Skip links

Gubernur Lemhanas Andi Widjajanto Bicara Soal Kemajemukan Sebagai Keunggulan RI Kepada Maba UI 2022

Kemajemukan Indonesia yang merupakan pemberian Tuhan harus dirawat dan dijaga, karena memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai keunggulan bangsa di mata dunia. Untuk memberikan pemahaman ini, Universitas Indonesia (UI) mengundang Menteri Agama RI, Gubernur Lemhanas RI, dan penggiat budaya, untuk berbagi pengetahuan kepada mahasiswa baru UI tahun 2022 terkait moderasi agama, diplomasi budaya, dan strategi generasi muda untuk menjawab tantangan kontemporer.

Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D., melihat UI sebagai miniatur Indonesia, karena mahasiswa UI berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan ragam budaya masing-masing. Menurut Prof. Ari, membangun UI adalah membangun masa depan bangsa. Oleh karena itu, UI mengundang para narasumber untuk memberi gambaran kepada para mahasiswa terkait fakta empiris keberagaman Indonesia yang diikat dalam mozaik kerukunan dan moderasi beragama, serta strategi yang harus dijalankan generasi muda dalam persaingan geopolitik dan geostrategik global.

“UI adalah kampus yang inklusif, humanis, dan bermartabat yang lahir dari rahim pergerakan Indonesia yang berkomitmen tanpa syarat untuk menjaga persatuan dan kerukunan Indonesia. Karena itu, materi yang disampaikan para narasumber adalah bekal penting bagi mahasiswa baru UI angkatan 2022. Kami meyakini keberagaman latar belakang ras, suku, budaya, dan agama adalah ketetapan Tuhan yang harus kita syukuri. Perbedaan tersebut membuat kita saling belajar dan saling memahami dalam poses menemukan titik equilibrium satu sama lain,” kata Prof. Ari dalam sambutan pembukaan Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), Kamis (11/8), di Balairung UI.

Dalam konteks keragaman agama dan kepercayaan, strategi yang diterapkan oleh pemerintah untuk mewujudkan Indonesia rukun dan harmoni adalah dengan menggalakan program moderasi beragama. Setiap agama memiliki kekhasan sebagai wilayah pelaksanaan doktrin ajarannya. Namun, setiap agama memiliki nilai-nilai universal yang dapat digunakan untuk menjaga toleransi dan persatuan bangsa. Hal ini karena hakikat dari ajaran agama adalah bagaimana setiap penganutnya memiliki budi pekerti untuk dapat menghormati orang lain meskipun berbeda.

Menurut Menteri Agama Republik Indonesia (RI) Yaqut Cholil Qoumas, dalam pidato yang diwakili oleh Staf Khusus Menteri Agama Bidang Hubungan Antar Lembaga, Kerukunan, dan Toleransi, Muhammad Nuruzzaman, bangsa ini tidak akan ada tanpa adanya praktik beragama yang moderat dari para founding father Indonesia. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi kunci terciptanya kerukunan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun bangsa, bahkan di tingkat global.

Di lingkungan kampus, budaya moderat perlu dibangun agar terwujud tradisi kampus yang egaliter, toleran, dan harmoni. Untuk mewujudkan hal ini, praktik beragama secara moderat harus dimulai sejak dalam pikiran. Pengelola atau pimpinan kampus harus berwawasan moderat, begitu pula dengan para dosen dan seluruh tenaga kependidikan. Hal ini karena mereka adalah pihak yang membentuk anak-anak didik melalui ilmu dan keteladanan. Selain itu, kurikulum dan silabus pendidikan harus memuat nilai-nilai toleransi dan keadilan gender sehingga menghambat tumbuh paham ekstremis yang mendiskiminasi kelompok.

“Kita perlu mendorong nilai-nilai luhur agama sebagai inspirasi dalam melaksanakan peran sosial kemasyarakatan. Kesadaran sebagai warga negara penting untuk dimiliki masyarakat Indonesia. Kesadaran itu adalah bagaimana menjadi warga negara yang baik dengan patuh terhadap hukum negara dan patuh pada aturan agamanya. Kita harus menyadari bahwa beragama di Indonesia bukan hanya soal praktik keagamaan, melainkan juga soal kita yang tidak hidup dalam ruang kosong,” bunyi pesan menteri agama tersebut.

