Skip links

Dorong Literasi Asuransi, Vokasi UI Adakan Aktivitas Inbound-Outbound Lecture

Pemahaman masyarakat mengenai asuransi masih dirasa kurang, sehingga mendorong berbagai pihak untuk membuat gerakan literasi asuransi secara masif. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi asuransi masyarakat Indonesia berada di angka 19% dalam kurun waktu 2016-2019. OJK sebagai regulator industri asuransi di Indonesia menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan kesadaran dan literasi masyarakat mengenai pengelolaan risiko.

Menyadari kondisi tersebut, Program Studi (Prodi) Administrasi Asuransi dan Aktuaria, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan inbound-outbound lecture bertajuk “Risk Management: Handling Risk with Insurance as a College Student” secara daring, pada Jumat (22/07). Kegiatan yang dikemas dalam bentuk kuliah umum tersebut, menghadirkan Wakil Rektor Genovasi University College, Malaysia, Prof. Dr. Mohd Taipor Bin Suhadah sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Prof. Taipor menjelaskan, asuransi bermanfaat untuk mengurangi, bahkan menghilangkan ketidakpastian. “Efek dari ketidakpastian adalah keadaan yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan dapat berbentuk positif, negatif, atau keduanya. Hal tersebut dapat menghasilkan peluang atau bahkan mengatasi ancaman. Untuk menanggapi hal ini, terdapat suatu proses untuk mengidentifikasi, mengukur, serta membentuk strategi untuk mengelola sebuah risiko yaitu proses manajemen risiko,” ujarnya.

Lebih lanjut prof. Taipor mengatakan, manajemen risiko meliputi identifikasi risiko, terjadinya kejadian, lalu risiko tersebut dianalisis potensi kemungkinan terjadinya, dan dampak kerugian yang mungkin ditimbulkan. Langkah selanjutnya, evaluasi keseluruhan risiko berupa klasifikasi risiko ke dalam besaran risiko tertinggi atau terendah. Terakhir, menentukan salah satu dari empat pilihan pengelolaan risiko, yaitu dikontrol, ditransfer ke pihak lain, dibiayai sendiri, atau dihindari.

Dalam melakukan klaim asuransi, tidak semua risiko dapat ditanggung oleh asuransi, seperti penyakit HIV, penyakit akibat penyalahgunaan narkoba, kecelakaan yang direncanakan, peristiwa bencana alam, dan lainnya. Asuransi dibutuhkan masyarakat dari berbagai usia, namun bentuk asuransi yang dipilih berbeda-beda sesuai kebutuhan masing-masing.

Menurut Prof. Taipor, terdapat empat tahapan (stage) pada asuransi yang dibutuhkan setiap orang. “Stage pertama 25 tahun single; stage kedua 30-35 tahun telah menikah dan telah memiliki anak; stage ketiga 35-45 tahun telah menikah dengan anak-anak yang sedang tumbuh; dan stage terakhir adalah 45-55 tahun atau usia paruh baya dengan anak-anak yang sedang masuk kuliah,” ujar Prof. Taipor.

Sementara itu, Direktur Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, Padang Wicaksono, S.E., Ph.D., menyampaikan, kegiatan kuliah umum tersebut sangat bermanfaat bukan hanya bagi mahasiswa, melainkan juga masyarakat umum. “Pentingnya literasi mengenai asuransi perlu menjadi perhatian bagi masyarakat umum, khususnya yang belum mengenal manfaat asuransi dengan baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Melalui kuliah umum tersebut, kami berharap masyarakat dapat mendapat pemahaman yang baik dari pemanfaatan asuransi.” Selain itu, ujar Padang, semoga kolaborasi antara Universitas Indonesia dengan Genovasi University College terus berlanjut dan mencetuskan inovasi kerja sama lainnya yang dapat berdampak positif bagi masyarakat.