iden sipp@ui.ac.id dan humas-ui@ui.ac.id +62 21 786 7222
https://uni.sesc.com.br/rajaslot303/slot gacor hari inislot gacorslot online gacor

RIset Kolaboratif dan Penetapan Cukai Jadi Solusi Pengurangan Sampah Plastik

Universitas Indonesia > Berita > RIset Kolaboratif dan Penetapan Cukai Jadi Solusi Pengurangan Sampah Plastik

Depok, 17 Mei 2024. Center for Sustainability and Waste Management (CSWM) Universitas Indonesia (UI) bersama Himpunan Polimer Indonesia (HPI) dan Plastic and Rubber Indonesia (PRI) mengadakan focus group discussion (FGD) terkait permasalahan sampah plastik di Indonesia. Diskusi bertema “Plastik (Bocor) di Sungaimu dan Bagaimana Cukainya?” ini berlangsung di Fakultas Teknik UI, pada Rabu (8/5). Hadir pada kegiatan tersebut, perwakilan dari Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Asosiasi Produsen Air Minum Kemasan Nasional (ASPARMINAS).

Direktur CSWM UI sekaligus Ketua HPI, Prof. Dr. Ir. M. Chalid, S.Si., M.Sc., menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya sampah plastik. “Penanggulangan sampah plastik merupakan tanggung jawab dari seluruh pemangku kepentingan baik dari sisi industri, pembuat kebijakan, serta masyarakat sebagai konsumen dari produk yang dihasilkan. Oleh karena itu, riset terkait pengelolaan sampah perlu dilakukan agar penanganan sampah dapat dilakukan secara tepat,” ujar Prof. Chalid.

Riset terkait sampah plastik dilakukan oleh CSWM UI bersama Net Zero Waste Management Consortium dan Komunitas Peduli Ciliwung. Pada kesempatan itu, Dosen Teknik Lingkungan FTUI, Dr. Astryd Viandila Dahlan, dan perwakilan INAPLAS, Fajar Budiono, memaparkan hasil kajian mengenai jenis dan bentuk sampah yang ada di Sungai Ciliwung. Menurut Dr. Astryd, Sungai ini dipilih karena merupakan sumber air bagi masyarakat, namun tercemar oleh limbah padat (sampah) ataupun limbah cair domestik.

Pada penelitian tersebut, sampah untuk sampel penelitian diambil dari beberapa lokasi, antara lain Bendungan Katulampa, Sukahati, Jembatan Panus, Pintu Air Manggarai, Pintu Air Muara Angke, dan Pintu Air Ancol. Dari enam titik lokasi tersebut, terkumpul 32.364 sampah yang dikategorikan dalam sepuluh jenis, tujuh di antaranya adalah material polimer berupa kain, karet, kayu, kertas, logam, plastik, dan gabus.

Dari keseluruhannya, sampah berbahan dasar plastik, kain, dan gabus mendominasi. Sampah plastik banyak ditemukan di berbagai titik, baik dalam keadaan utuh maupun serpihan dengan total mencapai 19.466 buah. Angka tersebut setara 67,88% dari keseluruhan sampah yang dikumpulkan dan dipilah. Adapun sampah bungkus dan sachet plastik yang berhasil dipilah masing-masing mencapai 3.974 dan 3.324 sampah atau sekitar 13% dan 11% dari total. Sementara itu, sampah gabus dan kain berjumlah 3,9%, sampah limbah B3 1,7%, dan sampah kayu sebesar 0,6%.

Fajar Budiyono dari INAPLAS menyebut bahwa pengelolaan sampah di Indonesia masih dilakukan dengan cara diangkut dan ditimbun (68%), dikubur (9%), didaur ulang (6%), dibakar (5%), bahkan tidak dikelola (7%). Sampah organik memiliki persentase paling banyak di Indonesia yang mencapai 60%. Sementara, jenis sampah lainnya, seperti logam, karet, kain, dan kaca sebanyak 17%, sampah kertas 9%, dan sampah plastik 14%.

Untuk mengontrol konsumsi barang yang berdampak negatif pada lingkungan, pemerintah menerapkan aturan cukai plastik. Plastik konvensional dikenakan cukai sebesar Rp30.000/kg. Plastik dengan kandungan prodegradant dikenakan 50% tarif cukai, sedangkan plastik biogedradable tidak dikenakan tarif cukai. Ia mengatakan, “Penetapan cukai plastik merupakan upaya untuk menekan penggunaan plastik, khususnya oleh pelaku industri. Hal ini karena ada jenis plastik yang tidak dapat didaur ulang, seperti plastik dengan kandungan prodegradant. Bahkan, di beberapa negara, penggunaan plastik ini telah dilarang.”

Temuan kajian ini diharapkan dapat menimbulkan kesadaran bagi produsen dan konsumen agar dapat mengolah sampah yang dihasilkan, sehingga tidak menimbulkan masalah berkelanjutan. “Penelitian ini adalah langkah awal. Oleh karena itu, akan dilakukan penelitian lanjutan, terutama terkait hasil analisa segmentasi sampah berdasarkan produsen-nya,” ujar Dr. Astryd.

Related Posts