iden sipp@ui.ac.id dan humas-ui@ui.ac.id +62 21 786 7222
https://uni.sesc.com.br/rajaslot303/slot gacor hari inislot gacorslot online gacor

Dr. Mulawarman Hannase, Kajian Timur Tengah: Mudik dan Halalbihalal Sebagai Corak Ekspresi Memeriahkan Idulfitri

Universitas Indonesia > Berita > Berita Highlight > Dr. Mulawarman Hannase, Kajian Timur Tengah: Mudik dan Halalbihalal Sebagai Corak Ekspresi Memeriahkan Idulfitri

Menjelang Idulfitri, pasar-pasar dan pusat perbelanjaan di Arab Saudi dipadati umat muslim yang ingin memenuhi kebutuhan hari raya, mulai dari makanan hingga pakaian lebaran. Sebagai tuan rumah bagi dua kota suci Islam, yakni Makkah dan Madinah, perayaan Idulfitri di Arab Saudi memang selalu semarak. Dekorasi lampion dan lampu warna-warni menghiasi jalanan, pepohonan, dan gedung-gedung di kota, serta masyarakat yang menikmati lagu-lagu religi. Salah satu lagu terkenal yang tak pernah luput didengarkan di bulan Ramadan dan saat lebaran ialah lagu berjudul Ya Leilet El Eid oleh Umm Kulthum yang dirilis pada 1939.

Idulfitri merupakan hari raya paling penting bagi umat muslim di seluruh dunia. Sering disebut sebagai ‘Hari Kemenangan’, Idulfitri menandakan berakhirnya ibadah puasa yang dijalankan sebulan penuh pada bulan Ramadan. Pakar Kajian Timur Tengah dan Isu-isu Islam Kontemporer dari Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI), Dr. Mulawarman Hannase, Lc., MA.Hum., mengatakan bahwa perayaan Idulfitri sangat jelas petunjuk atau dalilnya, sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam.

“Pada Surah Al-Baqarah ayat 185, ulama memahami bahwa setelah menyempurnakan puasa Ramadan, umat muslim diperintahkan untuk bertakbir, yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam bersama para sahabatnya sebagai pelaksanaan salat Idulfitri. Dalam perkembangan sejarah Islam, muncullah berbagai corak ekspresi masyarakat dalam menghidupkan, meramaikan, dan memeriahkan Idulfitri di tempat yang berbeda-beda di seluruh dunia sesuai dengan adat dan budaya lokal. Kendati demikian, tata cara pelaksanaan salat Idulfitri di mana pun pasti sama,” kata Dr. Mulawarman.

Di Arab Saudi, suasana salat Idulfitri tampak meriah. Sejak pagi hari, masyarakat melaksanakan salat Id di berbagai masjid besar maupun di lapangan. Setelah menunaikan salat, dilanjutkan dengan bersalam-salaman dan saling memaafkan satu sama lain. Salah satu tradisi Idulfitri yang menjadi kewajiban adalah saling mengunjungi sanak saudara, keluarga, sahabat, dan kolega untuk bermaaf-maafan. Tidak hanya dipraktikkan oleh umat muslim di Timur Tengah seperti Arab Saudi, tradisi ini melebar dan juga dilakukan oleh masyarakat muslim di Indonesia.

Dr. Mulawarman mengatakan, tradisi bermaaf-maafan terjadi di mana-mana karena memang perintah agama Islam. “Di Indonesia, tradisi bermaaf-maafan terimplementasi dengan baik dengan beberapa bentuk ekspresi, seperti mudik dan sungkem ke orangtua, saling mengunjungi dan berkumpul bersama keluarga, serta halalbihalal yang subtansinya saling memaafkan antara kerabat, kolega, dan lingkungan kerja,” ujarnya. Menurut Mulawarman, istilah ‘halalbihalal’ tidak ada dalam budaya Arab Saudi, tetapi subtansi saling memaafkan antara sesama umat Islam berlangsung secara universal.

Momentum berkumpul dengan sanak saudara tidak akan lengkap tanpa sajian khas Idulfitri yang terhidang di meja makan. Di Arab Saudi, makanan utama saat Idulfitri adalah olahan daging kambing dan sapi, dilengkapi dengan deretan kue-kue manis. Beberapa hidangan tradisional manis dan gurih khas Arab Saudi di antaranya dibyaza, masoub, dan roti fatoot. Namun, masyarakat Indonesia tidak akan menemukan ketupat di Arab Saudi karena negara tersebut tidak memiliki pohon kelapa dan pohon lontar yang daunnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan ketupat.

Bagi anak-anak di Arab Saudi, tradisi Eidiyah sangat ditunggu-tunggu. Eidiyah merupakan tradisi pemberian hadiah berupa uang dengan jumlah yang beragam kepada anak-anak saat hari Idulfitri. Akan tetapi, bukan hanya anak-anak yang mendapat hadiah berupa uang saat lebaran. Pemerintah Arab Saudi setiap tahunnya memberikan tunjangan yang cukup besar kepada pegawai dan para pekerja. Hal serupa juga dijumpai di Indonesia dengan sebutan THR atau Tunjangan Hari Raya.

Dikutip dari Arab News, Raja Arab Saudi,  Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, mencairkan tunjangan hari raya untuk warga Arab Saudi senilai tiga miliar Riyal (sekitar Rp12,7 triliun) tahun ini. Menurut Mulawarman, tunjangan yang merupakan bentuk bantuan kesejahteraan sosial ini ditujukan untuk anak-anak yatim piatu, para janda, pengangguran, penyandang disabilitas, dan kelompok lanjut usia.

Selain itu, pemerintah Arab Saudi juga mengalokasikan waktu libur yang cukup panjang bagi masyarakat untuk merayakan Idulfitri. “Libur nasional Idulfitri biasanya diberlakukan antara lima hari hingga seminggu untuk warga Arab Saudi. Pada 2023 lalu, Raja Salman memberlakukan libur nasional selama lima hari,” kata Mulawarman. Umat muslim di Arab Saudi banyak menghabiskan waktu liburan tersebut untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, taman-taman, dan ruang publik lainnya. Sama halnya dengan yang dilakukan masyarakat Indonesia, waktu libur yang telah ditetapkan oleh pemerintah, dimanfaatkan dengan mengunjungi sanak saudara di kampung halaman atau yang biasa disebut mudik dan menjadikan momen tersebut untuk berlibur bersama dengan keluarga.

Related Posts