Skip links

Tantangan Menjadi Manusia Dewasa di Era Digital

“Menjadi manusia dewasa merupakan tantangan besar yang perlu dihadapi generasi muda saat ini. Ketekunan dan kesabaran merupakan dua faktor kunci pendorong keberhasilan seseorang dalam menghadapi permasalahan di era digital yang serba cepat,” kata Dosen Psikologi Klinis, Prof. Dr. Elizabeth Kristi Poerwandari, M.Hum., Psikolog.

Menurutnya, kemajuan teknologi memunculkan perbedaan signifikan pada tantangan yang dihadapi generasi pendahulu dengan generasi muda saat ini. Internet yang berkembang membuat segala aktivitas menjadi mudah, misalnya saat mencari referensi untuk tugas kuliah, mahasiswa dengan mudah mengakses, membaca, dan menyalin jurnal dari mana saja tanpa perlu hadir secara fisik di perpustakaan. Di satu sisi, kondisi ini menguntungkan, namun di sisi lain hal tersebut dapat membahayakan jika tidak manfaatkan dengan baik.

Perkembangan internet mengubah perilaku manusia. Seseorang menjadi sulit untuk sabar dan tekun karena terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan cepat. Mudahnya aksesibilitas media sosial juga menjadikan tingginya kompetisi karena seseorang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Jika seseorang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan norma sosial, ia akan mengalami cancel culture, yaitu budaya pengenyahan, penolakan, atau boikot massal saat seseorang dikeluarkan dari lingkaran sosial, baik di media sosial, dunia nyata, maupun keduanya.

Dalam situasi ini, dukungan sosial yang muncul akan berbeda. Seseorang sulit mencari teman dan mudah merasa kesepian karena jarang bertemu langsung dengan orang lain. Percakapan online memiliki kedalaman yang berbeda sehingga kebutuhan relasi sulit tercapai. “Kesepian memengaruhi seseorang dalam mengenal dirinya dengan baik. Padahal, untuk menjadi dewasa, seseorang harus mengenal dirinya untuk mengetahui apa yang dibutuhkan dan diinginkannya. Tantangan yang dihadapi anak muda saat ini lebih besar karena semakin jauh dari hal-hal yang bersifat alamiah,” kata Prof. Kristi.

Oleh karena itu, katanya, pembelajaran tatap muka perlu dilakukan meski dunia sudah dimudahkan dengan akses internet. Relasi menjadi penting apalagi bagi anak muda. Meski tidak sepenuhnya offline, tatap muka tetap diperlukan karena memberikan kesempatan bagi seseorang untuk bersosialisasi. Pembelajaran tatap muka dan daring dapat dilakukan dengan perbandingan 50:50 atau 60:40, sehingga efisiensi pembelajaran dapat diperoleh dan tingkat stres mahasiswa dapat berkurang, ujarnya pada kuliah tatap muka perdana yang diadakan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (FPSi UI), di Auditorium Gedung H FPSi UI, Depok, Senin (29/8).

Dekan FPsi UI, Dr. Bagus Takwin, M.Hum., menyambut positif kegiatan perkuliahan yang mulai berjalan luring. Menurut Dr. Bagus, kegiatan perkuliahan tatap muka menandakan UI dan Indonesia telah berhasil menghadapi berbagai rintangan pandemi Covid-19 selama dua tahun lebih.

“Seluruh sivitas akademika Psikologi UI begitu antusias dan semangat mengikuti kegiatan pembelajaran secara luring. Mahasiswa yang hadir tentu harus dalam keadaan sehat secara fisik dan psikologis. Rencananya, kami akan mengevaluasi secara berkala kegiatan perkuliahan tatap muka ini. Semoga hasil evaluasi bagus sehingga perkuliahan dapat dilaksanakan secara luring sepenuhnya,” kata Dekan FPsi yang juga merupakan penulis buku Ruwita.

Kuliah umum yang berlangsung selama dua jam tersebut berjalan tertib dan kondusif, dengan menerapkan protokol kesehatan. Sebanyak 229 mahasiswa baru angkatatan 2022 yang mengenakan jaket kuning (jakun) Makara biru muda, mendengarkan pemaparan materi dan aktif bertanya pada diskusi yang dipandu oleh Wuri Prasetyawati, M.Psi., Ph.D., Psikolog. Suasana perkuliahan tahun ajaran 2022/2023 kini mulai kembali normal, tidak hanya di FPsi, tetapi juga di seluruh fakultas, sekolah, dan program pendidikan di UI.

Salah seorang mahasiswa F. Psi UI 2022, Jonathan Sabita, mengaku gembira bisa mengikuti hari perdana perkuliahan secara tatap muka. Menurut Jonathan, ada perbedaan singnifikan dari kegiatan perkuliahan luring dan daring, salah satunya mahasiswa bisa lebih menghargai dosen saat berbicara.

“Saya sangat senang bisa merasakan kuliah secara tatap muka. Sebelumnya, berdasarkan pengalaman saya selama mengikuti pembelajaran di SMA secara daring, ada beberapa pelajar yang mematikan kamera. Hal ini tentu menunjukkan sikap pelajar yang secara tidak langsung tidak menghargai keberadaan pengajar tersebut. Saya berharap dengan adanya pembelajaran tatap muka ini, hubungan antara mahasiswa dan dosen dapat terjalin dengan baik sehingga pembelajaran berjalan lancar dan lebih efektif,” kata Jonathan.