Skip links

Logam Paduan Titanium Masih Pilihan Terbaik Karena Ketahanan Korosi Terhadap Fluktuasi di Mulut

Ortodonti merupakan salah satu satu cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari pertumbuhan fasial dan perkembangan gigi serta oklusinya, mencakup diagnosa dan tata laksana perawatan anomali oklusi atau maloklusi. Umumnya, pasien yang datang ke dokter gigi spesialis ortodonti karena alasan estetis dan berharap perbaikan terhadap susunan giginya. Padahal, sesungguhnya perawatan ortodonti bertujuan untuk memperbaiki fungsi sistem stomatognati dan mencapai estetika fungsi yang optimal.

Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. drg. Haru Setyo Anggani, Sp.Ort(K), pada pidato pengukuhan Guru Besarnya, pada Sabtu (6 Agustus 2022). Ia membahas mengenai perkembangan berbagai penelitian laboratori maupun klinis mengenai Mini Implan Ortodonti (selanjutnya disebut MIO), baik dari segi pemanfaatan, pembuatan, dan risiko pengaplikasiannya.

Prof. Haru menjelaskan bahwa penjangkaran ortodonti merupakan faktor penting yang dapat memengaruhi keberhasilan suatu perawatan ortodonti. “Penjangkaran ortodonti adalah tahanan terhadap gaya ortodonti yang tidak diinginkan, yang dapat diperoleh baik secara intraoral, ekstraoral, atau dengan menggunakan implan intra oral yang ditanam pada tulang rahang,” ujarnya.

Ia menambahkan,  sumber penjangkaran ortodonti dapat diperoleh dari gigi lainnya, palatum, kepala dan leher, ataupun dari piranti penjangkaran ortodonti tambahan yang dipasang pada rahang. Perawatan ortodonti konvensional seringkali sulit menciptakan sistem penjangkaran ortodonti intra oral yang absolut, meskipun sudah dibantu dengan penambahan piranti penjangkaran intra oral.

Menurut Prof. Haru, adakalanya dokter gigi spesialis ortodonti harus menggunakan penjangkaran ekstra oral, seperti headgear. “Tetapi penggunaan penjangkaran ekstra oral sangat bergantung pada kepatuhan pasien, sehingga sulit untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Berdasarkan hal tersebut, tercetuslah ide untuk membuat skeletal anchorage, yang tidak terlalu membutuhkan kepatuhan pasien guna mencapai keberhasilan perawatan ortodonti,” kata dosen Departemen Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi UI (FKG UI) ini.

Skeletal anchorage diawali dengan penggunaan dental implant oleh Shapiro dan Kokich pada tahun 1998. Penggunaan istilah Temporary Anchorage Device (TAD) secara spesifik merujuk pada miniscrew yang digunakan untuk tujuan ortodonti, yakni sebagai penjangkaran skeletal dalam pergerakan ortodonti.

Penggunaan istilah TAD secara spesifik merujuk pada mini-screw yang digunakan untuk tujuan ortodonti, yakni sebagai penjangkaran skeletal dalam pergerakan ortodonti. Sekalipun demikian, istilah TAD tidak menjelaskan peran tulang pada penjangkaran, sehingga istilah MIO kemudian dianggap lebih tepat digunakan untuk menggambarkan segi ukurannya, peran tulang sebagai unit penjangkar, serta penggunaannya yang spesifik pada penjangkaran ortodonti.

MIO sebenarnya dapat berupa mini-plate atau mini-screw. Mini-plate cukup sering dipakai di beberapa negara seperti Jepang, tetapi kekurangan dari penggunaan mini-plate adalah pemasangan dan penglepasannya yang membutuhkan rujukan ke spesialis lainnya –biasanya dokter gigi spesialis periodonti atau dokter gigi spesialis bedah mulut. Selain itu diperlukan insisi yang cukup besar saat pemasangan. Prof. Haru mengatakan risiko dari penggunaan mini-plate bagi pasien akan mengalami rasa sakit yang lebih besar.

Infeksi dan inflamasi bukanlah satu-satunya risiko pemasangan MIO. Risiko lain yang dapat terjadi adalah terjadi mobillitas MIO, patahnya MIO, atau bahkan lepasnya MIO sebelum atau selama pemakaian.

“Ditemukan dari penelitian kami bahwa tanda-tanda inflamasi awal sudah ada sejak MIO ditanam dalam tulang rahang yang kemudian berkurang setelah ditatalaksana dengan larutan kumur,” kata Prof. Haru. Di departemen Ortodonti FKGUI, telah diteliti mengenai ketahanan korosi suatu MIO berbahan dasar logam titanium terhadap larutan kumur.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa logam paduan titanium masih merupakan pilihan terbaik karena memiliki ketahanan korosi yang baik terhadap fluktuasi kondisi lingkungan di dalam mulut. Penelitian yang difokuskan pada pemakaian Mini Implan Ortodonti telah dilakukan oleh para ahli atau para spesialis di bidang ortodonti. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan mengoptimalisasikan pemakaian MIO dalam penatalaksanaan perawatan kasus-kasus kelainan dentokraniofasial. Lebih jauh lagi diperlukan suatu keterampilan dalam pemasangan maupun pelepasan MIO disertai kemampuan guna menatalaksana setiap risiko pemasangan MIO. Departemen Ortodonti Fakultas FKG UI memiliki peluang untuk mengembangkan penelitian-penelitian laboratorik maupun klinis mengenai MIO, baik dari segi pemanfaatannya maupun pembuatannya.

“Kolaborasi penelitian dengan bidang studi lain, dalam rangka pengembangan Ilmu Kedokteran Gigi Klinik khususnya bidang ortodonti telah mulai kami rintis, namun kami juga mengharapkan adanya kolaborasi dengan bidang keilmuan lain, sehingga di masa depan diharapkan UI dapat memberikan sumbangsihnya dalam pengadaan alat kesehatan di bidang Ortodonti berupa Mini Implan Ortodonti,” ujar Prof. Haru.

Guru besar FKG UI ini menyelesaikan studi S1 Profesi Kedokteran Gigi pada tahun 1982 di FKG UI. Kemudian di tempat yang sama, Prof. Haru menyelesaikan studinya sebagai Spesialis Ortodonsia pada tahun 1992, Spesialis II Kolegium Ortodonsia pada tahun 2006, dan berhasil gelar Doktor Ilmu Kedokteran Gigi pada tahun 2012 di FKG UI.

Ia memiliki beberapa publikasi ilmiah di bidangnya, diantaranya adalah Evaluation of IL-1A and IL-1B COX 2, and mRNA Expression in Orthodontic Patient Given Chitosan Mouthwash During Treatment with Miniscrew (2021), The Color Improvement of Post Debonding White Spot Lesions after Fluoride and Casein Phosphopeptidea Amorphous Calcium Phosphate application (2021), The Effect of Coating Chitosan on Porphyromonas Gingivalis Biofilm Formation in The Surface of Orthodontic Mini-implant (2021), Mini Implan Orthodonti sebagai Penjangkaran pada Perawatan Maloklusi Kelas II Skeletal (2021), Perawatan Ortodonti Kamuflase pada Maloklusi Kelas III Skeletal dengan Gigitan terbuka anterior (2021), Chitosan gel prevents the growth of Porphyromonas gingivalis, Tannerella forsythia, and Treponema denticola in mini-implant during orthodontic treatment (2021), dan lainnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

This post is also available in: English