasar: pemuda. Sekolah, menurut Eko, adalah entry point yang bagus. Oleh karena itu perusahaan rokok berusaha menjangkau seluruh kampus di Indonesia. Berbagai kerja sama beasiswa dijalin dengan banyak kampus, juga kerja sama dalam membangun infrastruktur pendidikan. ‘Kebaikan’ yang telah diberikan perusahaan rokok, menurut Eko, membuat kampus-kampus semakin sulit menolak kerja sama dengan perusahaan rokok.

Pernah suatu saat Eko bertandang ke sebuah sekolah dan di sekolah tersebut terdapat tarian dengan nama “Kretek”. Eko lantas bertanya kepada pejabat di sekolah itu, “Apa sampeyan ndak bisa lawan rokok?” Pejabat tersebut pun menjawab, “Lha wong gedung-gedung di kampus saya ini dibangun dengan dana pinjaman dari perusahaan rokok. Kalau nggak ada pinjaman dari perusahaan rokok ya nggak bisa membangun karena kalau pinjam dari yang lain, bunganya tinggi dan cicilannya berat.”

Selain dengan kerja sama, menurut Eko, perusahaan rokok juga punya strategi lain untuk mempromosikan rokok kepada kalangan muda. Eko menjelaskan, perusahaan rokok kerap kali memasang iklan rokok di sekitar sekolah. Perusahaan rokok bahkan menggunakan strategi menaikkan komisi salesman apabila ia berhasil membuat penetrasi distribusi rokok dekat sekolah, rumah ibadah, dan kantor pemerintahan. Semakin dekat jaraknya, semakin tinggi komisinya yang didapat.

Dalam bedah buku ini turut hadir Nilna Rahmi Isna, mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas yang juga menjadi Ketua Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia. Dalam sesi diskusi, mahasiswa yang akrab disapa Isna ini memaparkan hasil turun lapangan yang ia lakukan, “Siapa bilang petani tembakau menolak UU Pengendalian Tembakau? Hidup petani tidak tergantung tembakau, yang penting ada penghasilan. Jadi siapa yang mengatasnamakan diri sebagai ‘petani tembakau’?” Isna melanjutkan, kesejahteraan petani terbukti tidak meningkat dengan menanam tembakau karena perusahaan rokok membeli tembakau dengan harga murah.

Untuk memerangi ini semua, menurut Irwan, harus dilakukan perang gerilya terhadap rokok melalui media baru seperti media sosial karena media konvensional sudah ‘dibeli’ oleh perusahaan rokok. Eko menambahkan, acara intelektual harus diaktifkan. Harus ada kelompok intelektual dan gerakan perlawanan harus dibiasakan agar membudaya.

Buku “A Giant Pack of Lies: Bongkah Raksasa Kebohongan Industri Rokok” ini tidak dijual di Indonesia. Namun dalam acara ini, sebanyak 150 buku dibagikan secara gratis kepada pengunjung. Selain itu, 60 buku akan disumbangkan ke perpustakaan di UI agar dapat diakses oleh siapa saja yang butuh pencerahan. (YV)