Skip links

Empat Alasan Energi Listrik Ramah Lingkungan (ELRL) Sangat Dibutuhkan

Negara-negara industri dan termasuk Indonesia, menghasilkan emisi karbon yang luar biasa, sehingga menyebabkan pemanasan global yang berdampak pada terjadinya perubahan iklim. Hal ini menimbulkan kekhawatiran, sehingga penyebab pemanasan global tersebut harus diatasi.

“Kita harus mendapatkan energi yang bersifat ramah lingkungan dan berkelanjutan karena saat ini perubahan iklim dunia sudah terjadi sangat ekstrim salah satunya disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dan penebangan hutan yang menimbulkan efek gas rumah kaca yang berakibat pada mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan, serta penurunan populasi alga sebagai sumber energi bagi berbagai biota yang mengakibatkan penurunan jumlah populasi biota,” ujar Prof. Ir. Ari Handoko Ramelan, M.Sc. (Hons), Ph.D., dalam presentasinya pada kegiatan Diseminasi Hasil Kajian Akademik yang diselenggarakan oleh Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI).

Dari hasil kajian tersebut, didapatkan bahwa nuklir merupakan energi yang memiliki density yang tertinggi diantara sumber energi lainnya. Selain itu, nuklir merupakan sumber energi dengan emisi dan tingkat risiko yang paling rendah dibandingkan sumber energi alternatif lainnya. Pihaknya juga mengakui bahwa, saat ini penggunaan energi nuklir masih menimbulkan pro dan kontra ditengah masyarakat.

Dalam pidato sambutannya, Wakil Direktur SIL UI Dr. Dodi Abdul Cholil menyampaikan bahwa target pemerintah untuk menggunakan energi ramah lingkungan yang berbasis bebas karbon menuju Indonesia yang lebih sejahtera pada tahun 2050, salah satu energi alternatif yang ditawarkan adalah energi nuklir. Pihaknya juga berharap kajian akademik ini dapat menjadi acuan dan pertimbangan pemangku kepentingan untuk memutuskan kebijakan demi kemaslahatan masyarakat banyak.

Pada kegiatan diseminasi kajian hasil akademik ini, dipaparkan empat alasan mengapa empat alasan Energi Listrik Ramah Lingkungan (ELRL) sangat dibutuhkan. Pertama, untuk mencapai kesejahteraan pada tahun 2050 sesuai dengan target pemerintah. Untuk mengejar peningkatan kesejahteraan masyarakat, harus dilakukan berbagai upaya peningkatan ekonomi yang secara tidak langsung meningkatkan konsumsi listrik di Indonesia, sehingga pemerintah harus meningkatkan ketersediaan listrik hingga 4000 kw/h per kapita di tahun 2050.

Kedua, transisi energi primer terutama yang berasal dari batubara. Hal ini didasarkan pada beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh batubara, terutama efek negatif terhadap lingkungan. Selain itu, cadangan batubara Indonesia dengan kalori tinggi diprediksi akan habis pada tahun 2040 serta adanya tekanan dari dunia internasional untuk menghentikan penggunaan batubara. Jika dibandingkan dengan negara lain yang sudah lebih dulu menggunakan energi ramah lingkungan seperti energi angin, sinar matahari, geotherman, hydro power, dan energi nuklir. “Akan tetapi energi tersebut juga memiliki hambatan seperti musim, curah hujan, dan permasalahan limbah” ujarnya.

Selanjutnya, alasan ketiga mengacu pada target menuju Indonesia rendah karbon pada tahun 2050. Hal ini berdasarkan pada definisi energi hijau yaitu harus tidak menghasilkan emisi gas CO2 dan CH4, tidak merusak lahan, tidak mengancam ekosistem saat proses operasional, mampu menyimpan dan mengelola limbah sisa operasional, meminimalisir penggunaan bahan bakar dan material tambang, serta mampu dikomersialisasikan tanpa adanya subsidi. Terakhir, alasan keempat adalah energi nuklir sebagai solusi energi ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Diseminasi ini merupakan kegiatan bersama Tim LPPM UNS dan PT ThorCon Power Indonesia, yaitu penyusunan “Penyusunan Kajian Akademik: Nuklir Sebagai Solusi Dari Energi Ramah Lingkungan Yang Berkelanjutan Untuk Mengejar Indonesia Sejahtera dan Rendah Karbon pada Tahun 2050” turut dihadiri oleh Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret (FMIPA UNS) Prof. Ir. Ari Handoko Ramelan, M.Sc. (Hons), Ph.D., Lektor kepala Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si., sebagai pembicara dan Dr. Ahyahuddin Sodri, S.T., M.Sc., dosen SIL UI sebagai pembahas dan Ir. Heddy krishyana, M. Eng., M.Sc., Manajer sistem energi nuklir PT. Thorcon Power Indonesia sebagai moderator pada diseminasi ini yang diselenggarakan pada, Rabu (26/01).

Diseminasi kegiatan memiliki harapan agar peserta mendapatkan konsep dan pemahaman yang benar tentang energi nuklir dikaitkan dengan solusi bagi isu lingkungan: Climate Change dan untuk Mengejar Indonesia Sejahtera Dan Rendah Karbon Pada Tahun 2050. Hal ini berhubungan dengan kebutuhan energi listrik dan pembangkitan listrik yang ramah lingkungan. Konsep ini bermanfaat bagi diri peserta, baik pribadi maupun dapat disampaikan kepada orang lain.

 

Penulis: Rizky Syahputra | Editor: Maudisha AR

This post is also available in: English