Skip links

Webinar BPMA UI Bahas Penjaminan Mutu Internal Perguruan Tinggi dan Kelayakan Kerja Lulusan dari Berbagai Sudut Pandang

Dalam rangka pelaksanaan peningkatan mutu secara berkelanjutan dan melihat peran Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Pendidikan Tinggi (Internal Quality Assurance) yang besar dampaknya terhadap keberhasilan lulusan untuk diterima dalam dunia kerja, maka Universitas Indonesia (UI) mencoba mengkaji lebih dalam, luas, dan terkini penerapan pelaksanaan SPMI dalam kaitannya dengan ketenagakerjaan.

Badan Penjaminan Mutu Akademik (BPMA) sebagai salah satu unit yang bertangung jawab akan terlaksananya penjaminan mutu di UI, mengadakan Webinar berjudul “Building a State-of-Art Internal Quality Assurance to Foster and Integrate Graduate Employability” yang dilaksanakan secara daring pada Kamis (18/08) dengan menghadirkan keynote speaker Plt. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbudristek, Dr. Ir. Sri Gunani Partiwi, M.T.; dan empat narasumber mumpuni yang berprofesi sebagai pembuat kebijakan, akademisi, dan unit penjaminan mutu dari Indonesia, diantaranya Head of the Institute of Advanced Studies in Economics and Business/IASEB Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Turro Selrits Wongkaren, S.E., M.A., Ph.D.; Wakil Presiden The International Network for Quality Assurance Agencies in Higher Education (INQAAHE) dan Anggota Majelis Akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, Prof. Drs. T. Basaruddin, M.Sc., Ph.D; Ketua Satuan Penjaminan Mutu Institut Teknologi Bandung Dr.rer.nat. Poerbandono, S.T, M.M; dan Direktur Sekretariat dan Perencanaan Strategis Telkom University, Dr. Anisah Firli, S.MB. MM.

Dalam pidato sambutan sekaligus membuka acara, Rektor UI Prof. Ari Kuncoro, SE, MA, Ph.D., mengatakan bahwa UI terus berkomitmen untuk meningkatkan mutu dengan akreditasi internasional. “Saat ini institusi pendidikan tinggi dituntut untuk meningkatkan mutunya secara berkelanjutan dimana Sistem Penjaminan Mutu Internal (Internal Quality Assurance) yang dilakukan pada tingkat universitas akan berdampak terhadap keberhasilan lulusan untuk diterima oleh dunia kerja. Sehubungan dengan hal tersebut, UI melihat perlunya untuk membahas hubungan antara penjaminan mutu institusi pendidikan tinggi dengan ketenagakerjaan,” ujarnya. Rektor UI berharap webinar ini dapat meningkatkan kesadaran terhadap tren penjaminan mutu pendidikan tinggi di lingkup regional dan global yang menghubungkan antara penjaminan mutu dengan keberhasilan lulusan di dunia kerja.

Plt. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbudristek mengatakan, SPMI memiliki peran menghubungkan kualitas perguruan tinggi menuju pada pemenuhan kebutuhan dunia kerja/industri agar employability menjadi lebih baik. Untuk memenuhi ini, diperlukan jaringan kualitas baik secara internal maupun penjaminan mutu eksternal diantaranya lembaga akreditasi internasional yang sangat berperan dalam menilai kualitas proses pembelajaran di Pendidikan Tinggi.

Dalam pemaparannya berjudul “How to Strengthen Higher Education and Employment Linkage”, Sri memberikan sedikit gambaran statistik perguruan tinggi di Indonesia dan bagaimana sistem pendidikan dapat memperkuat penyerapan lulusan di dunia kerja. “Sebanyak 4.593 perguruan tinggi di Indonesia diharapkan memiliki kualitas yang bisa semakin dekat dengan UI. Untuk itu, perlu ada peran dari kita semua dan saya berterima kasih kepada BPMA UI yang juga mengundang beberapa perguruan tinggi lain sehingga bisa ada kolaborasi antar-perguruan tinggi setelah seminar ini,” ujarnya.

Menurut Sri, dampak dari revolusi industri 4.0 dan digitalisasi, pada tahun 2030 di Indonesia akan ada 23 juta pekerjaan tergantikan oleh automasi, hal ini menimbulkan peluang ada 27-46 juta pekerjaan baru yang akan muncul. “Tantangannya adalah bagaimana menyiapkan lulusan kita agar bisa menangkap peluang pekerjaan baru yang ada dengan menyiapkan kualitas lulusan tersebut sesuai dengan apa yang dibutuhkan dunia kerja pada masa yang akan datang. Para mahasiswa perlu membekali diri dengan new skill, adapitve, agile learners, self directed, entrepreneur, dibutuhkan SDM yang memiliki kemampuan critical thinking, kemampuan berpikir sistem sehingga mampu menyelesaikan persoalan kompleks, digital literacy, multi-diciplinary, dan global citizenship,” kata Sri.

Saat ini pemerintah telah melakukan transformasi kebijakan pendidikan tinggi dengan menyediakan multiple pathways untuk mengembangkan kompetensi pada lulusan. Sistem pembelajaran yang ditawarkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) adalah salah satu bentuk upaya transformasi kebijakan pendidikan tinggi untuk memberikan ruang bagi mahasiswa mengasah bakat dan passion-nya dalam flexible learning. “Pada program MBKM, mahasiswa selama satu semester dapat mengambil mata kuliah hingga 20 SKS. Dosen sudah tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar, tidak hanya menjadi mitra belajar, namun sebagai ko-pilot yang bisa mengikuti bagaimana mahasiswa memilih cara belajar di tiga semester akhir. Dalam hal ini, tantangan penjaminan mutu adalah menjaga akuntabilitas dari mutu pembelajaran di masing-masing Perguruan Tinggi. MBKM menyiapkan lulusan untuk siap berkompetisi dan berkolaborasi di era global, dengan membutuhkan penguatan dari berbagai keterampilan yang dibutuhkan pada abad ke-21 melalui pengalaman maupun eksposure multidisiplin,” ujar Sri lagi.

