Skip links

Bus Listrik Merah Putih UI Tampil di Puncak Peringatan Hakteknas Ke-27

Universitas Indonesia (UI) berpartisipasi dalam pameran inovasi perguruan tinggi melalui produk Bus Listrik Merah Putih UI pada puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) Ke-27 yang diadakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI), pada Rabu (10/8). Acara yang diselenggarakan di Halaman Gedung A Kemendikbudristek ini bertujuan untuk membangkitkan semangat inovasi dalam negeri dan merayakan transformasi pendidikan yang didorong produk teknologi karya anak bangsa.

Pada kesempatan itu, UI menghadirkan bus listrik dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tertinggi di Indonesia untuk kelas bus besar, yaitu dengan panjang 12 meter dan bobot maksimal 16 ton. Bus ini mampu menampung berat penumpang sebesar 13 ton dengan kecepatan maksimal 120 km/jam.

Bus Listrik Merah Putih UI merupakan bus yang bangun platform chassis-nya, sistem penggerak, sistem rem, sistem kendali, inverter, dashboard, serta sistem pendinginnya (air conditioning) dirancang mandiri oleh para ahli UI dan dibangun oleh perusahaan dalam negeri, yaitu PT Mobil Anak Bangsa (MAB), PT NSAD, PT Pindad, dan PT AICOOL. Selama hampir 3 tahun, UI bersama keempat perusahaan tersebut berkolaborasi dalam pembuatan bus listrik.

Rancangan teknologi bus listrik lahir dari ide periset yang berasal dari Fakultas Teknik UI, sementara perusahaan mitra berperan sebagai praktisi industri yang mengaplikasikannya. Langkah ini merupakan bentuk komitmen UI dan para pelaku industri untuk menjadikan lingkungan lebih hijau dan rindang.

Pada pameran bus listrik untuk G20 di Kampus UI Depok, beberapa waktu lalu, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI, drg. Nurtami, Ph.D., Sp,OF(K) mengatakan bahwa “Perguruan tinggi merupakan bagian penting dalam sinergi n-helix. Tri Dharma Perguruan Tinggi mengharuskan kita mengembangkan pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Bus Listrik Merah Putih UI diharapkan menjadi solusi bagi permasalahan bangsa, bukan hanya di bidang transportasi, melainkan juga di bidang ekonomi. Selain mengurangi beban pemerintah dalam pemenuhan subsidi BBM, bus listrik dapat menjadi alternatif bagi kebutuhan energi terbarukan dan berpotensi menguatkan industri dalam negeri, khususnya di bidang manufaktur.”

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A., pada Hakteknas mengapresiasi seluruh hasil cipta dan karya inovasi anak bangsa yang mendukung kemajuan pendidikan melalui pemanfaatan teknologi. Sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 1995, Hakteknas yang diperingati setiap 10 Agustus merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi atas keberhasilan putra-putri Indonesia dalam memanfaatkan, menguasai, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta untuk memberi dorongan kepada mereka agar terus membangkitkan daya inovasi dan kreasi guna kesejahteraan dan kemajuan bangsa Indonesia.

Menurut Nadiem, ada tiga kata yang erat kaitannya dengan teknologi, yaitu keberanian, kolaborasi, dan kerja nyata. Keberanian artinya berani mencoba dan mengambil risiko untuk melahirkan inovasi yang berdampak positif bagi masyarakat. Nadim menyebutkan, di dalam dunia teknologi, jika tidak berani mengambil risiko, kita tidak akan pernah mencapai dampak yang diinginkan. Kedua, kolaborasi, karena di balik semua pekerjaan Kemendikbudristek, ada organisasi dan individu lain yang ikut berkontribusi. Selanjutnya, kerja nyata. Di dunia teknologi seseorang tidak bisa memamerkan hasil usaha tanpa data. Teknologi harus berdaya guna untuk disebut berhasil.

“Untuk mencapai kesuksesan dalam pemanfaatan teknologi, strateginya adalah bagaimana kita mencocokkan jagoan di kampus dengan perusahaan yang memiliki project. Peran pemerintah yang paling efektif dalam hal ini adalah mengalokasikan anggaran untuk membuka kreativitas dan power setiap institusi, teknologi, dan engineer di seluruh Indonesia. Teknologi jika tidak ada yang menggunakan dan menanfaatkannya, tidak ada gunanya sama sekali. Cara kita mengukur kesuksesan dari teknologi adalah turun langsung ke lapangan, lihat teknologi itu digunakan untuk apa, dan bagaimana reaksi serta respons penggunanya,” kata Nadim.

Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, Asean Eng., menyebutkan, selama pandemi, masyarakat akhirnya menyadari dan merasakan teknologi menjadi enabler karena memungkinkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tadinya tidak terbayang. Teknologi juga menjadi empower karena memberdayakan seseorang. Selain itu, teknologi menjadi transformer karena mentransformasikan peserta didik, guru, dan dosen untuk menuju masa depan yang lebih baik. Menurut Prof. Nizam, pemanfaatan teknologi ini harus diiringi dengan keinginan menjadi bagian dari pencipta teknologi.

“Selama pandemi, saya melihat energi dari teman-teman di kampus, baik di universitas maupun politeknik, itu luar biasa. Energi kreatif dan kolaboratif ini dimanfaatkan untuk mewujudkan teknologi yang tepat guna. Kolaborasi tidak hanya dibangun antarkampus, tetapi juga antara universitas, politeknik, dan industri. Inilah yang menjadi kunci bagi kita untuk membangun kedepannya. Ketika kita menyadari pentingnya teknologi, di saat yang sama kita juga menyadari pentingnya menjadi bagian untuk mencipta teknologi,” kata Prof. Nizam.

Ke depannya, sebagaimana tema G20 “Recover Together, Recover Stronger”, Prof. Nizam berharap kolaborasi yang dijalin antar-institusi dapat menghasilkan inovasi yang berlipat-lipat daripada yang dihasilkan jika dilakukan sendiri. Selain itu, energi yang bangkit selama masa pandemi harus ditingkatkan dan dikuatkan lagi sehingga Indonesia bisa berlari kencang menuju negara maju dan sejahtera.

This post is also available in: English