Skip links

FISIP UI-Korlantas Polri Bahas Relasi Kemacetan Mudik dan Masalah Sosial-Kemanusiaan

Dua tahun berturut-turut mudik Lebaran terhalang dilakukan akibat pandemi pandemi Covid-19. Pada 2022, ketika pelonggaran kegiatan dan mobilitas terjadi, maka terasa sekali animo mudik lebaran. Hal ini tampak dari antusiasme masyarakat melengkapi vaksinasi ke-3 (booster) yang menjadi salah satu syarat perjalanan. Pada libur Lebaran kali ini, Jakarta terasa sepi karena ditinggalkan penghuninya yang pulang kampung menggunakan kendaraan umum dan pribadi. Untuk mencegah masalah lalu lintas sekaligus meningkatkan keamanan mudik, pemerintah telah melakukan berbagai upaya antisipasi.

Menurut Direktur Keamanan dan Keselamatan, Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri), Brigjen. Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si., kepolisian membuka banyak pos selama mudik, yaitu pos kemanan, pos kesehatan, pos pelayanan, dan pos terpadu. Kepolisian satuan lalu lintas (satlantas) juga membuka pelayanan virtual melalui digital maps di kawasan yang menjadi penyebab kemacetan ataupun kawasan rawan kecelakaan melalui monitoring National Traffic Management Center (NTMC) dan petugas lapangan. Ia menyampaikan hal itu pada dalam Kuliah Umum yang diadakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).

Selain itu, kepolisian satlantas juga menentukan rekayasa lalu lintas seperti ganjil-genap dan one-way serta menyosialisasikan rekayasa ini kepada masyarakat melalui media massa. Target dari Operasi Ketupat 2022 ini adalah kelancaran lalu lintas yang lebih baik, keselamatan pemudik yang ditunjukkan dengan menurunnya angka korban kecelakaan, serta memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan pengetatan protokol kesehatan.

“Dari data yang diperoleh, sebagian masyarakat Indonesia menggunakan tol. Oleh karena itu, kepolisian dan pemangku kebijakan memikirkan dampak kemacetan di jalan tol yang tidak hanya berkaitan dengan masalah lalu lintas dan transportasi, tetapi juga masalah sosial dan kemanusiaan. Ketika kemacetan terjadi di jalan tol, ini menjadi sangat rumit apalagi jika memakan korban jiwa,” kata Prof. Chryshanda.

Kuliah Umum bertema “Kemajuan Infrastruktur Jalan Tol, Meningkatnya Volume Kendaraan, Pandemi dan Tradisi dalam Peristiwa Mudik Lebaran 2022” ini dihadiri Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto; Guru Besar Sosiologi FISIP UI, Prof. Dr. Paulus Wirutomo; Ketua Program Studi Pascasarjana Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI, Johanna Debora Imelda, MA., Ph.D.; serta Ketua Program Studi Sarjana Departemen Antropologi FISIP UI, Dr. Phil. Imam Ardhianto.

Menurut Prof. Aji, lebaran merupakan momentum pulang kampung yang melibatkan jutaan orang dengan euphoria atau kesenangan yang luar biasa untuk bisa bertemu keluarga. Meski demikian, mudik kali ini bukan sekadar tradisi seperti pada tahun sebelumnya karena terjadi di tengah upaya menekan laju penyebaran virus Covid-19. Ledakan pergerakan pemudik ini diharapkan tidak menghambat kembalinya kehidupan normal walau dengan penerapan new normal.

Sementara itu, Dr. Paulus, Johanna, dan Dr. Imam melihat mudik sebagai fenomena sosial yang secara sistemik dan holistik dipengaruhi kondisi kultural, struktural, proses sosial. Kondisi kultural mencakup sistem nilai mengenai persaudaraan dan hubungan dengan orang tua. Begitu kuatnya pengaruh sistem nilai ini sehingga mendorong orang untuk bergerak mudik dengan mengambil momentum tradisi. Secara struktural, fenomena mudik tampak di seluruh stratifikasi sosial masyarakat karena yang mudik bukan hanya yang berlebaran, melainkan juga yang tidak merayakannya.

Mudik dibaca sebagai proses reproduksi sosial karena melestarikan atau melanggengkan karakteristik tradisi yang melahirkan tatanan dan stuktur sosial baru. Perubahan ini melahirkan masalah yang harus diantisipasi, seperti terjadinya kerumunan massa di rest area atau destinasi wisata yang meningkatkan penyebaran virus Covid-19. Masalah lain yang mungkin muncul adalah kerentanan risiko sosial, seperti konflik antar pemudik dan penyedia layanan. Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang cepat dan tanggap atas ketidakpuasan masyarakat akibat tekanan yang berpotensi menimbulkan kerusuhan.

Paradoks kegiatan mudik dapat dicegah dengan memenuhi nilai pertalian kekerabatan tanpa meningkatkan angka penularan Covid-19. Selain itu, kegiatan mudik harus dilakukan dengan aman dan sehat karena dibangunnya berbagai infrastruktur baru memengaruhi peningkatan mobilitas pemudik. Mengidentifikasi dan mengantisipasi mobilitas pemudik saat berada di tempat tujuan juga perlu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat.

This post is also available in: Indonesian