Skip links

Ide Kreatif, Riset, dan Komitmen Jadi Kunci Sukses Bisnis

(Foto : Shutterstock/Rawpixel.com)
(Foto : Shutterstock/Rawpixel.com)

Sejak dimulai pada Desember 2015 lalu, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tak pelak menghidupkan atmosfer kompetitif antarnegara anggota ASEAN.

Indonesia tidak bisa tinggal diam dan menonton saja. Berbagai ranah dalam kemajuan negara menjadi fokus pembangunan, salah satunya yang prakteknya marak saat ini adalah ranah kewirausahaan atau entrepreneurship.
Berbisnis mungkin bukan suatu hal yang baru bagi masyarakat Indonesia.

Namun, segala hal yang dianggap lumrah dilakukan tidak bisa lagi dilihat secara sederhana. Menjadi bagian dari MEA membutuhkan Indonesia yang satu dengan strategi jitu supaya handal menghadapi persaingan global.

Di antara berbagai perbincangan mengenai kewirausahaan di kalangan mahasiswa Indonesia, Forum Mahasiswa Islam Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB UI) bekerja sama dengan PKPU Beastudi Muda Angkatan 3 menambah pengetahuan kewirausahaan generasi muda lewat Entrepreneurship Talk “Inspiring Your Business Idea” di Auditorium IX Gedung FIB pada Jumat (19/2/2016).

Bincang-bincang tersebut menghadirkan CoFounder Code Margonda Didi Diarsa Adianadan Direktur Utama PT Relife Property sekaligus alumnus Fakultas Teknik UI Ghofar Rozaq Nazila yang berbagi seputar mengelola ide entrepreneur dan bagaimana merealisasikannya.

Acara dibuka oleh sambutan dari Ahmad Faris selaku ketua pelaksana, kemudian bincang-bincang dimoderatori oleh Honorable Winner IIEE UI 2015 M. Rasyid Ramdhani.

Meskipun sudah banyak ditemukan praktik kewirausahaan di berbagai kalangan masyarakat, menurut Didi Diarsa, sistem pendidikan Indonesia belum sepenuhnya mendukung pendidikan seputar kewirausahaan.

Hal tersebut dibuktikan dengan mayoritas kampus di Indonesia yang menetapkan basis pada akademik dan riset. Kurikulum perguruan tinggi masih belum dimanfaatkan pemerintah untuk mengembangkan dan mengasah kreativitas mahasiswa.

Padahal, apabila basis akademik, riset, dan kewirausahaan diseimbangkan, universitas bisa dengan mudah memperoleh funding atau pendanaan untuk pemenuhan fasilitasnya seperti yang diterapkan Stanford University.
Berkaitan dengan sisi kewirausahaan dalam diri generasi muda, Didi lebih menekankan pada tahap penemuan dan pematangan ide.

“Ide sebenarnya bisa kita dapatkan kapan pun dalam kehidupan kita semua. Coba beranikan catat ide liar kita setiap hari atau datang saja ke creative space untuk mendapatkan usulan ide kreatif,” terang Didi.

Ia juga mengatakan bahwa penting melakukan validasi ide atau riset berkelanjutan setelah kita memilih suatu ide sehingga tidak hanya dibayangkan, namun ide tersebut benar-benar bisa diwujudkan.

Melengkapi proses pematangan sisi kewirausahaan dalam diri generasi muda, Ghofar Rozaq kemudian menyebut komitmen dan konsisten sebagai kata kunci keberhasilan entrepreneur.

Ghofar setuju bahwa peluang bisa ditemukan di mana saja asal pantang menyerah dan terus mencoba. “Akan lebih baik apabila kita tidak meletakkan uang sebagai tujuan bisnis kita karena saat berbisnis, posisinya adalah kita siap mendapat uang, tapi juga siap kehilangan uang,” tambah Ghofar.

Dalam hal ini, berwirausaha merupakan kombinasi perencanaan yang serba matang, terdiri dari kreativitas dan kematangan ide, validasi ide, dan kesiapan diri entrepreneur seperti ketekunan, menjaga komitmen, dan konsistensi.
Penulis : Ayu Larasati

This post is also available in: English

Leave a comment