iden sipp@ui.ac.id dan humas-ui@ui.ac.id +62 21 786 7222

Sejarah, Tradisi, dan Makna di Balik Perayaan Imlek

Universitas Indonesia > Berita > Sejarah, Tradisi, dan Makna di Balik Perayaan Imlek

Depok, 7 Februari 2024. Dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa (United Nations Population Fund, 2023) dan diaspora yang tersebar di seluruh penjuru dunia, komunitas Tionghoa sukses memelihara tradisinya di tengah arus budaya global. Keberhasilan ini merupakan buah dari ritual dan perayaan yang tetap hidup, salah satunya perayaan Tahun Baru Imlek yang juga dikenal sebagai Festival Musim Semi di negara Tiongkok. Di Indonesia, perayaan Imlek identik dengan berbagai tradisi yang memikat, mulai dari pertunjukan barongsai hingga pemberian angpau.

Pakar budaya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia (UI), Dr. Rahadjeng Pulungsari Hadi, M.Hum. mengatakan bahwa ritual Imlek terus dilestarikan dari tahun ke tahun, khususnya berkumpul dengan keluarga maupun pulang ke kampung halaman. Selain mengunjungi sanak-saudara dan kerabat, setiap keluarga akan makan bersama dengan hidangan khas perayaan Musim Semi, pergi ke kelenteng, dan memberikan angpau atau hongbao pada malam Imlek.

Tradisi berbagi angpau memang kerap menjadi bagian yang ditunggu-tunggu saat Imlek tiba. “Angpau atau hongbao berarti ‘amplop merah’. Di atas amplop merah ini kerap dijumpai karakter (huruf) Han yang bermakna ‘Selamat Tahun Baru’, ‘Rezeki yang melimpah’, ‘Keberuntungan’, ‘Kebahagiaan’, dan sejenisnya. Karakter-karakter ini menunjukkan harapan baik dan kemakmuran. Pada umumnya, angpau atau hongbao ini diberikan kepada mereka yang belum menikah dan anak-anak,” ungkap Rahadjeng.

Seperti terlihat dari angpau yang berwarna merah, perayaan Imlek selalu identik dengan warna merah karena warna tersebut dianggap dapat menghalau kejahatan dan keburukan, serta mendatangkan nasib baik, kesejahteraan, dan rezeki yang berkelimpahan. Menurut Rahadjeng, hal ini sesuai dengan mitos adanya gangguan makhluk raksasa jahat bernama nian yang gemar menyantap manusia dan ternak saat musim semi. Nian baru bisa dihalau dengan kain berwarna merah dan petasan yang berbunyi nyaring.

“Mitos ini muncul pada masa Dinasti Zhou (1046-256 SM). Dalam mitos ini, konon, ada makhluk raksasa Nian yang datang ke suatu perkampungan untuk menyantap anak-anak, manusia dewasa, dan ternak. Berbagai versi tentang pengusiran Nian dari perkampungan ini muncul. Salah satunya adalah, ketika Nian datang, seorang penduduk berbaju merah menghadapinya sambil menyalakan petasan dan berhasil membuat Nian lari terbirit-birit ketakutan. Sejak saat itu, Nian tidak pernah lagi mengganggu perkampungan tersebut,” katanya.

Perubahan musim selalu menjadi perhatian besar bagi masyarakat Tiongkok. Meskipun belum dapat dipastikan sejak kapan perayaan musim semi ini dimulai, masyarakat petani tradisional Tiongkok telah terbiasa merayakan panen raya setelah bercocok tanam sejak 1600 tahun SM atau masa Dinasti Shang. Di negeri empat musim, pergantian dari musim dingin ke musim semi memberikan harapan. Musim semi membawa suasana alam yang berbeda dengan bunga-bunga bermekaran, tumbuhan menghijau, dan tunas-tunas tanaman muncul sehingga menyambut musim semi adalah hal yang membahagiakan.

