Skip links

FEB UI Bersama OPHI dan Oxford University Kaji Upaya Pengentasan Kemiskinan di Segala Bidang

Think 20 (T20) berperan sebagai “bank ilmu/ide” bagi G20. Sejalan dengan peran tersebut, T20 menjadi wadah bagi para ahli untuk menyajikan analisis dan ide-ide yang komprehensif untuk mendukung G20 dalam menghasilkan kebijakan yang konkret dan berkelanjutan terkait isu dan permasalahan dunia. Rekomendasi T20 kepada G20 didasarkan pada policy brief berbasis riset yang mempertimbangkan dan mengintegrasikan agenda-agenda think-tank dari negara anggota G20. Untuk itu, T20 memiliki sembilan gugus tugas atau task force (TF) yang dikelola secara desentralisasi menurut kepakaran masing-masing lembaga riset.

Pada Rabu (27/7), Task Force 5 (TF5) pada T20 yang menyoroti Inequality, Human Capital, dan Well-Being bersama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI), dan Oxford University, mengadakan pertemuan untuk membahas solusi atas permasalahan kemiskinan yang ada di Indonesia dan dunia. Acara ini didukung The Smeru Research Institute; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI); Bank Rakyat Indonesia; dan Astra International.

Webinar bertajuk “Multidimensional Poverty in the Midst on the Covid-19 Pandemic: A Commitment to Reducing Poverty in All Its Forms” ini diselenggarakan di The Mandarin Oriental Hotel Jakarta dan ditayangkan langsung melalui akun Youtube The Smeru Research Institute. Hadir dalam acara tersebut, Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D.; Wakil Menteri Keuangan RI, Prof. Suahasil Nazara, S.E., M.Sc., Ph.D.; Dekan FEB UI, Dr. Teguh Dartanto, M.Sc.; dan para narasumber dari berbagai negara.

Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D.

Prof. Ari, dalam pidato sambutannya mengatakan, acara ini bertujuan untuk mempertemukan para ahli dan peneliti dari Indonesia dan Oxford guna bekerja sama menciptakan solusi yang inovatif demi menjawab tantangan pasca pandemi Covid-19. “Saya berharap diskusi ini dapat menghasilkan semangat berkolaborasi—sebagaimana semangat Gotong Royong yang dikenal di Indonesia—antara peneliti Indonesia, peneliti United Kingdom, dan peneliti dunia untuk mendukung pembangunan berkelanjutan demi memulihkan Indonesia dan negara-negara G20 lainnya dari krisis akibat pandemi,” kata Prof. Ari.

Pandemi Covid-19 sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat. Sejak awal penyebarannya, muncul disrupsi di bidang ekonomi yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi. Banyak warga yang mengalami penurunan pendapatan hingga kehilangan pekerjaan. Tingkat kemiskinan pun meningkat semakin tajam. Saat pandemi berlanjut, masyarakat yang terdampak semakin banyak dan permasalahan ekonomi makin meluas di Indonesia dan dunia. Oleh karena itu, perlu dilakukan monitoring dan upaya untuk mengatasi kemiskinan sebagaimana tertulis dalam poin pertama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals).

“Solusi inofatif diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul akibat adanya kemiskinan ini. Dialog dan diskusi panel dalam acara ini akan mengeksplor terkait indeks kemiskinan multidimensi dan solusi konkret untuk memformulasikan kebijakan terbaik dalam mengatasi permasalahan kemiskinan akibat pandemi Covid-19. Kami berharap, melalui acara ini, ditemukan solusi yang relevan untuk menjawab berbagai tantangan yang ada di masyarakat dan memulihkan kondisi akibat Covid19,” kata Prof. Ari menutup pidatonya.

