Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia menyelenggarakan "Pelatihan Pengelolaan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang Bermutu dan Berdampak" pada Selasa-Rabu, 19-20 Juni 2011, di Auditorium lantai 6 Perpustakaan UI.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan para pengabdi masyarakat dalam menghasilkan program pengabdian masyarakat yang bermutu dan berdampak. Pengabdian masyarakat, salah satu mata rantai Tridharma Perguruan Tinggi (PT) yang semestinya menjadi satu kesatuan dengan dua dharma yang lain, belum memperoleh apresiasi secara memadai. Hal itu dapat diketahui dari data DIKTI sampai dengan tahun 2010 kurang 5% populasi dosen dan kurang dari 1% guru besar yang aktif melaksanakan pengabdian masyarakat. Demikian pula besarnya alokasi dana Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), masih berkisar sekitar 15% dari alokasi dana riset dosen. Alokasi tersebut belum mampu ditingkatkan menjadi 20-25%.
Sebaiknya para dosen juga harus mempersiapkan program pengabdian masyarakat yang bermutu dan berdampak, serta memberikan manfaat atau perubahan ke arah yang lebih baik di masyarakat.
Materi program ini didesain untuk memberikan informasi dan keahlian di bidang-bidang yang dipandang krusial dalam penyelenggaraan program pengabdian masyarakat yang bermutu dan berdampak, yaitu: menyiapkan keberlanjutan program pengabdian masyarakat secara mandiri; impact evaluation; managing various stakeholders; penyusunan hasil program pengabdian masyarakat dalam bentuk artikel ilmiah; engaging the media; dan memaksimalkan penggunaan kamera saku sebagai media pelaporan dan publikasi.
Hari pertama kegiatan dimulai diawali dengan Sambutan Direktur DRPM UI Bachtiar Alam, Ph.D. Dalam sambutannya ia menjelaskan seputar tujuan kegiatan. Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan Pembukaan oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Kerja Sama Industri, Sunardji, SE, MM.
Sesi pertama pagi itu mengangkat tema "Menyiapkan Keberlanjutan Program Pengabdian Masyarakat secara Mandiri" oleh Ir. Gatot Murdjito, MS (UGM). Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa banyak kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan tidak dapat bertahan lama dan bahkan hanya dilakukan pada saat pelaksanaan pelatihan, penyuluhan, batas akhir penyelesaian program atau kegiatan sehari saja. Oleh karena itu maka ia menganjurkan seharusnya program pengabdian masyarakat harus dapat terus terlaksana di masyarakat hingga target tercapai. Kita harus menyiapkan masyarakat atau mitra agar tidak bergantung kepada para pengabdi atau tim. Kita juga mesti menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait agar kemandirian dan kesiapan masyarakat dapat bertahan dan program dapat terus dikembangkan.
Sesi kedua kemudian dilanjutkan dengan tema "Impact Evaluation" oleh Widi Heriyanto (PATTIRO). Widi menyatakan berdasarkan hasil evaluasi dari program hibah pengabdian masyarakat yang telah berjalan selama tahun 2009-2012, ditemukan adanya program pengabdian masyarakat yang tidak memiliki dampak terhadap masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara merancang program pengabdian masyarakat serta cara melihat dampak program yang dihasilkan. Widi mencoba mengkuantifikasi dampak tersebut dengan prinsip Evidence Based-nya.
Sesi ketiga berisi diskusi bertema "Managing Various Stakeholders" oleh Ahyudin (Direktur Eksekutif ACT). Ahyudin menyatakan bahwa dalam melaksanakan program pengabdian masyarakat, tim tidak dapat berdiri sendiri sehingga dibutuhkan keterlibatan para stakeholder agar program lebih efektif. Keterbatasan pengalaman dari para pengabdi serta sulitnya menjalin kerja sama dengan para pihak, membuat program menjadi tidak. Sesi ini fokus pada teknik pemetaan stakeholders dan bagaimana menjalin kerja sama sehingga dapat menghasilkan program pengabdian masyarakat yang lebih berkualitas dan berkesinambungan.
Hari kedua, Rabu (20/06), kegiatan dilanjutkan dengan sesi keempat bertema "Penyusunan Hasil Program Pengabdian Masyarakat ke dalam bentuk Artikel Ilmiah" oleh Prof. Dr. rer.nat. Mochammad Yuwono, MS., Apt. (UNAIR). Artikel ilmiah hasil penelitian dengan artikel hasil pengabdian masyarakat sangatlah berbeda. Fokus pada sesi ini yaitu: mengetahui jurnal apa saja yang dapat menjadi tujuan dari publikasi kegiatan pengabdian masyarakat; mengetahui strategi menulis artikel hasil pengabdian masyarakat agar dapat lolos untuk dipublikasikan di jurnal internasional; meningkatkan motivasi para dosen/pengabdi masyarakat untuk menulis artikel ilmiah hasil pengabdian masyarakat; memberikan contoh-contoh artikel pengabdian masyarakat yang telah masuk di jurnal nasional dan internasional.
Sesi selanjutnya adalah sesi kelima yang bertema "Engaging the Media" oleh Drs. Teguh Poeradisastra, MM. (Dosen FISIP UI). Pascaprogram dibutuhkan laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban, juga publikasi terhadap program yang telah dilakukan agar perhatian dapat difokuskan ke program sehingga dapat mendorong efek berikutnya seperti follow up program, funding baru, perluasan program, dan lainnya. Agar program bisa terlihat efeknya, dibutuhkan keahlian untuk melibatkan peran media massa yang menjadi fokus sesi ini.
Sesi keenam yang jadi sesi terakhir bertema "Memaksimalkan Penggunaan Kamera Saku sebagai Media Pelaporan dan Publikasi" oleh Anand Yahya (fotografer profesional dari Yayasan Budha Tzu-Chi). Foto memegang peranan penting dalam menggambarkan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan, padahal tidak semua pengabdi masyarakat memiliki keahlian fotografi yang handal. Sesi ini fokus menggali fasilitas-fasilitas yang ada pada kamera saku untuk menghasilkan foto-foto yang berkualitas tinggi yang dapat digunakan secara efektif untuk pelaporan dan publikasi. Usai sesi terakhir, kegiatan ditutup oleh Wakil Direktur DRPM UI Prof. Dr. Budiarso, M. Eng. (IB)