Skip links

UI Jadikan Idulfitri 1443 H Sebagai Momentum Mempererat Persaudaraan dalam Harmoni Kebinekaan dan Kebangsaan

Halal bihalal merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang menjadi jembatan sosial bagi warga untuk merajut komunikasi dan silaturahmi, termasuk merajut tali persaudaraan, kata Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Zulfa Mustofa. Ia menambahkan, pada momen itu semua orang berkumpul tanpa melihat latar belakang agama, ras, suku, dan etnis. Tradisi inilah, menurutnya, yang membuat Indonesia tetap utuh meski penuh kebhinekaan dan keragaman.

Hal tersebut disampaikan K.H. Zulfa dalam tausiah di acara halal bihalal yang diadakan secara virtual oleh Universitas Indonesia (UI), pada Senin (9/5). Dengan mengusung tema “Idulfitri 1443 H sebagai Momentum Merajut Silaturahmi, Mempererat Persaudaraan dalam Harmoni Kebinekaan dan Kebangsaan”, acara silaturahmi ini dihadiri Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D.; Ketua Majelis Wali Amanat, Saleh Husin, S.E., M.Si.; Ketua Senat Akademik, Prof. Nachrowi Djalal Nachrowi, M.Sc., M.Phil., Ph.D.; dan Ketua Dewan Guru Besar, Prof. Harkristuti Harkrisnowo, S.H., M.A., Ph.D.

Dalam kesempatan itu, Rektor UI mewakili pimpinan dan sivitas akademika UI menyampaikan ucapan selamat Idulfitri 1443 H. “Semoga kita sebagai keluarga besar UI terus mempererat silaturahmi, bersinergi meski berasal dari beragam budaya, dan selalu menjaga marwah UI. Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang mencapai kemenangan dalam beribadah. Matahari selalu muncul dari Timur, meskipun kita tidak peduli akan hal itu, tetaplah menjadi baik sepanjang umur karena dalam jiwa kita terpatri nama UI,” kata Prof. Ari.

Dalam tausiahnya, K.H. Zulfa Mustofa juga menyampaikan, kunci keutuhan NKRI dan kekuatan bangsa ini adalah silaturahmi. Menurut K.H. Zulfa, kunci beragama adalah akhlak karena agama datang untuk menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak yang baik meliputi akhlak manusia kepada Allah (habluminallah) dan akhlak manusia kepada sesamanya (habluminannas). Pada bulan Ramadhan, manusia diajarkan berakhlak baik kepada Allah dengan beribadah dan berpuasa untuk meningkatkan spiritualitas. Sementara itu, pada bulan Syawal, manusia diajarkan berakhlak baik kepada manusia dengan cara saling memaafkan dan menyayangi. Mukmin yang unggul adalah yang bisa menjalankan keduanya.

K.H. Zulfa mengutip syair dari Imam Al Busti, bahwa jika ingin mengetahui ukuran keagamaan, kesalehan, dan kemanusiaan seseorang, lihatlah bagaimana akhlaknya. Berusahalah Anda menyempurnakan akhlak karena sesungguhnya dirimu dihormati karena akhlak, bukan karena fisik, harta, ataupun jabatan. Menurutnya, ada orang yang dihormati saat memiliki jabatan dan harta. Ketika orang tersebut kehilangan harta dan jabatannya, ia ditinggalkan. Ini menunjukkan, jika seseorang menonjolkan gelar dan hartanya, ketika keduanya hilang, lenyap juga kehormatannya.

“Semua agama mengajarkan akhlak baik. Kita harus jujur, siapa pun dia, ketika berakhlak baik, berarti dia baik. Selama ini kita masih terbawa pada fanatisme sempit dan fanatisme golongan sehingga mata hati kita tertutup. Kita tidak bisa melihat kebaikan maupun kebenaran yang ada pada orang lain. Yang berbahaya adalah ketika kita mudah mengafirkan orang lain, bahkan kepada sesama muslim,” kata K.H. Zulfa.

Perbedaan dalam masyarakat sering dianggap sebagai pembeda antargolongan, misalnya antara Islam dan Kristen ada perbedaan akidah. Padahal, ada ajaran-ajaran yang bersifat universal pada keduanya, seperti bersikap adil dan berlaku baik. Dalam kelompok Islam, Nahdatul Ulama, dan Muhammadiyah juga memiliki perbedaan dalam beberapa hal, contohnya qunut dalam salat Subuh dan jumlah rakaat dalam salat Taraweh. Akan tetapi, meski ada perbedaan, keduanya tetaplah saudara. Sebagaimana dikatakan Imam Asyhari kepada muridnya, aku tidak pernah mengafirkan sesama muslim yang masih menyembah ke arah kiblat yang sama. 

Dalam kesempatan itu, K.H. Zulfa juga mengimbau agar sesama manusia saling membantu dan berbuat baik tanpa memadang latar belakang mereka. “Sebelum menerima ilmu, seseorang harus membersihkan hatinya sebagai wadah agar ilmu tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain. Ibadah yang dilakukan seseorang tidak hanya terbatas secara fisik, tetapi harus direnungi dalam jiwa,” kata K.H. Zulfa menutup tausiahnya.

Acara halal bihalal tersebut dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Ketua Pelaksana Masjid Ukhuwah Islamiyah, Achmad Solechan, M.Si. dan ditutup dengan ucapan Idulfitri dari dekan dan staf seluruh fakultas di UI.

This post is also available in: English