Skip links

Upaya Lestarikan Tradisi Nusantara Melalui Pagelaran Seni “Minggu Semata Wayang”

Dengan misi memperkenalkan dan melestarikan tradisi Nusantara melalui beragam seni dan budaya kepada masyarakat di era yang serba modern ini, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) bekerja sama dengan Sanggar Budaya Rumah Cinwa, mengadakan pagelaran seni budaya “Minggu Semata Wayang”. Pada ajang tersebut ditampilkan Wayang Kulit Purwa, Wayang Potehi, Karawitan Jawa, Tari Shiu Pat Mo, juga memberikan pelatihan dan penampilan Batik Depok.

Dalam kegiatan “Minggu Semata Wayang”, selain workshop batik, juga ditampilkan peragaan busana motif Batik Depok oleh Ratna Batik and Craft. Batik Depok mengangkat motif-motif yang terinspirasi dari budaya dan hasil alam masyarakat Depok, seperti Gong Si Bolong, Topeng Cisalak, Belimbing Dewi, ikan manfish, dan lain-lain. Selain bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) FIB UI dan Ratna Batik and Craft bersinergi dalam usaha mengangkat identitas Depok.

Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi PPKB FIB UI, Program Studi (Prodi) Sastra Jawa FIB UI, Sanggar Budaya Rumah Cinwa, Sanggar Panji Laras, Kelompok Jatijajar Laras, Ratna Batik and Craft, dan masyarakat Setu Jatijajar. Kepala PPKB FIB UI, Dr. Ari Prasetiyo, S.S., M.Si, yang juga pengajar di Prodi Sastra Jawa, menyampaikan, “Selain kegiatan penelitian, program kegiatan PPKB lainnya adalah pelestarian serta pengembangan seni budaya tradisional, dan pemberdayaan ekonomi kreatif/UMKM dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.”

“Minggu Semata Wayang” ini merupakan realisasi dari kedua program PPKB tersebut. Dalang pertunjukan wayang tersebut adalah Fakih Tri Sera Fil Ardhi, mahasiswa Prodi Sastra Jawa FIB UI Angkatan 2019). “Sebuah kebanggaan bahwa Prodi Sastra Jawa FIB UI mempunyai mahasiswa dengan kemampuan mendalang yang sangat bagus,” ujar Dr. Prasetiyo.

FIB UI mendukung penuh upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya terutama seni tradisi, seperti wayang, karawitan, tarian, maupun batik. Dalam seni budaya tersebut, terkandung nilai-nilai luhur yang penting bagi kehidupan. Generasi penerus bangsa harus menjaga, merawat, melestarikan, serta mengembangkannya agar tidak punah seiring berkembangnya zaman.

Menurut Ketua Prodi Sastra Jawa FIB UI, Dr. Munawar Holil, kesenian dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Kesenian merupakan produk budaya bangsa. Semakin tinggi nilai kesenian satu bangsa, semakin tinggi nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menjaga kelestarian seni dan budaya warisan leluhur.

Acara ini menjadi salah satu bukti bahwa FIB UI tidak hanya memberikan pendidikan secara akademis kepada mahasiswanya, tetapi juga berperan penting dalam memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat luas. Acara ini diadakan di Taman Kaldera, Jatijajar, Depok, Jawa Barat, pada Minggu (29/05).

Kemajuan teknologi menjadi dua sisi mata pisau bagi budaya dan tradisi lokal. Dia bisa menggerus budaya tradisional, tetapi bisa juga dimanfaatkan untuk mengenalkan dan memperluas jangkauan budaya tersebut. Dalam acara tersebut, ada sesi dialog santai yang membahas beberapa poin penting terkait sumbangan teknologi pada pengayaan dan persebaran budaya Nusantara bersama Direktur Pengembangan dan Pelayanan Sistem Informasi UI Periode 2006–2014, Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari, M.M. M.Sc.

Menurut Prof. Riri, pengetahuan tradisi yang ada dalam naskah kuno sangat mungkin dikembangkan di era modern ini melalui digitalisasi. Digitalisasi memiliki peranan penting dalam menyebarkan informasi maupun wawasan kepada khalayak sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan seni dan budaya leluhur kepada kaum milenial dan generasi selanjutnya. Hal ini dilakukan agar generasi penerus dapat mengenal dan menghayatinya. “Saya harap kita harus lebih cermat dalam memilah informasi dan menyebarkan tradisi lokal kepada khalayak. Hal ini untuk menghindari adanya kesalahan persepsi dari setiap individu,” kata Prof. Riri.

This post is also available in: English