Skip links

Dekan FIB UI: Museum Lokal sebagai Sarana Pembelajaran dan Refleksi Sejarah Indonesia

Salah satu ruang publik yang dapat dijadikan tempat pembelajaran terkait sejarah dan budaya bagi masyarakat adalah museum. Museum merupakan lembaga yang bersifat tetap dan nonprofit yang melayani melalui usaha pengoleksian, konservasi, dan riset untuk mengomunikasikan serta memamerkan benda nyata kepada masyarakat demi kebutuhan studi, pendidikan, dan hiburan.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kebudayaan RI pada 2021, Badan Layanan Umum (BLU) mengungkapkan lemahnya manajemen kelembagaan museum di Indonesia. Tercatat hanya 39 museum dari 439 museum (8%) yang memenuhi standar sebagai museum tipe A. Puncaknya. ketika pandemi Covid-19, hampir semua fungsi dan kegiatan museum lumpuh, kecuali yang bersifat esensial. Hal ini mengakibatkan menurunnya kualitas standar museum di Indonesia dalam memperkenalkan peninggalan kepada khalayak luas.

Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum., mengatakan, museum merupakan media pembelajaran yang di dalamnya terdapat koleksi, narasi, dan tata pamer yang membentuk atmosfer tertentu. Museum menjadi pusat pembelajaran sejarah dan budaya yang efektif karena koleksi dan narasi yang dibangun dapat menimbulkan kesan mendalam bagi pengunjungnya.

“Museum menjadi ruang untuk merefleksikan memori kolektif masyarakat tentang sejarah dan budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi. Selain sebagai sarana pembelajaran dan penambah wawasan, kehadiran museum juga menjadi bukti Indonesia memiliki rentetan sejarah yang panjang dengan berbagai peninggalan yang diabadikan dalam museum,” kata Dr. Bondan dalam webinar “Eksistensi Museum sebagai Upaya Melestarikan Sejarah dan Kebudayaan Daerah”, pada Jumat (17/06) lalu.

Museum di Indonesia ada yang berskala nasional dan berskala daerah. Museum daerah menyoroti perkembangan sejarah dan budaya daerah dengan mengumpulkan, mencatat, merawat, meneliti, memamerkan, mengomunikasikan, serta menerbitkan hasil budaya masyarakat sebagai upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya daerah. Otonomi daerah yang diterapkan sejak era reformasi memunculkan kebutuhan untuk menguatkan nilai dan identitas lokal, salah satunya melalui apa yang dipamerkan di museum daerah. Beberapa komponen sejarah dan budaya lokal yang ditampilkan dalam museum meliputi geografi lokal, tradisi lokal, identitas lokal, dan sumber lokal.

Pada lingkup geografi lokal, ini berkaitan dengan wilayah tempat peristiwa sejarah dan budaya berkembang. Hal ini karena Indonesia adalah negara dengan karakter geografi yang sangat beragam, seperti maritim, agraris, pedesaan, perkotaan, dan pegunungan. Karakter geografi inilah yang memengaruhi peristiwa sejarah dan perkembangan budaya di tingkat lokal. Sementara itu, tradisi lokal menjadi salah satu komponen penting di dalam museum karena dapat berubah menjadi adat ketika kebiasaan diterima dan disepakati melalui musyawarah lokal untuk dijadikan aturan kehidupan masyarakat.

Komponen lain yang harus ada dalam museum daerah adalah identitas lokal. Identitas lokal diterima secara kolektif sebagai karakter di lokalitas tertentu untuk memberikan khasanah dan deskripsi kehidupan sosial suatu komunitas. Selain itu, ada pula sumber lokal yang merupakan peninggalan sejarah, baik berupa benda, dokumen, lisan, maupun karya sastra. Benda-benda peninggalan sejarah dan budaya bisa menjadi representasi dari memori kolektif suatu masyarakat atas warisan bersama.

“Peninggalan berbentuk dokumen berasal dari kesaksian seseorang tentang sejarah dan budaya daerah, sedangkan sumber lisan ditelusuri melalui wawancara narasumber untuk memperkaya pemahaman tentang lokalitas. Sementara itu, untuk karya sastra, peninggalannya dapat berupa dokumen formal, seperti pantun, pepatah, puisi, lagu, dan sejenisnya,” kata Dr. Bondan.

Menurut Dr. Bondan, tanpa konseptualisasi yang baik, sejarah dan budaya lokal seakan bukan bagian dari identitas nasional. Oleh karena itu, untuk mendirikan sebuah museum, dibutuhkan riset mendalam terhadap berbagai warisan yang ada. Dari banyaknya museum yang ada di Indonesia, semua harus memiliki visi dan misi, sumber daya manusia yang memadai, pendanaan yang tetap, serta memiliki koleksi, nama, dan bangunan yang baik.

Penulis: Alfin Heriagus| Editor: Sapuroh