id sipp@ui.ac.id dan humas-ui@ui.ac.id +62 21 786 7222
https://uni.sesc.com.br/rajaslot303/slot gacor hari inislot gacorslot online gacor

ILUNI UI Gelar Pidato Kebangsaan & Peresmian Gerakan Membangun Kohesi Kebangsaan

Universitas Indonesia > Berita > Berita Highlight > ILUNI UI Gelar Pidato Kebangsaan & Peresmian Gerakan Membangun Kohesi Kebangsaan

Penulis: Rizky Syahputra

Dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda ke – 93 yang jatuh pada tanggal 28 Oktober, Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) melaksanakan pidato kebangsaan serta peresmian gerakan membangun kohesi kebangsaan pada hari Kamis 28 Oktober 2021 malam secara virtual pada laman zoom meeting serta disiarkan secara live streaming melalui kanal Youtube ILUNI UI.

Kegiatan diawali dengan pembacaan sumpah ketua oleh ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Leon Alvinda Putra dan wakil ketua BEM UI

Adapun pidato kebangsaan ini disampaikan oleh ketua ILUNI UI Andre Rahadian, dalam pidato nya Andre menyatakan bahwa pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah menyebabkan bangsa-bangsa di dunia tidak terkecuali bangsa Indonesia mengalami goncangan yang amat berat baik dari sisi sistem tata kelola kesehatan maupun tata kelola ekonomi.

Menurut nya bangsa-bangsa  di dunia yang mampu eksis hingga saat ini telah mengalami berbagai macam ujian, kemampuan bertahan berawal dari sekelompok manusia yang mampu melewati beragam ujian. Kelompok ini membangun identitas bersama berdasarkan sejarah, tempat, bahasa, budaya, ideologi, pengetahuan, dan tujuan bersama. “Identitas bersama bangsa merupakan jati diri bangsa itu sendiri”, ujar Andre.

Andre menambahkan, jati diri adalah nilai bersama yang memandu anak bangsa menuju pada tujuan bangsa itu sendiri, dengan kondisi saat ini Indonesia sangat membutuhkan identitas bangsa tersebut dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman yang ada. Identitas bangsa juga membuat tata kelola bangsa menjadi lebih efektif dan efisien serta berbagai tujuan lebih mudah diselaraskan.

Andre juga menjelaskan, pandemi Covid-19 telah menguji sistem kesehatan, ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, serta mengubah tata kehidupan sehari-hari seperti dalam melaksanakan ibadah dan proses belajar mengajar.

Pandemi juga memaksa pemerintah bekerja keras dalam memerangi Covid-19 melalui berbagai kebijakan seperti social distancing, PSBB, PPKM, serta menggalakan program vaksinasi di tengah masyarakat namun pada saat yang bersamaan terjadi kesimpang siuran informasi yang berkembang di masyarakat mengenai Covid-19 dan vaksinasi sebagai akibat munculnya informasi hoax yang dibuat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang berdampak pada keraguan bahkan penolakan dari masyarakat dalam upaya penanggulangan pandemi.

Covid-19 telah membuka kotak pandora atas polarisasi bangsa yang terjadi selama ini tersimpan rapi pada kelompok anak bangsa. Ketika teknologi informasi hadir maka muncul bias berupa sinisme, kebencian, dan stigma dari satu kelompok pada kelompok lainnya. Polarisasi telah melumpuhkan kemampuan bangsa untuk keluar dari berbagai tantangan dan ancaman.

Andre juga mengungkapkan, hari ini seluruh anak bangsa menjadi saksi atas usaha pemerintah agar tetap mengedepankan harmoni demi persatuan dan kesatuan. Kohesi merupakan prasyarat mutlak untuk lahirnya kolaborasi atau gotong-royong. Revolusi industri 4.0 menawarkan kesempatan besar bagi bangsa Indonesia untuk menjadi digital nation yang memberi kesempatan gotong royong diantara anak bangsa dalam memunculkan kecerdasan bersama.

Menurut nya, gotong royong digital ini memberi peluang bagi Indonesia mengembangkan ekonomi yang berbagi, inklusif, dan berkeadilan. Namun, polarisasi masih menjadi hambatan utama dalam membangun kohesi dan hingga saat ini belum terlihat upaya untuk menghentikan polarisasi tersebut.

Disaat bersamaan, juga terjadi persaingan global yang semakin ketat sehingga bangsa-bangsa di dunia harus bersaing dengan berbasis kepada inovasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Berbagai upaya untuk mengurangi polarisasi terus dilakukan untuk mengubah menjadi sebuah harmoni.

Andre menambahkan, sebaliknya segelintir oknum elit justru memanfatkan isu polarisasi untuk mengejar kepentingan pribadi dan kelompok dan terus mendengungkan kampanye ketakutan di ruang publik. Polarisasi menimbulkan tiga masalah utama yaitu, hilang nya harmoni di antara warga negara, upaya dominasi oknum elit untuk mendorong kepentingan pribadi dan kelompok di atas kepentingan publik dan negara, serta hilang nya posisi Indonesia sebagai negara yang demokratis dan bebas korupsi.

Berawal dari permasalahan tersebut, pihaknya mengajak segenap elemen bangsa untuk bersama menjawab tantangan ancaman polarisasi yang terjadi di Indonesia. Salah satu contoh kohesi yang baik adalah dengan melakukan resiliensi komunikasi warga dalam menghadapi Covid-19.

Resiliensi tidak terlepas dari national imperative yang merupakan bagian dari identitas dari suatu bangsa. Bagian terpenting dari suatu resiliensi bangsa adalah keikutsertaan segenap anak bangsa dalam menjaga persatuan dan kesatuan.

Selain itu pengalaman best practice dalam tata kelola pemerintahan di berbagai belahan dunia dalam menghadapi krisis dapat menjadi rujukan dalam menghadapi masalah yang terjadi di dalam negeri. Praktek resiliensi komunitas membutuhkan dua infrastruktur utama yaitu infrastruktur fisik dan infrastruktur sosial salah satu contoh pada pandemi covid-19 saat ini yang mewajibkan penggunaan masker, upaya tersebut akan berhasil jika pengorganisasian dalam komunitas terlaksana dengan baik, rapi, sistematis, dan terstruktur.

“Politik identitas selalu dimunculkan oleh segelintir untuk mencapai tujuan jangka pendek sehingga memunculkan polarisasi di akar rumput yang berpotensi memecah belah bangsa”, ujar nya. Muncul nya buzzer di media sosial juga semakin mempertajam polarisasi di masyarakat, ditambah dengan aksi saling menjatuhkan yang dilakukan oleh oknum elit lokal maupun nasional yang semakin menghancurkan sendi – sendi kehidupan bangsa.

Pandemi telah membuka mata bahwa pemerintah yang berkualitas merupakan visi yang harus dimiliki oleh semua bangsa untuk keluar dari krisis, resiliensi akan terwujud jika pemangku kebijakan memiliki tata kelola yang baik serta di dukung oleh segenap anak bangsa.

Pihaknya berharap pemerintah terus melakukan transformasi agar mampu keluar dari krisis dan membuat bangsa menjadi lebih maju yang sesuai dengan cita – cita bapak pendiri bangsa, cita – cita konstitusi undang – undang dasar 1945, serta dengan pancasila.

Maka dari itu, dalam menjaga kohesi tersebut ILUNI UI mencoba menjawab sebagai connector dalam menjawab narasi kebangsaan bersama stakeholder, komunitas, mahasiswa, dan masyarakat melalui berbagai kegiatan. Salah satu contoh kegiatan yaitu ILUNI tanggap Covid-19 yang telah dilaksanakan dari bulan Februari 2020 hingga saat ini dan telah melaksanakan 145 kegiatan yang melibatkan puluhan ribu peserta.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama audiens yang hadir melalui zoom meeting dan penampilan seni virtual oleh anggota ILUNI UI

Related Posts