Dalam rangka memberikan informasi terbaru kepada publik mengenai perkembangan terkini perkembangan penyakit meningitis, FKUI melalui Center for Research and Integrated Development of Tropical Health and Infectious Disease (CRID-TROPHID) bersama Departemen Neurologi FKUI-RSCM dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Cabang Jakarta mengadakan acara "Guest Lecture: Meningitis Update." Acara ini diadakan Kamis (26/07) di Ruang Serbaguna Pratista Sutomo Tjokronegoro, Kampus Salemba. Peserta acara ini adalah para dokter spesialis, mahasiswa, dan khalayak umum. Pembicara utama dalam acara Kuliah Tamu ini adalah Renout Van Crevel M.D., Ph.D, dari Radboud University, Nijmegen Medical Centre, Netherland dan dr. Darma Imran, Sp. S(K)., M.D. dari Departemen Neurologi FKUI.
Dr. Darma menjelaskan perkembangan terkini dalam penanganan penyakit meningitis cryytococcus, terutama di Indonesia dalam materi yang berjudul “Cryptococcal Meningitis Update.” Ia menjelaskan bahwa tingkat mortalitas yang disebabkan meningitis cryytococcus masih cukup tinggi. LFA tes menjadi salah satu metode baru untuk mempercepat proses diagnosis meningitis cryytococcus. Kombinasi amphotericin dan fluconazole dalam dosis tertentu pun dianjurkan dalam proses pengobatannya. Ia juga menjelaskan dan mengajak para peserta untuk terlibat dalam program cyptodex yang merupakan sebuah program penelitian untuk melihat pola pengobatan yang paling efektif untuk penyakit ini.
Di sesi berikutnya, dalam materi “Diagnosis and Treatment of TB Meningitis; Lessons Learned in Indonesia,” Van Crevel menjelaskan penelitiannya mengenai penanganan TB meningitis di Indonesia, dengan Bandung sebagai studi kasusnya. Van Crevel menjelaskan bahwa untuk meningkatkan angka harapan hidup dalam kasus TB meningitis, maka dianjurkan untuk menggunakan antibiotik dosis tinggi (rifampisin), adjuvant treatment, dan juga penggunaan aspirin bagi pasien. Van Cravel juga menjelaskan teknik diagnosis TB meningitis terbaru dengan MODS. (JRS)