Di akhir pemaparannya, Sri Gunani menyampaikan tiga strategi pendidikan tinggi meningkatkan kompetensi dan penyerapan lulusan di dunia kerja. Pertama, kampus merdeka; kedua, link & match dan partnership with industry yang terus dilakukan melalui mahasiswa magang, industrial training, industrial sabbatical leave, adjunct professorship, dan industrial research. Strategi yang ketiga adalah partnership with world-class universities and diaspora, yaitu UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS), AI Institute-consortium of universities, joint research & project, pertukaran pelajar/staf, dan world class professor.

Selanjutnya, narasumber pertama pada webinar ini adalah Turro Wongkaren, pengajar dan peneliti di Departemen Ilmu Ekonomi FEB UI, yang memberikan pemaparan terkait perubahan pasar kerja dan graduate employability. Ia mengutip data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2022 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik, menyatakan bahwa sebanyak 33% pekerja underqualified (tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan), 16% pekerja overqualified, dan 51% pekerja well matched. “Setengah dari pekerja di Indonesia mismatched, sepertiga tidak memenuhi syarat, dan dan sisanya melebihi kualifikasi. Hal ini memberikan tanda bahwa perguruan tinggi di Indonesia tidak mampu menjawab tantangan di pasar kerja,” ujarnya.

Turro mengungkapkan lima perubahan di pasar kerja. “Pertama, structural transformation (perubahan sektor pertanian ke sektor industri/jasa); kedua, technological innovation (mengubah yang tadinya sudah ada dan di-modified, dan juga menciptakan pekerjaan baru seperti ojek online dan youtuber); ketiga, population age structure (bonus demografi terjadi secara tidak merata, mengakibatkan sebagian orang pindah/bermigrasi ke tempat/wilayah yang menyediakan banyak sumber daya dan membutuhkan pekerja); keempat, green economy (gerakan yang timbul ke arah sustainable development dan kembali ke alam); dan Kelima, uncertainty (pandemi dan perang yang membuat kehidupan bekerja berubah seperti work from home dan work with zoom). Namun kelima perubahan tersebut, intensitasnya tidak terjadi pada semua sektor, dan semua orang,” ujar pakar inovasi dan kewirausahaan, dari FEB UI.

Sependapat dengan Turro, Prof. Chan Basaruddin sebagai narasumber kedua, menyampaikan perspektif perguruan tinggi secara keseluruhan bahwa kompetisi global yang terjadi saat ini dimana online learning di perguruan tinggi dapat diakses terbuka dengan mudah. “Yang menjadi tantangan adalah semua perguruan tinggi di dunia dapat bersaing. Non-traditional providers of credentials seperti Google dan Tokopedia memberikan sumber belajar yang dapat digunakan sebagai modal mencari kerja. Hal ini menjadikan bahwa belajar tidak perlu ke perguruan tinggi,” ujar Prof. Chan.

Tantangan bagi penjamin mutu akademik adalah karena perguruan tinggi adalah isu global, sehingga kualitasnya juga harus global. Lebih lanjut, Prof. Chan menjelaskan penjaminan mutu Perguruan Tingi dari an eagle-eye perspective. “Bahwa perguruan tinggi bukan dikelola oleh seseorang profesional karena tidak ada profesional training untuk rektor, dekan, dan dosen. Berakar pada tradisi panjang bidang akademik seperti nilai-nilai universal, prestasi akademik, dan integritas,” kata Dekan Fakultas Ilmu Komputer UI periode 2004-2013.

Prof. Chan mendefinisikan relevansi secara luas sebagai tingkat sensitivitas pada kebutuhan pemangku kepentingan. Relevansi mencakup tiga aspek, yaitu menjamin sustainability employment, personal development, dan semua lulusan akan aktif di masyarakat. Bidang kompetensi yang dibutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan disposisi. Menurutnya, IQA & EQA adalah dua sisi pada koin yang sama, dengan tujuan akhir dari IQA yang berfungsi secara efektif menghasilkan budaya kualitas.

Turut hadir dalam seminar tersebut Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek RI Prof. Tjitjik Srie Tjahtjandarie, Ph.D., Rektor UI periode 2002-2007 Prof. dr. Usman Chatib Warsa, SpMK, Ph.D., dan Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Logistik, Vita Silvira, S.E., Ak., MBA., CA. Dari paparan para narasumber yang berpengalaman di bidang penjaminan mutu perguruan tinggi, webinar ini diharapkan memberikan pemahaman terhadap konsep, praktek, dan model penjaminan mutu pada institusi pendidikan tinggi. Tak hanya itu, webinar ini juga diharapkan sebagai wadah bagi pelaku penjaminan mutu pendidikan tinggi seperti dosen, penjaminan mutu unit/personil dari PTN/Swasta di Indonesia, dan auditor/reviewer untuk bertukar pikiran dan berdiskusi mengenai permasalahan dan pengalaman di lapangan.

 

This post is also available in: English