Sementara di Indonesia, Imlek justru identik dengan hujan karena selalu jatuh pada bulan Januari dan Februari yang termasuk musim hujan. Rahadjeng mengatakan turunnya hujan pada perayaan Imlek hingga saat ini dikaitkan dengan berkah yang melimpah, kesejahteraan, dan panen rezeki. “Pada masa purba, masyarakat Tiongkok bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Saat itu, turunnya hujan merupakan berkah yang tiada tara, karena membuat tanaman tumbuh subur dan menghasilkan panen yang melimpah. Musim kekeringan adalah masa paceklik yang sangat merugikan para petani,” ujarnya.

Bukan hanya keterikatannya dengan hujan yang membuat perayaan Imlek di Indonesia unik, tetapi ada pula berbagai wujud akulturasi budaya Tiongkok di Indonesia yang banyak muncul saat Imlek. “Salah satu bentuk akulturasi terkait Imlek di Indonesia adalah perayaan hari ke-15 Imlek, yang disebut sebagai perayaan Cap Go Meh. Lontong Cap Go Meh kemudian menjadi populer, dan disantap saat perayaan hari ke-15 Imlek di Indonesia. Di Tiongkok, tidak ada kebiasaan menyantap lontong Cap Go Meh,” lanjut Rahadjeng.

Di samping lontong Cap Go Meh, bentuk barongsai di Indonesia juga merupakan wujud akulturasi budaya Tiongkok dan Indonesia, meskipun gerak dan akrobatnya mirip dengan tarian di Tiongkok. Rahadjeng mengatakan, “Penamaan ‘barong’ jelas dari Indonesia, karena di Tiongkok tidak dikenal penamaan ini. Sebenarnya, tarian ini disebut ‘Tarian Singa’ di Tiongkok. Tarian ini dihadirkan saat festival musim semi, bersamaan dengan tarian naga. Makna dari tarian ini adalah untuk menghalau energi buruk dan bertujuan untuk melindungi dari energi buruk.”

Untuk menandai usainya perayaan Imlek, lampion kerap menghiasi pada hari ke-15 Imlek. Lampion melambangkan penerangan, harapan yang tinggi, dan kerap kali dihiasi dengan gambar shio tahun baru tersebut. Menurut Rahadjeng, Imlek adalah masa dimulainya tahun yang baru dengan penguasa shio yang baru. Oleh sebab itu, lampion merah yang menyala terang dan dipasang pada posisi atas bertujuan untuk menandakan harapan yang tinggi akan kebaikan di tahun yang baru dalam kekuasaan shio yang baru.

Tahun Baru Imlek 2024 atau 2575 Kongzili yang jatuh pada 10 Februari 2024 merupakan Tahun Naga Kayu. Dalam kebudayaan Tiongkok, Naga merupakan makhluk mitologi yang memiliki kekuatan dahsyat karena dapat menguasai seluruh elemen di bumi, termasuk menapak di darat, terbang di udara, menyelam di air, dan dapat menyemburkan api. Hal ini menyebabkan naga kerap dianggap makhluk mitologi yang sakti dan sering diasosiasikan dengan kedudukan yang tinggi seperti Kaisar yang berkuasa atau Dewa yang memiliki kemampuan istimewa.

Rahadjeng menilai tahun Naga Kayu dapat dimaknai sebagai tahun yang membawa gelombang kekuatan dan dapat dilewati dengan ketekunan demi proses perkembangan. “Tahun Naga 2024 menjanjikan suatu masa yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Akan tetapi, gelombang kekuatan naga ini hanya dapat dihadapi oleh orang-orang yang kuat, karena orang-orang yang lemah akan lebih mudah tersisihkan. Elemen Kayu yang merupakan kombinasi tahun Naga 2024 ini melambangkan ketekunan, kegigihan, dan pertumbuhan,” katanya.

This post is also available in: English

Related Posts