Skip links

Transformasi Program Pemberdayaan dari “Daya Saing” Menjadi “Daya Gotong-Royong”

G20 merupakan forum internasional yang berfokus pada koordinasi kebijakan di bidang ekonomi dan pembangunan. G20 merepresentasikan kekuatan ekonomi dan politik dunia dengan komposisi 80% produk domestik bruto (PDB) dunia, 75% ekspor global, dan 60% populasi global. Anggota G20 terdiri atas 19 negara dan satu kawasan, yaitu Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Perancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Republik Korea, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Satu dari tiga prioritas G20 adalah transformasi ekonomi berbasis digital atau Digital Economy Transformation. Pada konferensi internasional yang diadakan Universitas Indonesia (UI) guna mendukung Presidensi G20 Indonesia 2022, diadakan diskusi terkait potensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang cukup besar di Indonesia. Pasar konsumen Indonesia turut memberikan kesempatan bagi para pelaku UMKM untuk mengembangkan produknya dengan baik. Pemerintah pun turun tangan membantu para pelaku UMKM, salah satunya melalui modal usaha.

Meski begitu, dalam perjalanannya, potensi UMKM di Indonesia memiliki beberapa tantangan, salah satunya seperti yang dikemukakan Prof. Mohammed Ali Berawi, S.T., Ph.D., selaku Guru Besar Fakultas Teknik (FT) UI. “Tantangan UMKM kita termasuk masalah modal usaha, kualitas sumber daya manusia (SDM), inovasi, dan dukungan. Kita sudah coba berbagai strategi untuk mendeteksi masalah demi skema crowdfunding (pemberian modal secara bersama-sama). Crowdfunding berasal dari kepemilikan bersama yang setuju melakukan investasi bersama. Dari sini kita akan arahkan bagaimana crowdfunding masuk ke proyek infrastruktur,” kata Prof. Ali.

Besarnya potensi UMKM ini juga dirasakan perempuan pelaku usaha. Menurut Dr. Palupi Lindiasari Samputra, S.Pi., M.M., dari Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI, selain persaingan usaha di marketplace, perempuan pelaku usaha UMKM juga dihadapkan pada kurangnya inklusifitas internet sebagai bagian dari digital marketing usaha mereka. UMKM dan perempuan merupakan tulang punggung perekonomian mikro kecil dan menengah yang memiliki peranan sangat besar. Di Indonesia lebih dari 60% pelaku UMKM didominasi perempuan (usaha mikro 52%, usaha kecil 56%, dan usaha menengah 34%). Namun, ada ketimpangan pendapatan antara pengusaha laki-laki dan perempuan.

“Kita tahu pelaku usaha UMKM memiliki kontribusi besar terhadap gross domestic product (GDP). Akan tetapi, pendapatan mereka hanya Rp12 juta/bulan. Jika dibandingkan dengan usaha besar, perbedaan pendapatan keduanya sangat jauh. Fokus pelaku UMKM adalah pasar domestik. Apabila dibatasi dengan gender, masalah yang muncul adalah jumlah UMKM perempuan mendominasi di Indonesia lebih dar 60%, tetapi kontribusinya baru 9,1%. Dengan adanya transformasi digital, diharapkan pendapatan UMKM bisa “naik kelas,” kata Dr. Palupi menutup pemaparannya.

Transformasi program pemberdayaan dari “Daya Saing” menjadi “Daya Gotong-royong” secara sadar dan peduli bergerak membangun usaha bersama yang berprinsip kekeluargaan dan berbasis  spesialisasi kemampuan masing-masing. Ini bisa menjadi langkah untuk melindungi usaha mereka dari persaingan tidak sehat serta proteksi pasar domestik dari produk luar negeri sejenis. Marketplace global atau yang ada di negara maju juga dapat memberikan kemudahan akses bagi UMKM negara berkembang untuk masuk pasar internasional atau Global Marketplace Inklusif. Sarana internet inklusif juga penting untuk bisa diakses oleh masyarakat dan pelaku usaha UMKM untuk keberlanjutan usaha yang lebih baik.

Topik lain yang juga dibahas dalam konferensi ini adalah inklusivitas rantai nilai global dan kewirausahaan digital oleh Mohammad Dian Revindo, M.Sc., M.A., Ph.D., dari SKSG UI; strategi pemerataan akses digital perumahan dalam sinergi hubungan kota-desa oleh Dr. Phil Hendricus Andy Simarmata, S.T., M.Si., dari FT UI; upaya kolektif anggota G20 dan dunia dalam penaganan isu global oleh Munawar Khalil, S.Si., M.Eng.Sc., Ph.D., dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan UI; mengkonkritkan hasil presidensi G20 bagi pembangunan nasional Indonesia oleh Drs. Makmur Keliat, Ph.D., dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI; serta ditutup dengan pembahasan Topik Prioritas T20 oleh Jahen Rezki, Sari Wahyuni, dan Luluk Widyawati dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI.