Skip links

Promosi Doktor FIA UI: Sembilan Faktor Determinan dalam Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus

Program Pascasarjana Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia mengukuhkan gelar doktor yang ke-18 untuk Achmad Fauzi dan ke-206 dalam Ilmu Administrasi.

Pada sidang terbuka promosi doktor tersebut, Achmad Fauzi berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Mendesain Strategi Peningkatan Daya Saing Daerah dengan Kawasan Ekonomi Khusus”. Ia menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia telah memilih Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai salah satu strategi pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing nasional dan daerah. Daya saing ini menjadi indikator keberhasilan pembangunan dan menjadi daya tarik untuk melakukan investasi di negara tersebut.

“Dalam sepuluh tahun terakhir, peringkat nasional daya saing Indonesia mengalami pasang-surut dimana posisi daya saing Indonesia ada di peringkat 34 pada tahun 2014 hingga 54 pada tahun 2009 dari 100 negara lainnya. Selain itu, peringkat lokal hanya 10 provinsi yang masuk daya saing tingkat atas,” kata Achmad Fauzi.

Ia menerangkan bahwa perlu dilakukan peningkatan daya saing baik ditingkat nasional maupun lokal melalui strategi pembangunan, yaitu salah satu caranya adalah dengan melakukan pembangunan kawasan-kawasan ekonomi di daerah yang memiliki keunggulan komparatif, sumber daya alam, maupun letak geografis yang strategis. “Kegiatan utama KEK saat ini meliputi industri pengolahan yang berorientasi ekspor dan pariwisata. Dalam perkembangan KEK di Indonesia hingga penelitian ini dilakukan, belum sepenuhnya mampu menjadi motor penggerak perekonomian untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing daerah dan nasional,” ujarnya.

Oleh karena itu, Achmad Fauzi mengatakan bahwa dibutuhkan kajian agar dapat mengetahui permasalahan yang terkait dengan peningkatan daya saing khususnya di daerah dan pengembangan KEK. “Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan, mengidentifikasi faktor determinan dan mendesain strategi yang dapat meningkatkan daya saing daerah dengan KEK, di tiga daerah yang memiliki KEK yaitu KEK Galang Batang di Kabupaten Bintan, KEK Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah dan KEK Sorong di Kabupaten Sorong,” katanya.

Metode yang dipakai dalam penelitian ini dengan menggunakan paradigma konstruktivisme dan metode penelitian kualitatif dengan desain studi kasus berganda untuk menjawab permasalahan penelitian. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa perkembangan KEK Galang Batang dan KEK Mandalika mencapai perkembangan yang baik, sedangkan KEK Sorong belum memenuhi target yang diharapkan.

Dalam hal ini, dari ketiga Kawasan Ekonomi Khusus yang menjadi sampel dalam penelitian, dapat diidentifikasi bahwa terdapat sembilan faktor determinan (determinant factors) dalam pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus yang terdiri dari: 1) tata kelola (governance); 2) kolaborasi (collaboration); 3) inovasi (innovation); 4) sumberdaya manusia (human resource), 5) infrastruktur (infrastructure); 6) lokasi (location); 7) sumber daya alam (natural resources); 8) insentif (incentives); 9) kepercayaan (trust).

“Berdasarkan sembilan faktor determinan yang menjadi faktor input, selanjutnya didesain strategi peningkatan daya saing daerah dengan KEK melalui Model Strategi Competitiveness GO (CIGO Strategy Model) sebagai desain awal strategi peningkatan daya saing daerah,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Achmad Fauzi menyampaikan tiga rekomendasi untuk pemerintah. Pertama, dibutuhkan kepemimpinan yang kuat (strong leadership) untuk dapat memimpin orkestrasi seluruh tingkatan tata kelola Pemerintahan (multi-level governance) lintas sektor. Kedua, perlu membentuk kolaborasi lembaga yang melibatkan unsur Pemerintah, Bisnis, Perguruan Tinggi, Pengelola KEK, Pelaku Usaha UMKM dan Masyarakat. Kemudian rekomendasi yang ketiga adalah perlu meningkatkan sosialisasi dan promosi di dalam maupun di luar negeri berkaitan dengan peluang investasi di Kawasan Ekonomi Khusus.

Achmad Fauzi berhasil meraih gelar Doktor dengan yudisium sangat memuaskan. Sidang Promosi Doktor yang dilaksanakan secara hybrid, pada Senin (12/07), diketuai oleh Prof. Dr. Chandra Wijaya, M.Si., MM. Promotor disertasi Achmad Fauzi adalah Prof. Dr. Martani Huseini, dan Prof. Dr. Amy Yayuk Sri Rahayu, M.Si., selaku Ko-promotor; serta anggota yang terdiri dari Prof. Dr. Irfan Ridwan Maksum, M.Si.; Prof. Dr. Haula Rosdiana, M.Si.; Prof. Dr Muchlis Hamdi, MPA; Dr. Sodjuangon Situmorang, M.Si.; Dr. Heri Fathurrahman, M.Si.; Dr. Retno Kusumastuti, M.Si.; dan Dr. Rachma Fitriati, M.Si., M.Si.