Skip links

Kolaborasi UI dan Farmaklik Hubungkan Setiap Elemen dalam Bisnis Produk Kesehatan

Di Indonesia, start-up adalah model bisnis yang tumbuh cepat dalam empat tahun terakhir. Sayangnya, banyak start-up yang gagal, bahkan sebelum dikenal masyarakat. Dalam acara puncak “UI Investment and Start-Up Forum” yang diadakan di Balai Sidang UI dan ditayangkan secara langsung di kanal Youtube, pada Kamis (14/04), Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan talkshow bertajuk “Managing Start-Up”.

Acara ini merupakan wujud komitmen UI untuk mendukung start-up dan founder muda dalam menyambut ekonomi digital yang berkembang saat ini. Pada kesempatan tersebut, UI turut menghadirkan CEO dan Co-Founder dari Farmaklik, apt. Ridho Muhammad Sakti, S.Farm.

Farmaklik merupakan platform jual-beli online produk kesehatan. Platform ini menawarkan proses transaksi yang mudah, cepat, aman, transparan, dan dengan harga yang murah. Ridho menyatakan, dari 30.000 apotek yang tergabung, 10% merupakan apotek korporasi, sedangkan sisanya adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dari data ini, Farmaklik melihat adanya peluang bagi UMKM untuk dikembangkan secara luas. Dengan teknologi yang menghubungkan setiap elemen dalam bisnis produk kesehatan, seperti supplier dan retail (apotek UMKM), Farmaklik memenuhi kebutuhan konsumen atas ribuan produk kesehatan.

Berawal dari adanya kekhawatiran atas sistem manajemen farmasi yang dipenuhi hal administratif, Ridho memutuskan mendirikan Farmaklik. Pendirian ini juga dilatarbelakangi oleh banyaknya apoteker—terutama yang berbasis UMKM—yang kurang memiliki skill di bidang bisnis dan kesulitan mendapatkan akses modal. Selain itu, kesulitan juga dirasakan produsen obat saat mendistribusikan produk, karena terbatasnya akses menuju pasar. Karena faktor tersebut, Farmaklik hadir untuk mendukung retail, termasuk klinik dan apotek, guna memaksimalkan penjualan dengan cara menghubungkan produsen dan apotek.

Perjalanan pendirian Farmaklik dimulai pada 2016. Saat itu, Ridho dan timnya merilis OBAT Apps yang merupakan aplikasi edukasi mengenai farmasi yang menghubungkan mentor, apoteker, serta universitas demi meningkatkan kualitas pendidikan, terutama bagi siswa yang ada di desa. Para founder yang merupakan alumni UI itu selanjutnya merilis Farmaklik Poin of Sale (POS) pada 2018. Melalui aplikasi Farmaklik POS, apoteker dapat memaksimalkan operasional apotek. Sayangnya, dibutuhkan lebih banyak pengetahuan ketika seorang apoteker ingin membuka apotek. Akhirnya, setelah melakukan berbagai pengamatan dan riset, Ridho dan teman-temannya berhasil menciptakan Farmaklik.

Untuk menciptakan ekosistem bisnis farmasi, Ridho dan tim berhasil membangun Apotek Pharmacare. Sejauh ini, mereka telah membangun 6 apotek yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. “Rencananya, kami dan UI akan berkolaborasi membangun 4 apotek Pharma UI di wilayah Jabodetabek. UI dan Farmaklik juga bekerja sama menciptakan aplikasi telemedicine yang merupakan teknologi pelayanan kesehatan jarak jauh. Dalam kerja sama ini, kami akan bertukar data untuk meningkatkan platform pelayanan kesehatan,” kata Ridho dalam pemaparannya.

Meski tidak menerima investasi, Ridho mengaku Farmaklik berhasil meraup omzet Rp 96 miliar per tahun. Farmaklik berhasil mengakuisisi hampir 15.000 retail apotek serta mendapatkan 147.000 pengguna, baik apoteker maupun mahasiswa. Dengan konsep bisnis Business to Business (B2B), Farmaklik melakukan kerja sama dengan 139 universitas di Indonesia. Selain UI, strategic partnership yang dimiliki Farmaklik, antara lain Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia, Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia, REPUBLIKA, Tribun Jabar, Antara News, dan Liputan6.com.

Aplikasi Farmaklik dapat diakses melalui Play Store yang terdapat di ponsel pengguna. Bagi apotek yang berminat menjadi mitra Farmaklik, mereka harus memiliki surat izin apotek yang masih berlaku, surat izin praktek apoteker penanggung jawab, dan yang terpenting adalah semangat untuk maju. Dengan ekosistem yang diusung Farmaklik, inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia serta mampu menjadi pemicu bagi para kaum muda untuk terus berkontribusi pada negeri.

This post is also available in: English