Skip links

Membahas “Ketidakseriusan” Musik Populer dengan Serius di FIB UI

“Pendidikan musik populer kini sudah lebih serius. Di Amerika, ada enam universitas yang membuka mata kuliah musik populer dengan program course mengenai The Beatles,” kata Dr. Harsawibawa Albertus, Dosen Departemen Ilmu Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB UI). Ia menyatakan itu dalam acara “Dari Ngak Ngik Ngok ke Dheg Dheg Plas: Diskusi Buku Perjalanan Musik Populer Indonesia Tahun 1960-an” yang diadakan Departemen Ilmu Susastra FIB UI bekerja sama dengan Jakarta Center for Cultural Studies (JCCS).

Buku yang menjadi bahan diskusi adalah karya Ignatius Aditya Adhiyatmaka yang mengulas kekayaan dan perkembangan musik populer di Indonesia pada tahun 1960-an. Buku tersebut merupakan proyek lanjutan dari Irama Nusantara, yakni sebuah yayasan sosial dan situs web pengarsipan musik yang diluncurkan pada 2013.

Irama Nusantara berpusat pada pelestarian, pengarsipan, dan pendokumentasian musik populer Indonesia dari era 1920-an hingga 1980-an. Setelah sembilan tahun berkiprah, Irama Nusantara telah mengarsipkan secara digital rilisan perusahaan rekaman periode 1950–1960-an, seperti Irama, Lokananta, Mesra, dan Remaco.

Menurut Aditya, musik populer Indonesia muncul sejak 1903, ditandai dengan berdirinya perusahaan rekaman dari Inggris Raya bernama The Gramophone and Typewriter Ltd. yang merilis rekaman musik pertama di Hindia Belanda. Tonggak industri musik populer di Indonesia terlihat pada awal 1950-an dengan hadirnya perusahaan rekaman musik lokal bernama The Indonesian Music Company Limited (Irama).

Perkembangan musik ini sempat terhambat pada 1960-an karena banyaknya aturan, namun pada 1965 terjadi perubahan signifikan, sehingga terjadi pelonggaran terhadap karya musik pop.  “Dekade 60-an menjadi titik penting bagi perkembangan musik populer di Indonesia. Jika kita berbicara tentang musik populer, ada berbagai permasalahan mengenai ‘apa itu populer?’ atau yang kita sebut sebagai budaya populer. Perdebatan ini masih berlangsung dan musik populer menjadi salah satunya,” kata Aditya yang merupakan alumnus program magister di FIB UI.

Musik populer merupakan musik yang menarik perhatian massa dan dinikmati sebagian besar orang. Musik jenis ini memiliki melodi yang kuat dan mudah diingat. Tema lagu populer sangat beragam, ada yang menggambarkan kegembiraan dan sakit hati akibat percintaan, sebagian lainnya merupakan protes sosial terhadap ketidakadilan. Kendati begitu, tujuan utama musik populer adalah untuk menghibur.

Istilah musik populer dipergunakan untuk membedakannya dengan musik klasik. Banyak yang menganggap musik populer ringan dan menghibur, sedangkan musik klasik serius, murni, dan sulit diapresiasi. Istilah musik populer meliputi berbagai gaya musik yang berbeda, seperti musik country dan western Amerika, jazz, musik dari komedi musikal dan pertunjukan panggung lain, musik film, serta rock, soul, dan reggae yang membentuk musik pop modern.

“Ketidakseriusan” musik populer ini ditanggapi Dr. Harsawibawa, yang berpendapat bahwa pandangan itu muncul pada awal studi musik ini. Musik populer dianggap tidak membutuhkan kemampuan khusus dalam penciptaannya dan tidak memerlukan pengetahuan tertentu untuk menikmatinya. Musik populer tidak membutuhkan ilmu, seperti harmoni, kontrapung, teori musik, atau orkestrasi. Selain itu, banyak hal yang tidak bisa diukur dalam musik populer, seperti dinamika dan tempo. Perkembangan teknologi, faktor ekonomi, dan fashion juga membuatnya mudah berubah.

Pandangan ketidakseriusan musik populer kini mulai terbantah dengan banyaknya studi ilmiah tentang musik populer di berbagai universitas. Ditambah lagi, dengan adanya kemajuan teknologi, industri musik populer berkembang pesat dan masuk ke berbagai kalangan melalui berbagai platform digital. Ini menunjukkan musik populer bisa didekati dengan “serius” ataupun tidak.

Sejalan dengan musik populer yang bisa didekati dari dua sisi, buku Dari Ngak Ngik Ngok ke Dheg Dheg Plas menampilkan kontradiksi yang impresif dan ekspresif. Judul buku diambil dari onomatope atau tiruan bunyi dari alunan musik, yaitu “ngak ngik ngok, dheg dheg plas”. Sementara itu, isi buku berbeda dari judul dan kover buku yang terkesan “tidak serius atau ringan” karena buku tersebut mengulas perjalanan musik di era ‘60-an dengan pembahasan yang detail dan “serius”.

This post is also available in: English