Sementara itu, Gubernur Lemhannas RI, Andi Widjajanto, M.Sc., melihat kemajemukan sebagai kekuatan dan perbedaan sebagai keunggulan Indonesia. Menurut Andi, Indonesia yang berbeda-beda merupakan potensi besar karena dapat memunculkan variasi-variasi dalam inovasi. Oleh karena itu, masyarakat harus membiasakan diri dengan perbedaan dan mengeksplorasinya sebagai sumber keunggulan Indonesia. Dalam hal ini, Generasi Y, Z, dan Alpha adalah yang bertugas menciptakan inovasi-inovasi guna menghadapi tantangan Geopolitik di masa depan.

Ada optimisme Indonesia menjadi salah satu negara yang menikmati bonus demografi pada 2030. Piramida Penduduk Indonesia pada tahun tersebut menunjukkan kondisi ideal bagi satu negara untuk menuju negara maju. Menurut Andi, ada dua kunci agar Indonesia mencapai bonus demografi. Pertama, jika generasi Y, Z, dan Alpha semakin berkualitas, berdaya saing tinggi, dan mampu mengadopsi inovasi teknologi, bonus demografi Indonesia akan semakin tinggi.

Selain itu, kesuksesan perempuan juga menjadi kunci tercapainya bonus demografi Indonesia. Hal ini karena saat ini perempuan di Indonesia mencapai 49,6% dari total populasi Indonesia. Pada Pemilu 2024, diprediksi pemilih Indonesia 50,8% adalah perempuan. Oleh karena itu, salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas bonus demografi kita adalah produktifitas, daya saing, kompetisi, inovasi dari generasi Y, Z, Alpha, dan perempuan.

Kunci kedua tercapainya bonus demografi adalah lompatan teknologi. Dalam melakukan inovasi, generasi muda harus membaca kebutuhan masyarakat sehingga produk inovasi yang dihasilkan dapat berdaya guna bagi masyarakat. Hal ini dilakukan untuk menghadapi empat skenario yang mungkin dialami Indonesia di masa depan, yaitu konektivitas global dan stabilitas keamanan global; transformasi ekonomi (hijau, biru, dan digital) dan konsolidasi demokrasi; stagnasi ekonomi dan regresi demokrasi; serta disrupsi rantai pasok dan rivalitas transisi hegemoni.

“Tahun ini, GDP Indonesia menempati posisi kelima di Asia setelah Cina, Jepang, India, dan Korsel. Indonesia juga berada di posisi 16 sebagai negara G20 dengan ekonomi 16 besar dunia. Kami berharap 30 tahun mendatang Indonesia menjadi negara yang berada di urutan 4 besar dunia. Selaku guru, kami hanya punya satu kebanggaan, yaitu saat melihat muridnya mampu melampaui gurunya. Kami menunggu teman-teman mahasiswa UI melalui kapasitas dan kemampuannya dapat melampaui kami di masa mendatang,” kata Andi.

Selain mengikat persatuan, keragaman budaya dan tradisi Indonesia juga dapat dimanfaatkan sebagai bentuk diplomasi seni dan budaya untuk mengenalkan Indonesia di kancah internasional. Diplomasi seni budaya merupakan diplomasi yang memanfaatkan aspek seni dan budaya untuk meningkatkan potensi diri guna mewujudkan identitas bangsa dalam kancah percaturan dunia. Produser, Sutradara, sekaligus Aktivis Batik Internasional, Aditya Yusma, menggunakan seni dan budaya, seperti film dan batik, sebagai sarana diplomasi Indonenesia di luar negeri. Melalui Sanggar Seni Aditya–Batikmaestro.com, Aditya dan tim telah mengenalkan batik ke lebih dari 147 negara dalam 9 kegiatan.

Menurut Aditya, batik menjadi tamu kehormatan di mancanegara, tetapi belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hal ini bukan karena komoditas, penjualan, dan industri batik yang sulit dikembangkan, melainkan karena regenerasinya. Saat ini, sangat sedikit generasi muda yang mau masuk di industri batik. Padahal, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki motif batik yang berbeda-beda. Dalam data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tercatat ada 6000-an motif batik di Indonesia.

“Tahun 2009 batik ditetapkan UNESCO sebagai warisan kemanusiaan dalam budaya lisan dan non-bendawi atau masterpiece of the oral stage of oral and intangible heritage of humanity. Dengan kekayaan ini, seharusnya Indonesia dapat memanfaatkan batik sebagai media diplomasi untuk mengenalkan Indonesia di mata dunia. Kita dapat menggunakan berbagai sarana untuk memberikan sosialisasi dengan konten edukasi yang memuat materi diplomasi kebudayaan. Langkah ini kemudian dijalankan dengan selebrasi, misalnya melalui pertunjukan seni, film, hingga workshop membatik,” kata Aditya.

This post is also available in: English