Skip links

Guru Besar FIA UI: Literasi Digital dan Keuangan Menuju Ketahanan UMKM

Situasi pandemi Covid-19 berdampak pada berbagai sektor, terutama pada kegiatan perekonomian nasional. Pemerintah Republik Indonesia telah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang sempat mengalami kontraksi pada tahun 2020 akibat pandemi ini. Menurut data Badan Pusat Statistik (2021), pandemi Covid-19 telah membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 turun sebesar 2,07 persen dibandingkan tahun 2019.

Kondisi tersebut turut memberikan dampak terhadap kelangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Untuk itu, ketahanan bisnis UMKM dalam masa pandemi merupakan isu penting mengingat porsi UMKM yang mayoritas pada perekonomian Indonesia dan dinilai dapat menjadi motor akselerasi pertumbuhan ekonomi. Presiden RI Joko Widodo mengatakan, digitalisasi adalah solusi bagi pelaku usaha UMKM dan koperasi untuk bertahan, tumbuh, dan berkembang di tengah situasi yang sulit serta di tengah pembatasan aktivitas dan mobilitas.

Prof. Ir. Bernardus Yuliarto Nugroho, MSM., Ph.D., dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Indonesia (UI), mengangkat isu ini menjadi topik dalam pidato pengukuhan guru besarnya sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Manajemen Keuangan, yang dilakukan secara hybrid, pada Sabtu(06/08).

Dalam pemaparannya, Prof. Bernadus menyampaikan, Kementerian Koperasi dan UKM mencatat, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai 65,47 juta unit pada tahun 2019. Jumlah tersebut naik 1,98% jika dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebesar 64,19 juta unit. Sehingga, dengan melihat jumlah UMKM tersebut, apabila didukung oleh ekosistem digitalisasi, maka kontribusinya akan lebih transparan dan signifikan bagi peningkatan potensi pendapatan negara.

“Kajian di Indonesia pun menyepakati bahwa literasi digital merupakan kecakapan menggunakan internet dan media digital yang banyak menekankan pada kecakapan pengguna media digital dalam melakukan proses mediasi media digital yang dilakukan secara produktif. Selanjutnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga menyepakati bahwa kecakapan digital di Indonesia masih rendah dan perlu ditingkatkan dengan berfokus pada 4 (empat) pilar utama yaitu Digital Skills, Digital Culture, Digital Ethics dan Digital Safety,” ujar Prof. Bernardus.

Dalam membangun ekosistem digital, dibutuhkan beberapa determinan yang menjadi enabling factor. Faktor pertama adalah terkait dengan Application Programming Interface (API) yang merupakan building block mendasar dari sebuah ekosistem digital. Faktor kedua adalah spearhead barang dan jasa yang ditujukan untuk segmen pasar tertentu. Ketiga adalah communities, yang menjadi konteks bagi ekosistem ini bekerja. Lalu, faktor support functions berupa aspek internal organisasi dan fungsi terkait lainnya yang memberikan dukungan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam ekosistem. Kelima, faktor tata kelola, dimana berisi aturan main dan mengatur relasi antar aktor yang terlibat dalam ekosistem.

Dan terakhir, faktor revenue model, yaitu terkait dengan model yang sejajar dengan kepentingan real dari pasar dan juga menjamin kewajaran bagi semua pihak. Selain digitalisasi, literasi keuangan juga berperan penting pada keberlanjutan dan ketahanan UMKM.

Di Indonesia, literasi keuangan mendapatkan porsi perhatian yang besar dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perbandingan data selama tiga kali pengumpulan data, yaitu tahun 2013, 2016 dan 2019 memperlihatkan adanya kenaikan tingkat literasi keuangan.

“Pada akhirnya keberhasilan literasi digital dan literasi keuangan dalam UMKM dipengaruhi oleh aktor-aktor yang berada dalam ekosistemnya. Aktor-Aktor tersebut adalah pemerintah, industri (pelaku usaha), masyarakat, media, dan akademisi. Demi mendukung harmonisasi dari inisiatif dan karya yang dilakukan oleh aktor-aktor tersebut diperlukan juga pengetahuan dan pemahaman mengenai institusi/kelembagaan, tata kelola, inovasi, kebijakan, dan budaya sebagai bagian penting dalam upaya menciptakan keberlanjutan dan ketahanan UMKM,” ujar Prof. Bernardus.

Bernardus menyelesaikan pendidikan S1 di ITB pada tahun 1986. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan Master of Science in Management di Krannert Graduate School of Management, Purdue University, USA dan menyelesaikan pendidikan Doctor of Philosophy di School of Economic and Finance, Curtin University, Australia.

Beberapa judul karya ilmiah dalam wilayah kajian ilmu manajemen keuangan, diantaranya Analysis of the Impact of Dividend on returns based on Market Condition (2022), Corporate Governance Mechanism and Corporate Performance: A Literature Review (2022), Wijaya,Pengaruh model bisnis canvasing terhadap risiko pada industri fintech P2P lending Indonesia (2022), Challenges and Issues on Marketing the Museum in Indonesia (2022), dan The Key role of the Financial Regulation in Fintech Ecosystem: A model Validation.