Berfokus pada permasalahan kemiskinan, diskusi ini dibagi dalam enam panel yang diadakan secara paralel. Panel 1 mendiskusikan kebijakan TF5 yang secara khusus menangani kemiskinan dan ketidaksetaraan multidimensi. Pada diskusi tersebut dibahas terkait peran TF5 dan tantangan yang dihadapi dari segi sosial dan ekonomi selama menjalankan kebijakan tersebut. Pada Panel 2 dibahas solusi sektor usaha sebagai upaya untuk mengakhiri kemiskinan multidimensi. Panel ini menyoroti peran sektor swasta dan kewirausahaan, terutama Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dalam pembangunan ekonomi dan pengentasan kemiskinan setelah pandemi. Dibahas pula dalam pertemuan ini, kebijakan utama yang perlu dipikirkan pemerintah untuk mendukung UMKM.

Sementara itu, Panel 3 dalam diskusi ini membicarakan Multidimensional Poverty Index (MPI) jika dimasukkan dalam kebijakan alokasi anggaran. MPI melihat struktur kemiskinan lebih luas, tidak hanya dari pendapatan atau konsumsi, tetapi juga secara multidimensi seperti keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup. Ada sepuluh indikator yang lebih komprehensif atau lebih adil dalam mengukur kemiskinan. Bagi Indonesia, MPI merupakan suatu terobosan baru dalam memotret kondisi kemiskinan karena memberikan gambaran kemiskinan yang lebih riil dibandingkan pola pendekatan konsumsi.

Panel 4 diskusi membahas kebijakan perlindungan sosial di tengah pandemi, terutama terkait pengembangan MPI di India dan Nigeria serta tantangan yang dihadapi dalam mendukung kebijakan perlindungan sosial di Indonesia. Sementara itu, relasi antara kesejahteraan manusia dan lingkungan didiskusikan pada Panel 5. Pemerintah atau sektor publik harus melaporkan dampak lingkungan dari kebijakan yang dibuat. Kesadaran akan pentingnya memperhitungkan dampak lingkungan dapat memandu kebijakan pemerintah yang berkelanjutan. Melalui  pengukuran kemiskinan multidimensi, kebijakan makro dan mikro ekonomi terkait kesejahteraan manusia dan lingkungan menjadi tepat sasaran.

Pada Panel 6 diskusi ini, dibahas terkait aplikasi pengukuran kemiskinan multidimensi untuk melihat perhitungan suara masyarakat yang didukung teknologi. Teknologi dan sumber data non-tradisional dapat mendukung pemantauan kesejahteraan di perkotaan selama pandemi. Dalam hal ini, teknologi membantu pengumpulan suara demokrasi tentang cara terbaik untuk memantau kesejahteraan selama pandemi di daerah perkotaan.

Wakil Menteri Keuangan RI, Prof. Suahasil Nazara.

Prof. Suahasil dalam kesempatan itu menyampaikan poin-poin penting dalam finance track yang ada di G20. Pertama, G20 berkomitmen untuk menggunakan semua instrumen kebijakan dalam mengelola kinerja ekonomi. Tidak hanya kebijakan pembangunan, kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan kebijakan ketenagakerjaan, G20 berkomitmen untuk membuat kebijakan yang meliputi semua instrumen. “Meski saat ini virus Covid-19 masih menghantui, kami percaya bahwa kita bisa keluar dari situasi pandemi ini,” kata Prof. Suahasil.

Selanjutnya, G20 sepakat untuk meningkatkan kesadaran, pengawasan, kesiapsiagaan terhadap situasi kesehatan global. Saat ini, ekonomi dan kesehatan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Terlebih, karena adanya pandemi, muncul koneksi antara ekonomi dan kesehatan di negara-negara dunia. G20 juga memperhatikan sustainable finance dengan selalu menggunakan perspektif menengah dan jangka panjang dalam setiap pengambilan keputusan. Misalnya, di Indonesia, sedang dikembangkan mekanisme transisi energi dari energi batu bara menjadi energi terbarukan ramah lingkungan. Namun, menurut Prof. Suahasil, keseluruhan target G20 ini hanya dapat dicapai jika Indonesia dan negara lain di dunia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, permasalahan kemiskinan harus diatasi dengan serius.

This post is also available in: English