Skip links

Peringati Hari Kesehatan Tidur Sedunia, FKUI–RSCM Gelar Sosialisasi Tidur Berkualitas

Gangguan tidur adalah salah satu gejala depresi yang termuat dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV). Fisiologi tidur yang normal terdiri atas 4 tahap, yaitu tahap 1, 2, 3, dan 4 yang berlangsung berulang-ulang. Gangguan tidur yang dialami sebagian orang adalah insomnia dan hipersomnia. Ketidakmampuan untuk tidur dalam waktu lama dapat menjadi tanda bahwa orang itu mengidap depresi. Gangguan tidur dapat disebabkan banyak hal yang berasal dari faktor genetik, psikologis, dan lingkungan.

Gangguan tidur dapat menimpa siapa saja, termasuk penderita ADHD. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dalam istilah Indonesia dikenal dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif (GPPH). Ini merupakan gangguan perilaku anak berupa hiperaktivitas, impulsivitas, dan responsivitas. Anak penderita ADHD mengalami kesulitan untuk fokus pada satu hal, merasa cepat bosan terhadap suatu aktivitas, memiliki aktivitas fisik yang tinggi sehingga selalu bergerak, serta sulit mengontrol reaksi dan berpikir sebelum bertindak.

“ADHD memiliki keterkaitan yang besar dengan gangguan tidur. Hal tersebut dapat dilihat dari angka riset yang menunjukkan anak dengan gangguan ADHD memiliki potensi lima kali lebih besar terkena gangguan tidur dibandingkan anak pada umumnya. Penelitian lain juga menyatakan sekitar 70% anak dengan gangguan tidur merupakan penderita ADHD,” kata Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH. dalam acara “Talkshow dan Konser Hari Kesehatan Tidur Sedunia”, pada Jumat (25/3) lalu.

Selain ADHD, obesitas juga memiliki kaitan erat dengan gangguan tidur pada anak. Menurut dr. Klara Yulianti, SpA(K), obesitas pada anak sering kali dianggap remeh karena anak terlihat lebih lucu dan imut. Padahal, obesitas mengganggu sistem metabolisme tubuh anak. Salah satu faktor risiko yang membuat terjadinya obesitas adalah tidak teraturnya pola tidur, misalnya tidur yang tidak cukup atau kurang dari 8 jam per hari. Kekurangan tidur ini berimbas pada terganggunya sistem pencernaan anak.

Faktor lain yang berkaitan dengan gangguan tidur adalah sakit kepala. Dr. dr. Astri Budikayanti, SpS(K) mengatakan, antara sakit kepala dan sulit tidur tidak dapat disimpulkan mana yang muncul terlebih dahulu. Bisa saja sakit kepala yang menyebabkan kesulitan tidur atau sebaliknya, kesulitan tidur yang menyebabkan sakit kepala. Pernyataan Dr. Astri tersebut diamini dr. Rudi Putranto, SpPD, K.Psi, FINASIM. Menurut dr. Rudi, sakit kepala secara fisik dapat dipengaruhi faktor psikologis. Pengaruh psikologi terhadap kondisi fisik disebut psikosomatik. Psikosomatik berpengaruh terhadap pola tidur seseorang.

Untuk mengatasi gangguan tidur tersebut, Dr. dr. Tirza Tamin, SpKFR (K) dan dr. Rahmanofa Yunizaf, SpTHT-KL (K) memaparkan cara tidur yang baik demi memperoleh kesehatan dan kebugaran tubuh. Bugar dan segar menurut Dr. Tirza erat kaitannya dengan konsep sehat. Sehat menurut UU No. 36 Tahun 2009 merupakan kondisi tubuh manusia yang tidak terkena penyakit apa pun, baik secara jasmani maupun psikis. Adapun bugar merupakan kemampuan seseorang untuk beraktivitas secara energik dan tetap energik pasca beraktivitas. Tubuh yang bugar dan sehat dibentuk dari kebiasaan sehari-hari yang membangun tubuh.

Untuk menghasilkan tubuh yang sehat dan bugar, diperlukan tidur yang cukup secara kuantitatif dan kualitatif. Menurut dr. Rahmanofa, tidur yang cukup secara kuantitatif adalah cukup jam tidurnya, sedangkan secara kualitatif tidur yang cukup dilakukan dengan posisi tubuh yang baik. Kualitas tidur ditentukan oleh cara seseorang mempersiapkan tidurnya pada malam hari, seperti kedalaman tidur dan kemudahan untuk tertidur tanpa bantuan medis. Kualitas tidur yang baik dapat memberikan perasaan tenang di pagi hari, perasaan energik, dan tidak mengeluh gangguan tidur. Dengan kata lain, memiliki kualitas tidur baik sangat penting dan vital untuk kesehatan semua orang.

Talkshow dan Konser Hari Kesehatan Tidur Sedunia” merupakan acara yang digelar Departemen/Kelompok Staff Medis Telinga Hidung Tenggorok–Kepala Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia–Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI–RSCM) bersama Instalasi Peningkatan Kompetensi dan Simulasi Klinik (iCom-Sik_ICTEC RSCM FKUI). Acara ini merupakan rangkaian penutup dari webinar series yang berlangsung selama bulan Maret 2022 yang diikuti 48.592 peserta dari seluruh Indonesia. Talkshow tersebut diselingi konser musik yang dibawakan para asisten konsuler dan dimulai dengan opening remarks dari dr. Ika Dewi Mayangsari, SpTHT-KL(K) selaku Ketua Departemen THT–KL FKUI–RSCM.

This post is also available in: English