Skip links

Maksimalkan Potensi Ekonomi Digital, UI Perkuat Peran Indonesia dalam Presidensi G20

Dalam memperkuat peran Indonesia dalam Presidensi G20, Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan konferensi internasional yang bertujuan sebagai forum pertukaran ide, pada 15-16 Juni 2022. Konferensi internasional yang dilaksanakan secara hybrid ini, mempertemukan para ilmuwan dan pemangku kebijakan untuk bersama-sama merumuskan policy brief dalam mendukung Presidensi G20 2022. Salah satu isu yang menjadi pembahasan dalam diskusi panel antara peneliti adalah transformasi digital dan Ekonomi.

Perkembangan teknologi digital saat ini turut membawa perubahan besar pada struktur ekonomi dan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sehingga, digitalisasi menghasilkan potensi sekaligus disrupsi bagi pemerintah dan masyarakat global. Kebutuhan untuk memaksimalkan potensi ekonomi digital mendorong perlunya pemahaman lebih lanjut dan mendalam akan masalah digitalisasi ini dalam G20.

Dr. Herdito Sandi Pratama, M.Hum

“Menariknya, ketika kita mengalami pandemi Covid-19 selama dua tahun belakangan, dalam penelitian kami pandemi ini ternyata menguak kembali fakta tentang ketimpangan masyarakat. Termasuk utamanya adalah yang kami sebut sebagai ketimpangan digital,” ujar Dr. Herdito Sandi Pratama, M.Hum., dalam memaparkan penelitiannya yang berjudul Peningkatan Keamanan dan Literasi Digital untuk Mewujudkan Kesejahteraan Global.

Sementara itu, masa pandemi Covid-19 ini juga menimbulkan kompleksitas dan ketidakpastian pada rantai pasok pangan pertanian. Terutama pada bahan pangan pokok yang menjadi lebih tinggi akibat adanya berbagai pembatasan sosial yang menyebabkan terganggunya aktivitas produksi dan distribusi, serta berakibat pada krisis pangan. Hal ini disampaikan Ratih Dyah Kusumastuti, S.T., M.T., Ph.D., dalam pemaparannya terkait dengan digitalisasi rantai pasok bahan pangan pokok untuk meminimalkan dampak disrupsi.

Ratih Dyah Kusumastuti, S.T., M.T., Ph.D

“Pada tahun 2021, Indonesia menempati urutan ke 69 dari 113 negara pada Global Food Security Index (The Economist Group, 2022), dengan skor keseluruhan sebesar 59,2, turun sebesar 2,2 poin dari tahun 2020. Disrupsi pada rantai pasok pangan pertanian, terutama pada pangan pokok berdampak signifikan pada keamanan pangan dan hajat hidup masyarakat,” ujar Ratih.

Lebih lanjut Ratih mengatakan, policy brief yang dihasilkan akan memuat tentang kebijakan digitalisasi rantai pasok bahan pangan pokok hasil pertanian dengan mengimplementasikan teknologi blockchain untuk meningkatkan ketangguhan rantai pasok sehingga menjamin ketersediaan bahan pangan pokok bagi masyarakat.

Selain itu, berbicara mengenai digitalisasi dan ekonomi, Anna Amalyah Agus, S.E., M.B.A., mengatakan, 64,2 Juta usaha mikro kecil menengah (UMKM) berkontribusi terhadap 60,51% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan 24% UMKM sudah memanfaatkan e-commerce. Untuk itu, ia dan tim melakukan penelitian tentang alternatif model bisnis digitalisasi UMKM dan penciptaan iklim persaingan usaha sehat bisnis e-commerce di Indonesia.

Dari hasi penelitian tersebut, Anna mengatakan salah satu yang menjadi catatan penting adalah belum adanya pembaharuan terkait roadmap bisnis digital atau e-commerce yang masih diserahkan pada mekanisme pasar.

Pada hari pertama diskusi panel ini, turut hadir beberapa peneliti yang mempresentasikan penelitiannya, yaitu Dr. Edmon Makarim, S.Kom., S.H., LL.M., (Aspek Ketahanan Digital Tata Kelola Aliran Data Global); Shalahuddin Haikal, S.E., M.M., LL.M. (Kerangka Kebijakan dan Regulasi Pengembangan Layanan Urun Dana (Securities Crowdfunding) yang Berkelanjutan Guna Mendukung Perekonomian Nasional Dan Melindungi Kepentingan Investor); Dr. LG. Saraswati Putri, S.Hum., M.Hum., (Pemberdayaan Perempuan Pelaku UMKM Pasca Pandemi Covid-19); Dra. Reni Chandriachsja, MPP., Ph.D. (Kolaborasi di antara Negara-Negara G20 untuk Pengarusutamaan Partisipasi Kaum Muda dalam Transformasi Digital dan Mempromosikan Pembangunan Ekonomi yang Berkelanjutan dan Inklusif di Indonesia); Dr. Tjut Rifameutia Umar Ali, M.A., (Mindfulness untuk Kesehatan Mental dan Wellbeing Kaum Muda di Era Transformasi Digital); Prof. Sutanto, Ph.D. (Menempatkan Digitalisasi Rantai-Pasok dalam Kebijakan G20); dan Vishnu Juwono, S.E., M.I.A., Ph.D. (Rekomendasi Kebijakan di Sektor Renewable Energy: Regulasi, Transparansi dan Partisipasi Publik).

Merumuskan rekomendasi kebijakan yang berbasis data dan ilmu pengetahuan merupakan bentuk kontribusi para ilmuwan dalam menerjemahkan hasil-hasil penelitian hingga memiliki implikasi praktis bagi para pemangku kebijakan dan juga masyarakat.

This post is also available in: English