Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia bekerja sama dengan Center for Southeast Asian Studies – Indonesia (CSEAS-I) menyelenggarakan focus group discussion dan mengundang pembicara Prof. Thongchai Winicakul pada Jum’at (6/7). Diskusi yang mengangkat tema “Spatial Effect in Historiography of Shouteast Asia” ini dilaksanakan di Ruang 2401, Gedung 2 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Diskusi dibuka oleh Dr. Priyanto Wibowo dan moderator Dr. Yuda Tangkilisan. Dalam diskusi tersebut, hadir pula perwakilan dari CSEAS-I, Yosef Djakababa, Ph.D.
Dalam kuliah umumnya, Prof. Thongchai Winicakul mengungkapkan bahwa negara-negara di Asia Tenggara sangat erat hubungan kultural dan komunitasnya, terutama area yang terpisahkan oleh perairan, baik lautan maupun daerah aliran sungai. Beliau juga menyatakan bahwa area yang terpisah oleh perairan seringkali memiliki kesamaan kultural dan komunitas dibanding area yang dipisahkankan oleh pegunungan, sekalipun masih dalam satu pulau. Prof. Thongchai Winicakul mengambil contoh Vietnam dan Jawa. Kedua daerah itu terpisahkan oleh lautan yang luas (Laut Cina Selatan dan Laut Jawa), tetapi komunitas dan kultur yang berkembang di antara kedua daerah tersebut banyak memiliki kesamaan. Berbeda dengan Sumatera bagian utara dengan Sumatera bagian selatan. Kedua daerah tersebut memiliki kultur dan komunitas yang sudah tidak dekat lagi. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
“Hasil penelusuran sejarah di masa lalu menunjukkan bahwa orang terdahulu lebih menggunakan jalur perairan sebagai transportasi dan sarana penghubung antardaerah dibandingkan dengan jalur darat, “ ungkap Prof. Thongchai Winicakul kepada audiens yang terdiri dari mahasiswa S1 dan S2 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya itu. Pada zaman dahulu, penggunaan jalan darat lebih berisiko dengan medan yang tidak stabil dan naik turun seperti di pegunungan. Oleh karena itu, masyarakat dahulu lebih memilih menggunakan kapal-kapal untuk berdagang dan berhubungan antarpulau.
Prof. Thongchai Winicakul dalam kuliahnya memberi beberapa contoh buku-buku sejarah yang membahas sejarah Asia Tenggara tentang keterhubungan area dan juga tentang city. Masyarakat di masa lalu banyak mendiami daerah-daerah yang dekat dengan perairan dan membentuk komunitas di tempat tersebut hingga terbentuklah suatu kota. Sebuah buku karangan James C. Scott, The Art of Not Being Governed: An Anarchist History of Upland Southeast Asia telah menjadi ilham untuk mempelajari lebih dalam mengenai high landa and low land. Sebelum, menyelesaikan kuliah umumnya, beliau juga mengajak kepada audiens untuk terus belajar dari masa lampau.
Kuliah umun diakhiri dengan sesi tanya jawab dengan beberapa penanya, antara lain: Prof. Dr. Djoko Marihandhono dari Kajian Prancis, Dr. Nana Nurliana dari Kajian Amerika, serta beberapa orang mahasiswa. (MONA)