id sipp@ui.ac.id dan humas-ui@ui.ac.id +62 21 786 7222

Program Kolaboratif Indonesia-Malaysia, “SustainaBlue” Ditujukan Untuk Percepat Pengembangan Blue Economy dan Green Transition

Universitas Indonesia > Berita > Berita Fakultas Matematika dan IPA > Program Kolaboratif Indonesia-Malaysia, “SustainaBlue” Ditujukan Untuk Percepat Pengembangan Blue Economy dan Green Transition

Depok, 8 Juli 2024. Agar sumber daya laut dapat terjaga serta dikelola secara inklusif dan berkelanjutan, Universitas Indonesia (UI) melalui Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) meluncurkan program SustainaBlue, dalam acara seremoni yang dipimpin oleh Dekan FMIPA UI Prof. Dede Djuhana, Ph.D., pada Selasa (11/6), di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, FMIPA, Kampus UI Depok. “Kami mengajak seluruh sivitas akademika, pemangku kepentingan, industri dan masyarakat untuk turut berpartisipasi aktif menyukseskan kegiatan SustainaBlue, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam jaringan kolaborasi pentahelix, guna mempercepat upaya pengembangan blue economy dan green transition yang merupakan bagian dari program pemerintah,” ujar Prof. Dede.

SustainaBlue merupakan program kolaboratif Indonesia-Malaysia yang didanai oleh The European Union dengan melibatkan universitas di Indonesia dan Malaysia. Beberapa universitas yang terlibat, di antaranya Institut Teknologi Sepuluh November, Universiti Malaysia Terengganu, Universiti Sains Malaysia, University of the Aegean, dan University of Cyprus.

Adapun lembaga-lembaga yang bergerak di bidang lingkungan, konservasi, dan pengembangan sosial ekonomi, seperti Symplexis, AEGEANrebreath, University of Cyprus, CSI Center for Social Innovation Ltd., Malaysia Aquaculture Development Association, dan PT. Pandu Bina Sejahtera. Dengan mengangkat tema “Urgency and Empowerment in a Maritime Country”, kegiatan ini menitikberatkan pada peningkatan peran lembaga pendidikan tinggi di Indonesia dan Malaysia dalam mendukung keberlanjutan lingkungan.

Selanjutnya, Prof. Dede mengatakan, kolaborasi yang terjalin dalam program SustainaBlue harus mampu mengakselerasi peningkatan inovasi di bidang blue economy dan green transition. Hal ini sekaligus mengatasi ketimpangan pengetahuan dalam dunia pendidikan, riset, industri, dan yang tidak kalah penting adalah dampak pada pengembangan kegiatan pengabdian masyarakat.

Blue economy dan green transition merupakan dua konsep yang terkait erat dengan keberlanjutan. Kedua konsep ini saling melengkapi dalam upaya untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan secara global. Blue economy bertujuan untuk memanfaatkan potensi ekonomi dari sumber daya laut dengan cara yang berkelanjutan, sementara green transition fokus pada transformasi keseluruhan ekonomi menuju penggunaan sumber daya yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan secara umum.

Project manager SustainaBlue Center UI, Dr. rer. nat. Mufti Petala Patria, M.Sc. mengatakan, SustainaBlue mengusung prinsip keberlanjutan, yang berarti tidak hanya memperhatikan pertumbuhan ekonomi tetapi juga menjaga kelestarian ekosistem laut jangka panjang. Upaya ini mencakup pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan, pengembangan kapasitas masyarakat pesisir untuk meningkatkan nilai tambah produk-produk laut, pengembangan kurikulum yang relevan, kegiatan pengabdian masyarakat, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem laut.

“Semoga program SustainaBlue ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan masyarakat pesisir, sehingga kita dapat lebih memberdayakan, dan meningkatkan taraf hidup para nelayan, para komunitas di pesisir, serta mengembangkan ilmu yang kita peroleh di FMIPA UI,” kata Dr. Mufti.

Guna memaksimalkan perannya dalam mendukung keberlanjutan blue economy dan green transition, saat ini SustainaBlue sedang dipersiapkan oleh Departemen Biologi untuk dapat dikembangkan menjadi pusat studi di bawah naungan Unit Kerja Khusus (UKK) FMIPA UI. Nantinya, SustainaBlue sebagai pusat studi akan menjalankan berbagai program kegiatan berupa penelitian dan pengembangan, pengabdian kepada masyarakat, pendidikan dan pelatihan, advokasi dan kesadaran, kolaborasi dan jaringan, dan pengembangan inovasi.

Acara yang digelar secara hybrid ini dihadiri oleh 163 peserta dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari akademisi, institusi penelitian, local authorities, dan bidang bisnis yang bergerak dalam sektor blue economy, media, dan Komunitas Pencinta Seni Budaya Gunung Salak. Acara ini juga turut diramaikan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Related Posts