Skip links

Nursing First Aid FIK UI Juara Kompetisi Tatalaksana Kegawatdaruratan Jantung dan Trauma

Holivia Almira Jacinta (Ketua Tim), Deva Anggriawan, dan Latifah Fajri Nur Azizah, yang tergabung dalam Nursing First Aid (NuFA) Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) membukukan prestasi di ajang Kompetisi Tatalaksana Kegawatdaruratan Pre-Hospital pada Kegawatdaruratan Jantung dan Trauma, yang diselenggarakan Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (Hipgabi) Jawa Timur, di Universitas Airlangga, pada Sabtu (2/7). Kompetisi ini diikuti oleh 108 tim yang beranggotakan mahasiswa keperawatan dari jalur reguler (D3, S1, dan profesi), relawan, serta satuan kegiatan mahasiswa.

Kompetisi tersebut dibagi dalam dua kategori, yaitu Penanganan Kegawatdaruratan Jantung dan Penanganan Kegawatdaruratan Trauma. Dari 68 tim yang berkompetisi pada kategori Penanganan Kegawatdaruratan Jantung, tim dari FIK UI berhasil meraih Juara 3.

Kompetisi Tatalaksana Kegawatdaruratan Jantung melihat cara penanganan henti jantung dengan resusitasi jantung paru, sedangkan Tatalaksana Kegawatdaruratan Trauma melihat tindakan pertama pada cedera muskoloskeletal yang biasanya dialami korban kecelakaan. Kompetisi ini menilai bagaimana cara pemberian pertolongan pertama pada kasus henti jantung dan menjaga korban tetap stabil sebelum mendapat perawatan lebih lanjut di rumah sakit. Pada kompetisi tersebut juga dinilai cara tim berkomunikasi dan membagi peran dalam mengangani kasus trauma dan henti jantung.

Saat menangani korban, sebagai ketua tim, Holivia bertugas mengkaji dan mengatur penatalaksanaan sesuai algoritma (alur penanganan) American Heart Association. Pertama, ketua tim harus memastikan keamanan tim penolong dengan melihat keadaan sekitar—jika dalam kondisi pandemi, tim harus mengenakan hazmat/APD dan masker. Selanjutnya, korban dan lingkungan sekitar juga harus diamankan. Tim akan membuka jalan jika terjadi kerumunan agar korban dapat bernapas.

Pengecekan awal dimaksudkan untuk memeriksa apakah korban dapat merespons perintah tim penolong. Jika korban tidak dapat merespons, pemeriksaan dilanjutkan pada sirkulasi, jalan napas, serta pernapasan (sistematika CAB dalam resusitasi jantung paru). Pemeriksaan dilakukan secara simultan selama 10 detik untuk menemukan denyut nadi. Setelah dilakukan pengecekan awal, selanjutnya Deva dan Latifah bertugas menangani logistik (memegang alat untuk memberikan bantuan bernapas dan menggunakan defibrilator), membuka jalan, dan berfokus melakukan kompresi dada.

Hal yang harus diketahui oleh tim penolong saat mengidentifikasi korban adalah perbedaan antara penderita serangan jantung dan henti jantung. Serangan jantung terjadi karena pembuluh darah tersumbat. Pada kondisi ini, pasien masih bisa merespons pada situasi tertentu dan denyut nadi pasien masih ada. Sementara itu, pada kasus henti jantung, adanya masalah kelistrikan pada jantung yang dapat dicek dengan alat automated external defibrillator (AED). Jika korban unresponsive dan denyut nadi tidak terdeteksi, dapat dipastikan pasien mengalami henti jantung.

Prestasi yang diraih Holivia dan tim tidak terlepas dari dukungan para dosen pembimbing FIK UI yang mendampingi selama persiapan dan pelaksanaan lomba. Dosen pembimbing tersebut adalah Muhamad Adam, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB.; Ns. Chiyar Edison, S.Kep., M.Sc.; Ns. Rona Cahyantari Merduaty, S.Kep., M.AdvN; dan Ns. Indah Permata Sari, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Kom.

“Kompetisi ini melatih mental tenaga kesehatan ketika berada di bawah tekanan. Kami juga menjadi paham situasi gawat darurat yang mungkin terjadi. Kami mengucapkan terima kasih kepada FIK UI dan para dosen pembimbing yang membantu selama kompetisi ini berlangsung,” kata Holivia mewakili timnya.

Melalui lomba ini, tim FIK UI dapat mengukur sejauh mana kemampuan mereka di bidang kegawatdaruratan cardiac pre-hospital. Selain itu, kontingen yang berangkat difasilitasi FIK dan NuFA untuk dilatih oleh dosen yang sudah advance di bidang ini sehingga para mahasiswa tertarik untuk mengikuti kompetisi ini. Mereka sadar peran dan komunikasi yang responsif antar anggota menjadi kunci keberhasilan NuFA. Oleh karena itu, tim FIK UI terus berlatih demi memiliki ketajaman intuisi saat menangani kasus.

This post is also available in: English