Skip links

Diskusi Publik BEM Farmasi UI Kaji Penelitian dan Pengembangan Antivirus sebagai Strategi Kuratif COvid-19

Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Badan POM, apt. Dra. Togi Junice Hutadjulu, MHA

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia (FFUI), mengadakan diskusi publik untuk mengkaji serangkaian penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan oleh tenaga medis sebagai strategi kuratif Covid-19 dengan menghadirkan Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Badan POM, apt. Dra. Togi Junice Hutadjulu, MHA. “Saat ini terdapat empat jenis obat yang telah mendapatkan izin EUA (Emergency Use Authorization) atau sebagai obat terapi Covid-19 di Indonesia. EUA merupakan persetujuan penggunaan obat selama kondisi kedaruratan kesehatan masyarakat. Keempat obat tersebut adalah Favipiravir, Remdesivir, Regdanvimab, dan Molnupiravir. Lalu dalam Informatorium Edisi 3 yang diterbitkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tercantum nama-nama obat terapi Covid-19 yang termasuk golongan antivirus, antara lain Favipiravir, Remdesivir, Molnupiravir, Proksalutamid, dan Oseltamivir,” ujar Togi.

Meskipun data dari BPOM menunjukkan bahwa industri farmasi di Indonesia sedang dalam tahap persiapan produksi obat antivirus Covid-19, dan sebagian diantaranya telah aktif memproduksi obat tersebut, Togi mengingatkan bahwa tidak ada obat yang benar-benar aman. Hal itu karena setiap obat pasti memiliki efek samping. Oleh sebab itu, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan laman situs resmi BPOM atau aplikasi “Halo BPOM” untuk memperoleh informasi yang akurat terkait obat-obatan, sehingga terhindar dari hoaks.

Prof. Dr. apt. Maksum Radji

Narasumber lain, Prof. Dr. apt. Maksum Radji, menjelaskan bahwa sebagian besar obat antivirus yang sedang dikembangkan, seperti Favipiravir dan Remdesivir memiliki mekanisme kerja yang ditargetkan pada RdRp (RNA-dependent RNA polymerase) virus Covid-19, sehingga akan menghambat proses replikasi dari virus tersebut. “Selain antivirus, terdapat pula tanaman herbal yang berpotensi menjadi pilihan obat terapi Covid-19. Dalam kolaborasi penelitian oleh UI dan IPB, disebutkan bahwa golongan senyawa yang berpotensi menjadi suplemen dalam penanganan Covid-19 adalah hesperidin, rhamnetin, kaempferol, quercetin, dan myricetin yang terkandung dalam buah jambu biji, kulit jeruk, serta daun kelor,“ kata Prof. Maksum.

Pada pemaparannya, ia juga menjelaskan terkait algoritma terapi Covid-19 yang berisi tatalaksana penanganan Covid-19 beserta langkah pengobatannya. Diskusi publik yang diselenggarakan BEM FFUI tersebut bertujuan agar industri farmasi di Indonesia semakin mandiri dalam memproduksi obat antivirus Covid-19.

Adanya kolaborasi antar peneliti juga diperlukan untuk terus mengkaji dan mengembangkan materi potensial yang dapat digunakan sebagai cikal bakal obat Covid-19, termasuk di dalamnya tanaman herbal.

Dengan beredarnya berbagai jenis obat Covid-19, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menyaring informasi yang dapat dilakukan dengan membaca laman situs resmi BPOM selaku sumber yang akurat dan pihak yang berwenang dalam mengatur regulasi obat dan makanan di Indonesia.

Hadir dalam acara tersebut Dekan Fakultas Farmasi UI, Prof. Dr. Apt. Arry Yanuar, M.Si;  apt. Dra. Togi Junice Hutadjulu, MHA. selaku Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Badan POM, apt. Dra. Togi Junice Hutadjulu; dan Guru Besar Farmasi FIKES UEU dan Purnabakti Guru Besar FF UI, Prof. Dr. apt. Maksum Radji, M.Biomed. Acara yang diadakan pada Sabtu (21/6) pukul 13.10 WIB ini diselenggarakan secara daring melalui zoom dan dapat diakses secara umum di kanal youtube BEM Fakultas Farmasi UI.

This post is also available in: English