Skip links

Bangun Keguyuban Para Alumni, ILUNI UI Gelar Home Coming Day UI 2022 Bertajuk “Haru, Cinta, dan Dansa”

Home Coming Day (HCD) Universitas Indonesia (UI) merupakan acara reuni akbar yang bertujuan untuk mempertemukan para alumni dari berbagai fakultas, sekolah, dan program pendidikan dalam satu kegiatan berbalut kesenian dan olah raga. Reuni empat tahunan ini dimeriahkan dengan beragam kegiatan, seperti sepeda santai, donor darah, pemeriksaan kesehatan, hingga penampilan musik dari musisi papan atas tanah air. Setelah sebelumnya sukses pada 2018, HCD UI kembali digelar oleh Ikatan Alumni (ILUNI) UI, pada Minggu (22/8), di Lapangan Rotunda UI.

HCD UI 2022 dimulai pukul 7.00 WIB dengan acara sepeda santai yang diikuti lebih dari 50 peserta dan dibuka secara langsung oleh Ketua ILUNI UI, Andre Rahadian. Meski merupakan reuni alumni, kegiatan ini terbuka untuk umum dan bisa diakses secara gratis dengan syarat peserta sudah melakukan vaksinasi booster Covid-19. Peserta juga dapat melakukan donor darah dan pemeriksaan kesehatan secara gratis.

Ketua Community Development Center, Indri L. Juwono, S.T., M.Ars., mengatakan, setidaknya ada 100 kantong kuota donor darah yang disedikan ILUNI UI bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Selatan. Sementara itu, untuk pemeriksaan kesehatan, ILUNI bekerja sama dengan RSUI dan Poligreen melakukan pengecekan tekanan darah, gula darah, hingga pengecekan komposisi tubuh yang meliputi lemak masa tubuh dengan menggunakan alat Bioimpedance Analysis kepada lebih dari 100 orang.

“Tujuan kami mengadakan program donor darah ini adalah untuk membantu kebutuhan darah masyarakat. Alat dan tenaga kesehatan disediakan oleh PMI, sedangkan lokasi dan pendaftaran dipersiapkan oleh ILUNI UI. Kami membuka pendaftaran untuk alumni UI atau umum. Rata-rata pengambilan hanya 15 menit per orang. Namun, dari 100 kuota yang disediakan, hanya 61 peserta yang berhasil lolos screening karena ada sebagian yang memiliki hemoglobin dan tekanan darah tinggi, serta mengidap diabetes,” kata Indri.

Booth pemeriksaan kesehatan merupakan yang paling banyak dikunjungi peserta. Hal ini karena selain mendapatkan penanganan kesehatan, peserta juga memperoleh edukasi mengenai potensi yang mungkin terjadi dari data-data yang dihimpun. Misalnya, potensi penyakit yang mungkin diderita peserta apabila memiliki gula darah tinggi.

Dengan mengangkat tema “Haru, Cinta, dan Dansa,” HCD juga mengelar berbagai kegiatan yang membangkitkan kembali memori-memori para alumni saat berkuliah di UI. Salah satunya adalah bernyanyi bersama A.G. Sudibyo atau yang akrab dipanggil Pak Dibyo—konduktor legendaris UI yang telah memimpin paduan suara mahasiswa sejak 1983. Pada kesempatan itu, Sudibyo memimpin seluruh peserta reuni untuk menyanyikan lagu “Genderang UI”, “Gaudeamus Igitur”, dan “Keroncong Kemayoran”.

Selain itu, ada pula booth Temu Kilat yang menghadirkan alumni-alumni UI yang berhasil di bidangnya. Mengadaptasi speed dating, jejaring antaralumni ini dibuat sebagai media untuk berbagi pengalaman seputar perjalanan karier, hal-hal menarik sewaktu kuliah, atau value yang dibawa dari kuliah hingga bekerja. Melalui Temu Kilat, para alumni dapat bertukar pikir terkait karier, bisnis, dan kegiatan komunitas, sosial, budaya, serta olahraga.

Kegiatan Temu Kilat dibagi dalam empat sesi. Sesi pertama adalah sesi Start Up yang diisi oleh CEO dan Founder Hijup.com, Diajeng Lestari, serta Konduktor sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi UI, A.G. Sudibyo. Sesi kedua adalah sesi Politik dan Pemerintahan yang diisi oleh Staf Ahli Menteri Perekonomian, Dito Ariotedjo, dan Ketua ILUNI UI, Andre Rahadian. Pada sesi ketiga, yaitu sesi Content Creator, Temu Kilat menghadirkan Instagram Influencer sekaligus Digital Content Creator, Devan Yulio. Sementara itu, pada sesi terakhir, sesi Seni dan Budaya, diisi oleh Runner Up 4 Putri Indonesia, Chrissy Fransisca Rugian.

Sebagai salah satu alumni yang berpengaruh, A.G. Sudibyo merasa bangga karena menjadi saksi lahirnya alumni-alumni UI sejak tahun 80-an. “Saya mulai mengajar menyanyi pada 1983, sejak masih mahasiswa. Saya mulai mengajar sekitar 1992 atau 1993. Alumni UI dahulu hanya sekitar 2.000, kini mencapai 8.000-an. Sekitar 40 tahun yang lalu, mahasiswa baru hanya berjumlah 1.100, kini mahasiswa baru UI mencapai hampir 10.000. Saya merasa bangga karena melihat pahit, manis, getirnya UI. Namun, UI selalu menjadi center. Apa pun peristiwa yang terjadi di bangsa ini, UI selalu menjadi center,” kata Sudibyo.

A.G. Sudibyo

Meski kasus Covid-19 masih ada, Sudibyo bersyukur kondisi saat ini lebih terkendali sehingga acara HCD dapat terlaksana. Ia berharap dengan adanya acara HCD, para alumni UI semakin guyub. “Mereka tidak lepas dari kampusnya. Masih ada ikatan batin yang harus dijaga. UI adalah rumah tempat mereka dididik. Sekarang, saatnya mereka berkontribusi untuk almamaternya,” kata Sudibyo.

Selain diisi dengan booth yang menyajikan beragam kuliner dari UMKM dan pedagang kantin,  ILUNI UI asal Sulawesi Utara (Sulut) juga turut memeriahkan gelaran HCD dengan menghadirkan berbagai penganan khas Minahasa dan Manado, salah satunya nasi jaha, yaitu hidangan berbahan dasar nasi yang dibuat dengan cara memasukkan seluruh bahan ke dalam batang bambu yang dibakar dalam bara api. ILUNI Sulut juga menampilkan beragam jenis kain, seperti songket dan tenun yang dibuat oleh Institut Seni Budaya Sulut. Mereka juga menyelenggarakan pertujukan Tari Kabasaran dan Musik Kolintang khas Sulut.

“HCD adalah acara yang bagus untuk diadakan secara kontinu. Ini merupakan wadah bagi ILUNI UI untuk kembali ke kampus. Alumni UI diharapkan tetap guyub walaupun terdiri dari banyak fakultas, departemen, dan jurusan,” kata Ketua ILUNI Arsitektur, M. Johannur Barokh.

Pada puncak acara, HCD UI 2022 dimeriahkan dengan penampilan musik dari beberapa musisi tanah air, seperti Hamba Allah, Chaplin, Nunung cs, The Rohali’s, Chaseiro, dan sederet artis lainnya. Malam harinya, HCD UI 2022 ditutup dengan permainan “Rektorat 3D Mapping” yang menampilkan video profil UI dan perjalanan para alumni UI dalam berkontribusi demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Penulis: Sasa dan Almas/ Editor: Mariana