Skip links

Promosi Doktor FMIPA UI Ungkap Spesies dan Evolusi Mikro Ikan Kerapu Perairan Pulau Madura

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki potensi sumber daya perikanan karang yang besar dengan nilai ekonomis. Salah satu jenis ikan karang yang banyak diekspor adalah ikan kerapu. Kontribusi Indonesia terhadap keseluruhan produksi ikan kerapu tangkap di dunia cukup besar, mencapai 36%. Ikan kerapu adalah salah satu komoditas utama perikanan tangkap di Pulau Madura, Jawa Timur.

Ikan kerapu di Pulau Madura memiliki musim penangkapan hampir sepanjang tahun, yaitu pada bulan Agustus hingga Maret dan puncak musim terjadi pada bulan April hingga Juli. Potensi sumber daya ikan kerapu setiap tahun di perairan Pulau Madura ini mencapai 159,8 ton dengan usaha penangkapan optimum 1179,166 trip atau pelayaran pulang dan pergi. Kendati demikian, tingkat eksploitasi yang tinggi dalam penangkapan ikan karang oleh nelayan, terutama di daerah pemijahan (spawning), dan kerusakan terumbu karang sebagai habitat ikan karang yang semakin meluas tentu akan menyebabkan stok ikan karang, termasuk ikan kerapu, akan semakin berkurang dan mungkin akan hilang di perairan.

Fakta-fakta tersebut disampaikan oleh Dr. Abdul Basith dalam sidang promosi doktor Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) yang diselenggarakan secara tatap muka terbuka di Aula Gedung C, Kampus UI, Depok pada Kamis (9/6/2022).  “Kenyataan ini terkait peningkatan eksploitasi terhadap jenis-jenis ikan kerapu sebagai komoditas utama di Pulau Madura, menjadi dasar bahwa penelitian tentang keragaman morfologi dan genetik ikan kerapu (famili Serranidae) di kawasan perairan Pulau Madura mendesak untuk dilakukan sebagai dasar informasi untuk penentuan status dan manajemen konservasinya pada masa mendatang,” ujar Dr. Abdul Basith menjelaskan latar belakang penelitiannya.

Dalam disertasinya yang berjudul “Kajian Keragaman Morfologi, Autentikasi Molekuler, Perkiraan Waktu Divergensi, Dan Struktur Genetik Populasi Ikan Kerapu (Famili Serranidae) dari Kawasan Perairan Pulau Madura, Jawa Timur, Indonesia”, ia menjabarkan penelitiannya tentang pendekatan morfologi dan molekuler untuk inventarisasi spesies ikan kerapu, sekaligus menganalisis pola evolusi mikro ikan kerapu sunu (Plectropomus maculatus). “Informasi dasar sangat diperlukan untuk melandasi upaya pengelolaan dan pemanfaatan ikan kerapu Pulau Madura, terutama untuk menjaga sumber daya genetik, jenis, dan ekosistem ikan kerapu. Penelitian dasar tentang ikan kerapu perairan Pulau Madura diawali dengan identifikasi dan inventarisasi spesies berdasarkan pendekatan morfologi,” ujarnya.

Dari sisi pendekatan karakter morfologi, Dr. Abdul Basith mengatakan mengidentifikasi spesies ikan kerapu tidak terlepas dari kekurangan yang sangat berpotensi menyebabkan kesalahan hasil identifikasi spesies. Kesalahan hasil identifikasi spesies tersebut disebabkan oleh kebingungan atau ambiguitas pada kemiripan corak warna dan bentuk tubuh antar spesies ikan kerapu. Padahal, ketepatan atau keakuratan identifikasi spesies ikan kerapu sangat dibutuhkan sebagai pengetahuan dasar untuk manajemen konservasi dan penelitian-penelitian berikutnya yang terkait, sehingga pendekatan molekuler diperlukan untuk melengkapi pendekatan morfologi.

Berdasarkan penelitian itu ia menemukan bahwa 100 persen ikan kerapu perairan Pulau Madura berhasil diidentifikasi hingga tingkat genus dan 83,9 persen berhasil diidentifikasi hingga tingkat spesies menggunakan pendekatan morfologi. Selain itu sebanyak 67,7 persen spesimen ikan kerapu telah diidentifikasi menggunakan parsial sekuen gen CO1, namun 10 spesimen atau 32,2 persen tidak berhasil diidentifikasi. Penggunaan kedua pendekatan tersebut secara integratif berhasil menginventarisir 13 spesies ikan kerapu perairan Pulau Madura.

Beberapa nilai kebaruan dalam penelitian ini juga diuraikannya, antara lain informasi dalam bentuk dokumentasi dan analisis hasil identifikasi spesies dan keragaman morfologi ikan kerapu yang ditemukan di kawasan perairan Pulau Madura untuk melengkapi inventarisasi spesies ikan kerapu di Indonesia dan distribusinya. Selain itu, informasi baru dalam bentuk data DNA barcode parsial sekuen gen CO1 yang akurat untuk identifikasi spesies ikan kerapu yang ditemukan di kawasan perairan Pulau Madura, termasuk hasil rekonstruksi pohon filogenetik, keragaman genetik, sekaligus untuk dimasukkan ke dalam pangkalan data GenBank (NCBI) dan BOLD system.

Ada nilai kebaruan yang sangat menarik dari risetnya ini, yaitu untuk pertama kalinya di Indonesia, khususnya dalam bidang Biologi Evolusi adalah analisis perkiraan waktu divergensi genetik ikan kerapu menggunakan metode RelTime dan upaya pembandingannya dengan metode Bayesian dengan memanfaatkan data molekuler parsial sekuen gen CO1. Hasil akhir analisis ini dikombinasikan dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan pola distribusi ikan kerapu sunu sehingga menggambarkan perjalanan evolusi genetik ikan kerapu sunu.

Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi data penunjang yang penting untuk melengkapi informasi tentang sumber daya genetik ikan kerapu lokal Pulau Madura sebagai plasma nutfah, serta untuk pengembangan strategi konservasi sumber daya laut, terutama konservasi genetik ikan. Hal itu sejalan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 79/KEPMEN-KP/2016 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia 712 (WPPNRI 712).

Atas prestasinya, Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang tersebut meraih gelar Doktor dengan predikat Sangat Memuaskan di bawah bimbingan Dr. Drs. Abinawanto, M.Si. selaku promotor, serta Dr. Eni Kusrini, M.Si., dan Dr.rer.nat. Yasman, S.Si, M.Sc. selaku ko-promotor. Sidang yang diketuai oleh Dekan FMIPA UI Dede Djuhana, Ph.D., ini turut dihadiri oleh Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar, M.Si. (Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia), Dr. (HC) Drs. A. Halim Iskandar, M.Pd. (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi Republik Indonesia), dan Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia).