Skip links

FEB UI Adakan Program Kewirausahaan Sosial-Kesehatan Guna Berdayakan Lansia di Desa Dasan Agung, NTB

Di saat memasuki lanjut usia (lansia), manusia akan mengalami penurunan fungsi dan kemampuan pada tubuhnya. Hal ini akan memengaruhi tingkat ketergantungan lansia pada orang lain.

Pemerintah berupaya merancang dan membuat berbagai program pemberdayaan lansia guna meningkatkan partisipasi lansia dan memperpanjang produktivitas mereka. Berangkat dari kondisi lansia dan keinginan untuk memberdayakan mereka, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) melakukan kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas) yang memberdayakan para lansia agar lebih produktif dalam mengelola kebersihan lingkungan, sekaligus mengoptimalkan peluang pemberdayaan ekonomi dari pengelolaan sampah organik, melalui program pemberdayaan kewirausahaan Sosial-Kesehatan yang berjudul WASH (Water, Sanitation, and Hygiene). Kegiatan pengmas ini dilaksanakan di Kelurahan Dasan Agung, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ketua Tim Pengmas FEB UI, Elvia R. Shauki, Ph.D., mengatakan, “Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengedukasi dan memberdayakan masyarakat khususnya kelompok rentan lansia terhadap permasalahan air, kebersihan dan kesehatan lingkungan.” Kegiatan ini juga didukung oleh Yayasan Rumah Senja yang memenangkan penghargaan AMPL Awards (Air Minum dan Penyehatan Lingkungan) dari Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2022, Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dan Pemerintah Kota Mataram melalui Kecamatan Selaparang dan Kelurahan Dasan Agung Baru.

Lebih lanjut Elvia menjelaskan, dampak dari kegiatan ini dapat dilihat dari tiga sudut pandang. Pertama, dari sisi lingkungan. Kegiatan ini dapat dapat memicu terbangunnya perilaku hidup higienis dan saniter dimulai dari tingkatan rumah tangga.

Diharapkan ke depan, dengan sistem yang baik dan masif maka kegiatan ini dapat diduplikasi untuk mendorong tercapainya salah satu pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang bertujuan mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat. Salah satu prinsip dalam pilar STBM yaitu pengamanan sampah rumah tangga, dicapai melalui recycle dengan salah satu contoh kegiatannya adalah pemilahan sampah dapur organik untuk dimanfaatkan sebagai pupuk cair dengan metode komposting.

Kedua, dari sisi dampak sosial. Sasaran program ini merupakan warga Lanjut Usia (Lansia) yang selama ini seringkali mendapatkan stigma negatif sebagai warga masyarakat yang tidak produktif dan cenderung menjadi beban. Melalui kegiatan ini, lansia diberdayakan, sehingga tidak hanya menjadi penerima manfaat pasif, namun juga bisa menjadi agen perubahan aktif yang secara berkelanjutan memberi kontribusi positif dalam pembangunan.

Ketiga, dari dampak ekonomi. Salah satu luaran program ini adalah dihasilkannya pupuk cair organik sebagai hasil akhir pengelolaan sampah organik berbasis dapur rumah tangga. “Satu komposter rumah tangga diperkirakan dapat memproduksi rata rata 20-30 liter pupuk cair setiap bulannya. Satu liter pupuk cair dapat dijual rata-rata Rp3.000/liter. Sehingga, secara ekonomi satu komposter rumah tangga dapat menghasilkan Rp60.000 – Rp90.000 per bulan. Nilai ini cukup untuk setidaknya membayar iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bagi lansianya,” ujar Elvia.

Salah seorang anggota Tim Pengmas FEB UI, Desti Fitriani, M.A., dalam pembukaan workshop WASH menambahkan, program ini menjadi salah satu pilot skema kerjasama pentaheliks dalam membantu pemerintah mencapai target pembangunan. Dengan melibatkan kelompok lanjut usia untuk berpartisipasi, maka hal ini juga dapat menentukan arah pembangunan.

Kegiatan pembukaan pengmas tersebut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan setempat, yaitu Lurah Desa Dasan Agung, Mahnum; Camat Selaparang, Zulkarwin; Ketua Yayasan Rumah Senja, Romy Hidayat dan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Hj. Tuti Herawati.

Kelurahan Dasan Agung dipilih sebagai lokasi pengmas karena memiliki kelebihan dengan jumlah warga lansia yang banyak, sehingga penggerakan sasaran menjadi lebih mudah. Selain itu, Kelurahan ini juga pernah menjalankan Peraturan Daerah tengang manajemen pengelolaan sampah yang menjadi aspek enabling environtment penting dalam menjamin keberlangsungan kegiatan pengmas ini. Alasan lainnya adalah Kelurahan ini akan didorong menjadi Kelurahan Ramah Lansia di bawah payung program Kecamatan Selaparang Inklusi.

Setelah program ini diluncurkan, pemantauan berkala akan dilakukan untuk memonitor keberlanjutan program pengelolaan limbah organik rumah tangga di Desa Dasan Agung, serta mengevaluasi hasil produksinya berupa pupuk organik cair dan kompos padat. Hasil tersebut akan diperhitungkan untuk rencana perluasan program serupa di wilayah lainnya yang lebih luas untuk mendorong pemberdayaan masyarakat setempat dalam mengelola sampah.

This post is also available in: English